How to cite:
Ahmad, Mustamin (2022) Strategi Guru Tahfidz dalam pembinaan akhlak SMP IT Darurrahman
Makassar, Syntax Idea, 4(4), https://doi.org/ 10.36418/syntax-idea.v4i4.1827
E-ISSN:
2684-883X
Published by:
Ridwan Institute
Syntax Idea: pISSN: 2684-6853 e-ISSN: 2684-883X
Vol.4, No.4, April 2022
STRATEGI GURU TAHFIDZ DALAM PEMBINAAN AKHLAK SMP IT
DARURRAHMAN MAKASSAR
Ahmad, Mustamin
Universitas Muslim Indonesia Makassar, Indonesia
Abstrak
Penelitian ini merupakan pembahasan yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana
strategi guru tahfidz dalam pembinaan akhlak pada peserta didik di SMP IT
Darurrahman Makassar dan untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat
dalam pembinaan akhlak pada peserta didik di SMP IT Darurrahman Makassar.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif,
yaitu jenis penelitian yang menekankan pada aspek pemahaman secara mendalam
terhadap suatu masalah daripada melihat permasalahan untuk penelitian
generalisasi. Adapun lokasi penelitian dilaksanakan SMP IT Darurrahman
Makassar. Teknik pengumpulan data yang di gunakan peneliti yaitu observasi,
wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yaitu pengumpulan data, reduksi
data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verivikasi Adapun sumber data
dalam penelitian ini Guru Tahfidz, Kepala sekolah dan peserta didik SMP IT
Darurrahman. Hasil penelitian yang diperoleh dari Strategi Guru Tahfidz Dalam
Pembinaan Akhlak Pada Peserta Didik Di SMP IT Darurrahman Makassar yaitu:
Strategi Guru Tahfidz Dalam Pembinaan Akhlak SMP IT Dasrurrahman Makassar
diantaranya: melakukan strategi pembinaan dan pengawasan langsung,
mengajarkan tentang Adab kepada peserta didik, memberikan hukuman bagi
peserta didik yang melanggar, melakukan pembiasaan yang baik dan memberikan
teladan yang baik. Faktor pendukung dan penghambat dalam pembinaan akhlak di
SMP IT Darurrahman Makassar yaitu: a. Faktor pendukung yaitu Adanya motivasi
dari guru dan peserta didik, Adanya fasilitas yang memadai, Adanya dukungan dari
orangtua. b. Faktor penghambat yaitu faktor Internal yaitu timbul dari dalam diri
peserta didik dan faktor Eksternal seperti faktor keluarga dan faktor lingkungan.
Kata Kunci: strategi; guru tahfidz; pembinaan akhlak
Abstract
This research is a discussion that aims to find out how the strategy of tahfidz
teachers in moral coaching in students at SMP IT Darurrahman Makassar and to
find out the supporting and inhibitory factors in moral coaching in students at SMP
IT Darurrahman Makassar. The type of research used in this research is qualitative
research, which is a type of research that emphasizes the aspect of understanding
deeply of a problem rather than looking at problems for generalization research.
The research location was carried out by SMP IT Darurrahman Makassar. Data
collection techniques used by researchers are observation, interviews and
documentation. Data analysis techniques are data collection, data reduction, data
Strategi guru tahfidz dalam pembinaan akhlak SMP IT Darurrahman Makassar
Syntax Idea, Vol.4, No.4, April 2022 725
presentation and conclusion/verivikasi drawdown As for the data sources in this
study, Guru Tahfidz, Principal and students of Darurrahman IT Junior High
School. The results of the research obtained from the Tahfidz Teacher Strategy in
Moral Development in Students at Darurrahman Makassar IT Junior High School
are: Tahfidz Teacher Strategy in The Development of Morals of Junior High School
DASRurrahman Makassar include: conducting coaching strategies and direct
supervision, teaching about Adab to students, providing punishment for students
who violate, doing good habituation and setting a good example. Supporting
factors and obstacles in moral coaching at SMP IT Darurrahman Makassar are: a.
Supporting factors are the motivation of teachers and students, the existence of
adequate facilities, the presence of support from parents. b. Inhibiting factors are
internal factors that arise from within the learner and external factors such as
family factors and environmental factors.
Keywords: strategy; tahfidz teacher; moral development
Received: 2021-12-22; Accepted: 2022-01-05; Published: 2022-04-20
Pendahuluan
Di era globalisasi ini, banyak sekali kesulitan yang harus dihadapi, khususnya di
bidang pesersekolahan. Oleh karena itu, para ahli pendidikan dan otoritas publik perlu
mengharapkan dan proaktif dalam mempersiapkan SDM yang terampil sehingga tidak
mudah terpengaruh dengan hal-hal buruk. Adanya pendidikan juga akan membantu
seseorang untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Hal ini telah diatur dalam
pelaksanaan pendidikan di Indonesia sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang
Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 pada pasal 2 pasal 3 yang berbunyi:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab (Fitriyani, 2018).
Sebagaimana yang dijelaskan juga oleh Kristiawan, bahwa pendidikan berarti
membina kemampuan peserta didik menjadi pribadi yang mengenal dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki pribadi yang terhormat, kokoh, terpelajar,
imajinatif, mandiri dan menjadi penduduk mayoritas dan cakap. Menurut Al-Ghazali,
dalam perspektif Islam, pendidik adalah gerakan tepat yang menghasilkan perubahan
moderat dalam perilaku manusia atau upaya untuk menghilangkan etika yang buruk dan
menanamkan etika yang besar (Lubis & Asry, 2020).
Pendidikan pada dasarnya merupakan kebutuhan dan arahan yang kritis untuk
menjamin pergantian peristiwa dan ketahanan bangsa dan negara untuk mewujudkan
SDM yang unggul. Pendidikan penting sebagai usaha untuk mengembangkan dan
memupuk kemungkinan intrinsik, baik fisik maupun mendalam, sesuai dengan kualitas
yang ada di mata publik dan budaya (Alwasilah, Suryadi, & Karyono, 2022).
Ahmad, Mustamin
726 Syntax Idea, Vol. 4, No. 4. April 2022
Sekolah sebagai organisasi instruktif yang memiliki kewajiban besar untuk
mencapai tujuan seperti yang digambarkan sebelumnya. Karena di lingkungan
sekolahlah standar material dibuat untuk mengelola posisi dan pekerjaan individu sesuai
dengan tujuan instruktif yang akan dicapai nantinya. Dalam Islamic juga dijelaskan
bahwa aspek pendidikan tidak hanya berkaitan dengan nilai-nilai yang melihat peserta
didik dari otoritas informasi material adil, namun di samping kepentingan dalam
kebajikan dan spritual yang di embannya untuk di transformasikan ke arah
pembentukan kepribadian yang sesuai dengan ajaran Islam (Kurhayadi, Rohayati, &
Bambang Sucipto, 2020).
Pendidik adalah komponen yang sangat dominan dan paling penting dalam
pelatihan konvensional secara keseluruhan karena untuk peserta didik, pendidik sering
menjadi tokoh yang patut dipuji dan secara mengejutkan menjadi tokoh yang menonjol,
di sekolah pendidik adalah komponen yang sangat mempengaruhi pencapaian tujuan
pembelajaran. Keberhasilan pendidikan umumnya dikendalikan oleh status instruktur
untuk mengatur siswa mereka melalui pelatihan dan pembelajaran, bagaimanapun,
situasi penting pendidik untuk bekerja pada sifat hasil instruktif sangat dipengaruhi oleh
kapasitas ahli instruktur dan mutu kinerjanya (Hardiyanto, 2018).
Untuk membentuk akhlak peserta didik yang baik, maka dipengaruhi oleh
beberapa faktor, diantaranya yaitu guru dalam melakukan pembinaan, dimana kehadiran
seorang guru baik secara langsung maupun secara tidak langsung mampu
mempengaruhi peserta didik dilingkup sekolah. Pembinaan akhlak khususnya pada
tingkat pendidikan sekolah menengah pertama sangat penting untuk diperhatikan.
Mengingat bahwa pada fase usia antara 13 sampai 16 tahun merupakan fase yang
mereka masih belum berdaya, perasaan mereka masih temperamental dan tidak
memiliki pegangan yang cukup ketat sehingga mereka tidak sulit untuk menghadapi
guncangan mental yang dapat membuat mereka bingung tentang mana yang hebat dan
mana yang mengerikan bagi mereka (Ahsanulkhaq, 2019).
Berdasarkan hasil observasi penulis di SMP IT Darurrahman Makassar, dengan
melakukan wawancara bersama guru tahfidz yang sering dipanggil Ummu Amanah,
menjelaskan bahwa akhlak para peserta didik di sekolah tersebut masih tergolong
kurang baik, hal tersebut terlihat dari seringnya orang tua peserta didik yang
mengeluhkan kepada pihak sekolah bahwa anak mereka ketika berada dirumah
memiliki adab yang kurang baik, namun ketika dilingkungan sekolah mereka justru
lebih takut dengan gurunya. Selain itu, pada titik ketika pendidik mengklarifikasi subjek
di depan kelas. Ada sebagian siswa yang sering mengabaikan pelajaran yang diberikan
dan cenderung mengganggu temannya ketika proses pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan pemaparan masalah yang telah disampaikan sebelumnya. maka dapat
disimpulkan bahwa permasalahan terkait akhlak pada peserta didik sangat perlu menjadi
perhatian. Mengingat pendidikan akhlak sangat penting untuk diterapkan sejak dini
sehingga kedepannya peserta didik dapat terhindari dari kehidupan yang kurang baik
dan suram. Sehingga diperlukan strategi atau cara yang tepat untuk diterapkan kepada
peserta didik sehingga akhlak yang dimiliki dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Strategi guru tahfidz dalam pembinaan akhlak SMP IT Darurrahman Makassar
Syntax Idea, Vol.4, No.4, April 2022 727
Sehingga penulis tertarik untuk meneliti secara mendalam terkait “Strategi Guru
Tahfidz Dalam Pembinaan Akhlak Peserta Didik Di SMP IT Darurrahman Makassar”.
Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif,
yaitu jenis pemeriksaan yang menekankan pemahaman luar dan dalam dari suatu
masalah daripada memeriksa masalah untuk penelitian spekulasi. Maksud dari
penelitian kualitatif ini adalah hasil dari penelitian mendeskripsikan objek secara
alamiah, faktual dan sistematis mengenai strategi guru tahfidz dalam pembinaan akhlak
pada peserta didik di SMP IT Darurrahman Makassar. Lokasi penelitian ialah sebuah
letak dilakasanakan studi dalam mendapatkan data informasi yang dibutuhkan yang
berghubungan pada persoalan dan kebutuhan penelitian. Adapun penelitian ini
dilaksanakan di SMP IT Darurrahman Makassar yang berlokasi di Jl Bontoa Raya
nomor 54A, Kelurahan Parangloe, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar. Alasan
peneliti memilih lokasi penelitian ini karena sesuai dengan permasalahan yang sedang
diteliti. Adapun waktu pelaksanaan penelitian ini selama kurang lebih 2 bulan. Fokus
penelitian digunakan untuk memberikan pembatasan penelitian untuk memilih data
yang relevan atau menentukan konsentrasi yang menjadi objek penelitian untuk lebih
mempermudah peneliti dan menyelesaikan penelitiannya, serta untuk menghindari
penafsiran secara meluas. Yang menjadi fokus penelitian ini difokuskan pada guru
tahfidz dan peserta didik yang berjumlah 10 orang yang terdiri dari lima wanita dan
lima pria. Teknik pengumpulan data adalah teknik yang digunakan untuk
mengumpulkan informasi, mengumpulkan, atau mengumpulkan informasi penelitian.
Adapun teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan Dokumentasi.
Analisis data dalam eksplorasi subjektif dilakukan selama proses pengumpulan
informasi, dan setelah selesainya pengumpulan informasi dalam periode tertentu. Miles
dan Huberman merekomendasikan agar latihan dalam pemeriksaan informasi subjektif
dilakukan secara intuitif dan terjadi terus-menerus sampai selesai. Menurut Miles dan
Huberman ada tiga macam latihan dalam pemeriksaan informasi subjektif. Menurut
Miles dan Huberman ada tiga macam kegiatan dalam dalam analisis data kualitatif.
Adapun teknik analisis data yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan
penarikan kesimpulan atau verifikasi.
Hasil dan Pembahasan
1. Starategi guru tahfidz dalam pembinaan akhlak
a. Melakukan Strategi Pendampingan Dan Pengawasan Langsung
Strategi sangat urgent di laksanakan oleh guru untuk siswa Karena dengan
memberikan bantuan, guru akan melihat bagaimana siswa dan akan lebih
memahami mereka. Sehingga guru efektif menangani masalah yang terjadi ketika
siswa melakukan pelanggaran. Dengan asumsi bahwa guru dan siswa memiliki
kedekatan, secara tidak langsung dapat mencegah siswa melakukan kesalahan
(Maemunawati & Alif, 2020).
Ahmad, Mustamin
728 Syntax Idea, Vol. 4, No. 4. April 2022
Wawancara wawancara ibu Amanah sebagai pendidik tahfidz SMP IT
Darurrahman Makassar beliau mengatakan bahwa: “dalam pembinaan akhlak
Gerakan luar biasa ini dilakukan oleh pendidik terhadap murid-muridnya jika
seorang murid telah melampaui batasan pelanggaran yang telah dia ajukan seperti
berkelahi, merokok, dan berkencan. Hal ini dilakukan oleh seorang pendidik
dengan tujuan agar siswa atau siswi dapat berubah baik dari segi penampilan,
wacana, perilaku, kebiasaan terhadap pengajar, wali, siswa dan masyarakat.
Dalam perubahan moral, les sangat penting di mana kita harus pergi dengan siswa
yang etikanya buruk.
Hasil wawancara dengan ibu Zulfiani selaku guru tahfidz SMP IT
Darurrahman Makassar mengatakan bahwa: “akhlak peserta didik disekolah ini
belum dikatakan baik sepenuhnya karena masih ada beberapa peserta didik yang
akhlaknya kurang baik maka dari itu kami strategi pendampingan Misalnya, untuk
menyaring siswa ketika mereka apatis untuk membaca, melakukan administrasi
daerah, bertanya dalam pertemuan di masjid, dll. Ini diselesaikan oleh instruktur
sehingga siswa lebih dinamis dalam belajar, seperti membantu. Oleh karena itu
strategi yang kami lakukan yaitu memberikan pendampingan atau mengawasi
mereka dengan memberikan nasehat-nasehat agar bisa berkelakuan baik.
Hasil wawancara dengan Hamdan kelas IXa mengatakan bahwa: guru selalu
mengawasi mereka apalagi jika mereka berbuat kesalahan mereka akan dinasehati
untuk tidak mengulanginya.
b. Mengajarkan Tentang Adab Kepada Peserta Didik
Wawancara ibu Amanah selaku guru SMP IT Darurrahman Makassar beliau
mengatakan bahwa: “dalam pembinaan akhlak hal yang pertama mereka ajarkan
yaitu adab karena manusia yang memiliki adab akan menjadi pribadi yang adil
sehingga patut dijadikan contoh. Adab merupakan salah satu hal penting dalam
menumbuhkan kecintaan kepada sang Pencipta maupun ke sesama manusia. Tak
hanya itu, adab ini juga penting dalam mencegah manusia untuk berbuat buruk”.
Hal serupa yang disampaikan ibu Hikmawati guru Tahfidz beliau
mengatakan bahwa:“dalam pembinaan akhlak mereka mengajarkan tentang
beradab. Bertamu karena manusia beradab akan terus belajar dan memperbaiki
diri untuk menyempurnakan akhlaknya”.
Hasil wawancara dengan ibu Zulfiani beliau mengatakan bahwa: “jawaban
dari ibu Amanah dan ibu Hikmawati tidak jauh berbeda dengan saya karena ketika
kami ingin membina akhlak peserta didik kami mengajarkan tentang adab karena
apabila seorang memiliki adab yang baik hal ini akan membuat peserta didik
mempunyai akhlak yang baik. Karena apabila seseorang memiliki adab maka
sudah pasti dia mempunyai ilmu tetapi apabila seseorang memiliki ilmu belum
tentu dia mempunyai adab”.
Dari hasil wawancara Rayhan peserta didik mengatakan bahwa mereka
diajarkan tentang berbagai macam adab seperti adab berbicara, adab berpakaian,
Strategi guru tahfidz dalam pembinaan akhlak SMP IT Darurrahman Makassar
Syntax Idea, Vol.4, No.4, April 2022 729
adab bertamu. Hal yang sama dikatakan oleh hikma peserta didik kelas VIIb
bahwa mereka telah diajarkan untuk mengutamakan adab.
Dari hasil wawancara dari beberapa peserta didik, guru dan kepala sekolah
disimpulkan bahwa dalam pembinaan akhlak mereka diajarkan tentang adab.
c. Memberikan Hukuman Bagi Yang Melanggar
Hukuman adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan sengaja oleh pihak
sekolah, terhadap siswa yang menyalahgunakan dengan sengaja dan sengaja
sehingga menimbulkan keluh kesah pada siswa. Dengan hukuman yang diberikan
oleh instruktur kepada siswa, dapat menyebabkan siswa meratap dan tidak
mengulanginya (Waris, 2020).
Hasil wawancara dengan bapak kepala sekolah mengatakan bahwa:
“sebenarnya dalam pembinaan akhlak atau memberikan bimbingan akhlak bukan
semata-mata hanya tugas guru tahfidz tapi tugas semua guru yang ada di sekolah
ini. Dari diri saya sendiri, dengan asumsi saya melihat pelanggaran kecil, saya
memanggil siswa dan saya menegurnya dan kemudian saya menepuk pundaknya
dan dalam beberapa kasus saya memeluknya, tetapi jika pelanggaran itu tidak
main-main, maka, pada saat itu, Saya berbicara dengan mereka berdua,
mendapatkan penolakan, dan membayangkan skenario di mana tidak ada
perubahan maka diberikan surat teguran.”.
Hasil wawancara dengan ibu Amanah selaku Guru tahfidz SMP IT
Darurrahman Makassar beliau mengatakan bahwa: strategi selanjutnya dengan
memberikan hukuman kepada peserta didik yang melanggar peraturan disekolah,
seperti datang terlambat, bolos bermain hp ketika jam pelajaran”.
Ibu Hikmawati sebagai guru tahfidz SMP IT Darurrahman Makassar
mengatakan bahwa: dalam pembinaan akhlak siswa yang tidak mentaati peraturan
diberi sanksi sesuai dengan kesepakan bersama atau aturan yang telah dibuat oleh
pihak sekolah”.
Hasil wawancara dengan Selvi peserta didik mengatakan bahwa: apabila
kami melakukan sebuah kesalahan kami akan diberikan hukuman oleh guru
seperti membersihkan halaman sekolah dan akan diberi poit.
Selanjutnya wawancara dengan peserta didik yang bernama Hamdi M,
peserta didik, mengatakan bahwa: “Ada sanksi ada hukuman yang diberikan kalau
melakukan perbuatan yang kurang baik atau melangar peraturan, akan tetapi
hukumannya tidak begitu berat menurut saya, hanya diperintahkan untuk tidak
mengulangi.”
Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti pada 12 Oktober 2021,
analis melihat bahwa ketika siswa muncul lebih lambat dari yang diharapkan,
mereka akan bertanggung jawab atas izin seperti diberikan fokus, membersihkan
halaman, dan lainnya.
d. Melakukan Pembiasakan Yang baik
Pembiasaan ini dilakukan sedini mungkin, misalnya terus-menerus
mengucapkan kabar gembira setiap kali bertemu dengan instruktur, membaca doa
Ahmad, Mustamin
730 Syntax Idea, Vol. 4, No. 4. April 2022
siang hari dalam pertemuan di masjid, dan kebiasaan lain yang sesuai dengan
standar yang ketat. Dengan penyesuaian ini, apa yang dirasakan sebagai intimidasi
dalam jangka panjang umumnya tidak dirasakan sebagai tekanan (Sukrisman,
2014).
Hasil wawancara dengan ibu Amanah mengatakan bahwa: “Pembiasaan
untuk menanamkan peningkatan akhlak bagi siswa adalah membiasakan diri
melakukan kegiatan-kegiatan yang mengandung sifat-sifat Islami, seperti
menyapa guru dengan hangat, memohon dalam majelis di masjid, bertanya
sebelum mengerjakan sesuatu, dan berbagai kegiatan.
Hasil wawancara dengan Imam R, peserta didik SMP IT Darurrahman
Makassar mengatakan bahwa: ibu guru selalu mengingatkan dan mengajarkan
secara konsisten mengingatkan dan membantu kita untuk secara konsisten berbuat
baik kepada semua orang dan melakukan kebiasaan, misalnya ketika kita bertemu
dengan pendidik kita perlu mengucapkan kabar gembira, bertanya bersama di
masjid, dan mengucapkan kata-kata baik, dll.”.
e. Memberikan Teladan Yang Baik
Keteladanan, akhlak luhur tidak dapat dibingkai secara unik dengan
ilustrasi, pedoman, dan penyangkalan mengingat bahwa kepribadian ruh untuk
mendapatkan kebaikan tidak cukup hanya seorang instruktur/pendidik untuk
mengatakan melakukan ini dan melakukan itu. Menanamkan kebiasaan besar
membutuhkan sekolah yang lama dan harus ada metodologi yang dapat dikelola.
Sekolah tidak akan membuahkan hasil.
Hasil wawancara Kepala Sekolah SMP IT Darurrahman yaitu bapak H.
Abd. Rahman SE beliau mengatakan bahwa salah satu strategi/cara yang paling
efektif untuk membina akhlak pada siswa adalah dengan memberi contoh dalam
kehidupan sehari-hari. Karena siswa akan selalu meniru sikap dan perilaku
gurunya jika diberikan contoh dan model yang baik.
Demikian menurut Ibu Amanah yang berprofesi sebagai pengajar Tahfidz di
SMP IT Darurrahman Makassar. Saya selalu memberikan contoh perilaku yang
baik dalam berkata dan berperilaku, dan siswa dapat belajar dari saya dengan
melihat apa yang saya lakukan, seperti menyapa, menyapa, mengajarkan sopan
santun, mengajar, dan mengimbau siswa untuk selalu sholat berjamaah.
Hasil wawancara dengan ibu Hikmawati beliau mengatakan bahwa
menanamkan akhlak pada anak melalui teladan positif ialah dengan memberikan
contoh-contoh yang baik. Ketauladan inilah sebagai strategi yang diterapkan pada
pembinaan akhlak ini, dimana guru-guru melakukan ibadah-ibadah sunnah dengan
istiqamah, selanjutnya di ikuti oleh peserta didik, seperti shalat dhuha, sedekah
dan amalan lainnya.
Hal ini dibenarkan oleh peserta didik Lingga Pamungkas dengan
menyatakan bahwa mereka diajarkan untuk melakukan ibadah sunnah seperti
puasa sunnah Senin-Kamis, shalat malam, dan shalat dhuha.
Strategi guru tahfidz dalam pembinaan akhlak SMP IT Darurrahman Makassar
Syntax Idea, Vol.4, No.4, April 2022 731
Seperti yang diungkapkan Alda, siswa sehubungan dengan pembinaan
akhlak yang telah dilakukan oleh pengajar: “ada yang dapat diterima, ada yang
tidak. Yang bermanfaat adalah bercerita sambil memberi teladan kita mengikuti
apa yang diperintahkan. Sejak saat diberi seorang model, kami tertarik untuk
melakukan apa yang disarankan oleh instruktur untuk kami lakukan, namun jika
pengajar hanya mengaturnya tanpa memberikan model, itu akan diabaikan oleh
para sahabat. Jika pendidik tahfidz itu diterima, ia memiliki dikejar, diusulkan,
ditiru.
Faktor Pendukung Dan Penghambat Guru Tahfidz Dalam Melakukan
Pembinaan Akhlak Pada Peserta Didik Di SMP IT Darurrahman Makassar
Adapun faktor pendukung dan penghambat metodologi pendidik tahfidzul
dalam penanaman etika siswa SMP IT Darurrahman Makassar adalah:
1) Faktor pendukung
Faktor pendukung adalah sesuatu yang dapat membantu, mendukung
dalam sesuatu. Untuk menemukan variabel pendukung selama pergantian
peristiwa moral (Kurniawan, 2013). Mengingat konsekuensi pertemuan dari
beberapa sumber, data yang menyertai diperoleh:
a. Adanya motivasi dari guru dan peserta didik
Hasil wawancara dengan ibu Hikmawati mengatakan bahwa: “ada
beberapa peserta didik yang motivasi dalam belajarnya sangat tinggi dan ada
juga yang mempunyai pemahaman agama sehingga tidak terlalu sulit bagi
kami dalam membina mereka karena telah ada dasar dalam diri mereka”.
Hasil wawancara dengan bapak kepala sekolah beliau mengatakan
bahwa: kalau saya mengamati faktor pendukung dalam pembinaan akhlak
ini semua puhak sekolah mendukungnnya bukan saja guru tahfidz tapi semua
guru. Jadi yang menentukan proses pembelajaran yang menentukan
berhasilnya dalam pembelajaran adalah guru. Bagaimana guru mengelola
kelas, metode dan strategi yang baik kepada peserta didik”.
b. Adanya fasilitas yang memadai
Kemudian fasilitas SMP IT Darurrahmanjuga sangat membantu dalam
melakukan pembinaan akhlak pada siswa. Seperti adanya mushollah, shalat
dhuha, shalat dzuhur berjamaah. Hasil wawancara dengan ibu Amanah
mengatakan bahwa: faktor pendukung dalam pembinaan akhlak ini yaitu
sarana dan prasarana disini alhamdulillah mendukung. Disisi lain juga
perhatian guru kepada peserta didik yang selalu mengingatkan untuk
berkelakuan baik dan mentaaati peraturan yang telah di tentukan oleh pihak
sekolah didalam maupun di luar sekolah agar dapat menuju kearah yang lebih
baik”.
c. Adanya Dukungan Dari Orangtua
Dukungan orangtua adalah hal yang sangat penting sampai saat ini,
banyak pihak yang sepakat bahwa keluarga adalah sekolah dasar bagi siswa.
Dengan cara ini, peran keluarga dalam pengembangan etika siswa sangat
Ahmad, Mustamin
732 Syntax Idea, Vol. 4, No. 4. April 2022
penting (Indramawan & Hafidhoh, 2019). Hal ini diketahui dari hasil
wawancara Lingga Pamungkas mengemukakan bahwa jika mereka tidak
kesekolah dengan alasan yang tidak jelas maka orangtua akan marah. Hal
serupa yang dikatakan oleh Alda bahwa apabila dia tidak melaksanakan
shalat dirumah maka ibunya akan marah. Dari beberapa informasi yang
disampaikan informan maka dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor
pendukung yaitu adanya dukungan dari orangtua.
2) Faktor penghambat
Dalam melaksanakan pembinaan akhlak peserta didik, tentunya ada hal-
hal yang menjadi penghambat terlaksananya acara yang baik dan benar.
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa pendidik SMP IT Darurrahman
Makassar disimpulkan bahwa faktor penghambat yaitu:
a. Faktor Internal
Kurangnya kesadaran siswa Kepala sekolah dan pendidik SMP IT
Darurrahman Makassar telah berusaha untuk mengkoordinasikan rutinitas
yang bermanfaat secara konsisten dan memberikan teladan yang nyata,
namun masih banyak siswa yang tidak tahu untuk melaksanakannya.
Hasil wawancara dari ibu Amanah mengatakan bahwa: “salah-satu
faktor penghambat yaitu adanya peserta didik yang kurang memperhatikan
arahan dari guru ada yang hanya mendengarkan saja tetapi tidak
melaksanakan nanti guru terlihat marah barulah mereka melaksanakan”.
Hasil wawacara dengan ibu Zulfiani mengatakan bahwa: “faktor salah-
satunya kurangnya kesadaran peserta didik itu sendiri. Contohnya apabila di
berikan tugas rumah harus selesai dengan waktu yang telah ditentukan tetapi
masih ada saja peserta didik yang cuek dengan perintah tersebut dan pada
akhirnya dia tidak mengerjakan”.
Di maksud minat suatu harapan, keinginan untuk mencapai sesuatu atau
membebaskan diri dari dorongan yang mengganggu. Sedangkan inspirasi
adalah membuat kondisi sedemikian rupa, maka anak-anak perlu melakukan
apa yang bisa mereka lakukan. Dalam pelatihan, kapasitas inspirasi sebagai
penggerak kapasitas, pengerahan tenaga, keinginan, memutuskan arah dan
memilih perilaku instruktif.
b. Faktor Eksternal
Faktor ekternal yang berasal dari luar siswa, yang meliputi pengajaran
keluarga, pelatihan sekolah dan sekolah ekologi lingkungan setempat. Salah
satu sudut pandang yang menambah perkembangan watak dan perilaku
individu adalah variabel ekologis. Hingga saat ini, disadari ada tiga kondisi
instruktif, yaitu iklim keluarga, sekolah, dan lingkungan setempat (Amanah &
Farmayanti, 2014).
Strategi guru tahfidz dalam pembinaan akhlak SMP IT Darurrahman Makassar
Syntax Idea, Vol.4, No.4, April 2022 733
c. Faktor Keluarga
Hal ini sebagai mana yang disampaikan oleh ibu Amanah sebagai guru
di SMP IT Darurrahman Makassar Madarasah, Beliau Mengatakan : “Apabila
ada rapat atau panggilan kepada orang tua ke sekolah mengenai hal-hal yang
berkenaan dengan masalah anaknya atau peserta didik hanya sedikit orang tua
yang hadir, sehingga kadang-kadang apa yang diinginkan melalui orang
tuanya hanya sekedar panggilan saja tidak ada perubahan yang berarti.”
Hal serupa juga dikemukakan oleh Ibu Zulfiani, guru tahfidz di SMP IT
Darurrahman Makassar mengatakan bahwa: “Saya pernah menyurati orangtua
peserta didik karena ada beberapa peserta didik yang tidak mengerjakan
tugas, sering alfa dan terlambat. Oleh karena itu saya mengirimkan surat
untuk datang ke sekolah tetapi meraka tidak datang sehingga tindak lanjut
permasalahan siswa tersebut tidak terlaksana dengan baik.”.
Hasil wawancara dengan ibu Hikmawati mengatakan bahwa: faktor
penghambatnya yaitu orangtua peserta didik sangan mempercayakan anaknya
kepada kami padahal anak-anak hanya di didik hanya sekian jam saja
selebihnya kembali kepada orangtua jadi menurut saya faktor penghambatnya
yaitu kurangnya kerjasama antara guru dan orangtua.
Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa salah satu
hambatan atau kendala yang dialami oleh guru SMP IT Darurrahman dalm
membina akhlak peserta didik perhatian dari orangtua.
d. Faktor lingkungan
Besarnya dampak dari afiliasi masyarakat dipisahkan dari standar dan
kecenderungan saat ini, apabila kebiasaan dilingkungan positif maka akan
berpengaruh positif. dari wilayah lokal tidak dapat jika kecenderungan dalam
lingkungan positif, maka akan memiliki hasil yang konstruktif. Jika
kecenderungan lingkungan negatif secara lokal, itu juga akan berdampak
buruk pada jiwa anak yang keras (Tandean, 2020).
Lingkungan adalah kenyataan bahwa individu atau pribadi, sebagai
komponen dari faktor lingkungan reguler mereka, tidak dapat diisolasi dari
keadaan mereka saat ini. Bahwa seseorang tidak akan membuat perbedaan
tanpa lingkungan yang mempengaruhinya. Pernyataan ini mengandung
banyak kebenaran karena lingkungan adalah segala sesuatu yang mengelilingi
atau meliputi seseorang selama hidupnya. Sebagai hasil dari pemahaman
yang luas tentang "segala sesuatu", dapat dikatakan bahwa baik iklim aktual,
iklim sosial, dan iklim mental adalah sumber dampak pada karakter seseorang
(Yanti, 2018).
Hasil wawancara dengan ibu Amanah mengatakan bahwa: “Faktor yang
menjadi penghambat selanjutnya itu faktor yang berada diluar lingkangan
sekolah walaupun kami telah mendidik mereka tetapi ketika mereka pulang
dan bertemu dengan teman di lingkungan sekitar pastilah mereka akan ikut-
ikutan dan menyebabkan peserta didik mudah terpengaruh kurang baik”.
Ahmad, Mustamin
734 Syntax Idea, Vol. 4, No. 4. April 2022
Hasil wawancara ibu Zulfiani mengatakan bahwa: “pengaruh
lingkungan luar itu sangat besar apalagi sekolah ini berlatar belakang sekolah
umum. Prilaku dari lingkungan luar sangat berpengaruh terhadap prilaku
siswa disekolah, jadi terkadang ada yang nakal, namun masih bisa di bina”.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah disampaikan pada bab
sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan terkait Strategi Guru Tahfidz dalam
Pengembangan Akhlak di SMP IT Dasrurrahman Makassar.
Strategi Guru Tahfidz Dalam Pembinaan Akhlak SMP IT Dasrurrahman Makassar
diantaranya: melakukan strategi pembinaan dan pengawasan langsung, mengajarkan
tentang Adab kepada peserta didik, memberikan hukuman bagi peserta didik yang
melanggar, melakukan pembiasaan yang baik dan memberikan teladan yang baik.
Faktor pendukung dan penghambat dalam pembinaan akhlak di SMP IT Darurrahman
Makassar yaitu: Faktor pendukung seperti Adanya motivasi dari guru dan peserta didik,
Adanya fasilitas yang memadai, Adanya dukungan dari orangtua dan Faktor
penghambat yaitu Faktor Internal seperti timbul dari dalam diri peserta didik. Dan
Faktor Eksternal seperti Faktor keluarga dan Faktor lingkungan.
BIBLIOGRAFI
Ahsanulkhaq, Moh. (2019). Membentuk karakter religius peserta didik melalui metode
pembiasaan. Jurnal Prakarsa Paedagogia, 2(1).Google Scholar
Alwasilah, A. Chaedar, Suryadi, Karim, & Karyono, Tri. (2022). Etnopedagogi:
Landasan praktek pendidikan dan pendidikan guru. Kiblat Buku Utama. Google
Scholar
Amanah, Siti, & Farmayanti, Narni. (2014). Pemberdayaan sosial petani-nelayan,
keunikan agroekosistem, dan daya saing. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
.Google Scholar
Fitriyani, Pipit. (2018). Pendidikan karakter bagi generasi Z. Prosiding Konferensi
Nasional Ke-7 Asosiasi Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Muhammadiyah
Aisyiyah (APPPTMA). Jakarta, 2325. Google Scholar
Hardiyanto, Hardiyanto. (2018). Pelatihan Metode Belajar Quantum Learning Untuk
Meningkatkan Motivasi Belajar Pada Siswa-Siswi Sekolah Menengah Pertama
(Smp). Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Google Scholar
Indramawan, Anik, & Hafidhoh, Noor. (2019). Pendidikan karakter sebagai upaya
meningkatkan semangat belajar. Prosiding SEMDIKJAR (Seminar Nasional
Pendidikan Dan Pembelajaran), 3, 477485. Google Scholar
Kurhayadi, H., Rohayati, Yeti, & Bambang Sucipto, M. M. (2020). Kebijakan Publik di
Strategi guru tahfidz dalam pembinaan akhlak SMP IT Darurrahman Makassar
Syntax Idea, Vol.4, No.4, April 2022 735
Era Digitalisasi. Insan Cendekia Mandiri. Google Scholar
Kurniawan, Gusnardi. (2013). Pengaruh moralitas, motivasi dan sistem pengendalian
intern terhadap kecurangan laporan keuangan (Studi empiris pada SKPD di kota
Solok). Jurnal Akuntansi, 1(3). Google Scholar
Lubis, Lahmuddin, & Asry, Wina. (2020). Ilmu pendidikan islam. Perdana Publishing.
Google Scholar
Maemunawati, Siti, & Alif, Muhammad. (2020). Peran guru, orang tua, metode dan
media pembelajaran: strategi kbm di masa pandemi COVID-19. 3M Media Karya.
Google Scholar
Sukrisman, Agus. (2014). Pembentukan Karakter Peserta Didik di Lembaga
Pendidikan Islam Al-Izzah Kota Sorong. Universitas Islam Negeri Alauddin
Makassar. Google Scholar
Tandean, Jenny. (2020). Kearifan lokal Suku Kajang: Sebuah Dasar Etika Dalam
Praktik Bisnis dan Akuntansi. PARADOKS: Jurnal Ilmu Ekonomi, 3(2), 1829.
Google Scholar
Waris, Muhammad Shafarman. (2020). Komunikasi Guru Bimbingan Konseling dalam
Penanggulangan Kenakalan Remaja Siswa MTs Negeri Parepare. IAIN Parepare.
Google Scholar
Yanti, M. E. Y. Selvi. (2018). Hubungan tingkat self efficacy dan dukungan sosial
teman sebaya dengan penerimaan diri klien hiv positif di Puskesmas Dupak
Surabaya. Universitas Airlangga. Google Scholar
Copyright holder:
Ahmad, Mustamin (2022)
First publication right:
Syntax Idea
This article is licensed under: