How to cite:
Enni Dwi Wahjunie, Sri Malahayati Yusuf, Raissa Syahputri Hairani (2024) Peranan Soil Tilth
Terhadap Produktivitas Bawang Merah, (06) 07,
E-ISSN:
2684-883X
Published by:
Ridwan Institute
PERANAN SOIL TILTH TERHADAP PRODUKTIVITAS BAWANG MERAH
Enni Dwi Wahjunie, Sri Malahayati Yusuf, Raissa Syahputri Hairani
IPB University, Indonesia
Abstrak
Bawang merah merupakan salah satu komoditas pangan yang penting, sehingga lahan
produksinya perlu dipertahankan. Apabila produktivitas lahannya menurun, sangat potensi
beralih fungsi menjadi lahan penggunaan lain. Sentra produksi bawang merah terbesar di
Indonesia berada di Kabupaten Brebes, yang dikembangkan di berbagai jenis tanah dengan
karakter berbeda. Perbedaan jenis tanah tersebut telah menunjukkan perbedaan produksinya.
Sebagai tanaman umbi, bawang merah memerlukan media tanam yang baik (soil tilth), antara
lain konsistensi dan kemampuan mengembang mengkerut tanah. Oleh karena itu, penelitian
ini ingin mengkaji peranan soil tilth dan kemampuan mengembang mengkerut tanah terhadap
produktivitas bawang merah. Penelitian dilakukan melalui tahapan survei lokasi
pengembangan bawang merah di Kabupaten Brebes, pengumpulkan data produksinya di
berbagai jenis tanah sentra produksi, analisis sifat-sifat tanah terutama konsistensi dan COLE
(coeficient of linier extensibility), dan analisis keterkaitan sifat tanah terhadap produksi
bawang merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budidaya bawang merah di Kabupaten
Brebes berada di tanah Kambisol Eutrik, Gleisol Eutrik, dan Mediteran Haplik. Kambisol
Eutrik memiliki produktivitas bawang merah tertinggi diikuti oleh Mediteran Haplik dan
Gleisol Eutrik. Konsistensi dan nilai COLE tanah berbeda antar jenis tanah. Indeks plastisitas,
jangka olah, dan nilai COLE dipengaruhi oleh kadar klei dan bahan organik tanah. Semakin
tinggi kadar klei dan makin rendah kadar bahan organik, sifat olah tanah makin buruk dan
produksi makin rendah.
Kata Kunci: gleisol, kambisol, mediteran, produktivitas bawang merah, soil tilth
Abstract
Red onion is an important food commodity, so production land needs to be maintained. If the
land productivity decreases, it has the potential to be converted into other land uses. The
largest red onion production center in Indonesia is in Brebes Regency, which is developed on
various soil types with different characteristics.The differences in soil types have shown
differences in production. As a bulb plant, red onion requires a good planting media (soil
tilth), including soil consistency and the ability to swell and shrink the soil. Therefore, this
research was to examine the role of soil tilth characteristics and the ability of soil swell and
shrink on red onion productivity. The research was carried out through the stages of
surveying red onion development locations in Brebes Regency, collecting production data in
various soil types in production centers, analyzing soil properties especially soil consistency
and COLE (coefficient of linear extensibility), and analyzing the relationship between soil
properties and red onion production. The results showed that red onion cultivation in Brebes
JOURNAL SYNTAX IDEA
pISSN: 2723-4339 e-ISSN: 2548-1398
Vol. 6, No. 07, Juli 2024
Peranan Soil Tilth Terhadap Produktivitas Bawang Merah
Syntax Idea, Vol. 6, No. 07, Juli 2024 3331
Regency were planted on Cambisol Eutrik, Gleysol Eutrik and Mediterannean Haplik.
Cambisol Eutrik has the highest red onion productivity followed by Mediterannean Haplik
and Gleysol Eutrik. The consistency and COLE value were different among soil types. . The
plasticity index, tillage range, and COLE value were influenced by the clay and soil organic
matter content. The higher clay and the lower organic matter content, the poorer soil tilth
and the lower production.
Keywords: cambisol, gleysol, mediterannean, red onion productivity, soil tilth
PENDAHULUAN
Persaingan penggunaan lahan akibat pertambahan penduduk dapat mengancam
ketersediaan lahan pertanian, sehingga dapat menurunkan produksi pertanian (Ayunita,
Widiati, & Sutama, 2021). Untuk mempertahankan lahan pertanian pangan agar tidak beralih
fungsi, diperlukan sejumlah informasi tentang potensi lahan. Lahan tersebut harus menjamin
keberlangsungan produksi. Bawang merah merupakan salah satu komoditas pangan yang
banyak dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, menguntungkan, dan mudah untuk ditanam
terutama di daerah tropis seperti di Indonesia. Tanaman ini banyak dibudidayakan di daerah
dataran rendah dengan suhu yang agak panas dan cuaca cerah.
Kabupaten Brebes merupakan sentra produksi bawang merah terbesar di Indonesia,
dapat menyuplai sekitar 57% kebutuhan bawang merah di Provinsi Jawa Tengah dan 18,5%
kebutuhan nasional, dengan produksi sebanyak 350 ton pada tahun 2018 (BPS, 2020).
Budidaya bawang merah di Kabupaten Brebes dikembangkan di berbagai jenis tanah dengan
karakter yang berbeda. Produktivitas bawang merah di Kabupaten Brebes mengalami
penurunan yang disebabkan oleh berbagai faktor. Menurut BPS (2024), tahun 2018 produksi
bawang merah di Brebes masih berada di kisaran 350 ribu ton per tahun. Tahun 2019-2020,
produksi turun menjadi 330 ribu ton per tahun, dan tahun 2021-2023 turun lagi hingga di
bawah 300 ribu ton. Data tersebut menunjukkan bahwa lahan pertanian pangan tersebut
sangat perlu diperhatikan.
Bawang merah merupakan tanaman umbi yang memerlukan media tanam yang baik
untuk kelangsungan pertumbuhannya. Agar pertumbuhannya baik, bawang merah
memerlukan soil tilth, yaitu tanah yang gembur, drainase baik, dan kesuburan tanah tinggi
(Nani & Hidayat, 2005). Tanah yang gembur harus memiliki sifat olah (konsistensi) tanah
yang baik. Kemampuan mengembang dan mengerut tanah yang tinggi juga dapat beresiko
terhadap pertumbuhan umbi bawang merah. Tanah dengan sifat fisik baik memiliki
kemampuan mengembang mengkerut yang rendah. Konsistensi tanah dapat dinilai dari
indeks plastisitas dan jangka olah tanah, sedang kemampuan mengembang mengkerut tanah
dapat dinilai dari nilai COLE (coeficient of linear extensibility). Evaluasi terhadap ke dua
sifat fisik tanah ini di lahan produksi bawang merah Kabupaten Brebes perlu dilakukan agar
keberadaan lahan tersebut tetap terjaga sebagai lahan pertanian pangan yang berkelanjutan.
Sifat mengembang dan mengkerut tanah disebabkan oleh masuk dan keluarnya air di
antara lempeng-lempeng kristal klei (terutama pada tanah tipe klei 2:1), seperti
montmorilonit (Sunarminto & Santosa, 2008). Nilai COLE terlihat nyata antara musim
kemarau dan musim hujan. Tanah dengan kadar klei sangat tinggi terutama klei tipe 2:1 saat
musim panas menjadi sangat keras dan membentuk rekahan (pecah-pecah), dan saat musim
hujan akan mengembang dan sangat berat untuk diolah serta drainase (Sunarminto &
Santosa, 2008). Ada keterkaitan antara konsistensi dengan sifat mengembang mengkerut
tanah. Tanah-tanah dengan indeks plastisitas tinggi lebih tidak mudah mengembang dan
Enni Dwi Wahjunie, Sri Malahayati Yusuf, Raissa Syahputri Hairani
3332 Syntax Idea, Vol. 6, No. 07, Juli 2024
mengkerut. Kedua sifat tanah ini sangat dipengaruhi oleh kadar klei, bahan organik, jenis
mineral, dan kation yang teradsorbsi (BAVER, Gropp, & Bohn, 1978).
Mengingat pentingnya untuk mempertahankan produksi pertanian pangan, maka lahan
budidaya pertanian pangan harus dipertahankan sesuai Undang-Undang Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan. Untuk mempertahankan lahan tersebut, maka sangat diperlukan
informasi tentang sifat-sifat tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman pangan bawang
merah. Oleh karena itu penelitian ini ingin mengkaji peranan sifat-sifat fisik tanah yang
berperan terhadap produksi bawang merah di Kabupaten Brebes, dalam hal ini konsistensi
dan kemampuan mengembang mengkerut tanah.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Brebes dalam beberapa tahapan, dimulai dari
penyusunan rancangan penelitian untuk menentukan titik pengamatan, pengambilan contoh
tanah, analisis laboratorium, dan analisis data (Sugiyono, 2019). Data produksi bawang
merah dan contoh tanah diambil di lahan sentra produksi bawang merah Kabupaten Brebes,
Provinsi Jawa Tengah. Analisis sifat-sifat tanah dilakukan di Laboratorium Konservasi Tanah
dan Air, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University.
Alat dan bahan yang digunakan adalah alat dan bahan survei penetapan titik sample
tanah di sentra produksi bawang merah berupa GPS dan peta tanah; alat dan bahan
pengambilan contoh tanah; dan alat dan bahan untuk analisis contoh tanah di laboratorium.
Data produksi bawang merah diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Brebes.
Penentuan titik lokasi pengamatan dimulai dari pembuatan peta kerja dan penetapan
SPT (Satuan Peta Tanah). Di tiap titik pengamatan dilakukan pengambilan contoh tanah
secara acak (Random sampling) sebanyak 3 ulangan pada tiap jenis tanah yang mewakili di
lahan bawang merah Kabupaten Brebes. Jenis tanah yang mewakili lokasi ini terdiri dari
Kambisol Eutrik, Gleisol Eutrik dan Mediteran Haplik.
Pengambilan contoh tanah di tiap titik sampling dilakukan untuk kebutuhan analisis
sifat fisik, kadar bahan organik, dan kapasitas tukar kation tanah. Contoh tanah terdiri dari
contoh tanah agregat utuh dan contoh tanah terganggu (tidak utuh) yang diambil pada
kedalaman 0 - 20 cm. Contoh tanah agregat utuh digunakan untuk penetapan nilai COLE,
sedangkan contoh tanah terganggu digunakan untuk penetapan tekstur, konsistensi,
kandungan bahan organik, dan kapasitas tukar kation tanah.
Analisis sifat-sifat tanah di laboratorium menggunakan metode yang sesuai dengan
metode pada Methods of soil Analysis (Sunyoto, 2013). Data-data hasil pengamatan lapang
dan analisis laboratorium dianalisis secara statistik dengan one-way analysis of variance
(ANOVA) menggunakan software Minitab (versi 16.0) pada selang kepercayaan 95%
(P<0.05) untuk mengetahui perbedaan sifat-sifat tanah antara jenis tanah. Uji regresi dan
korelasi dilakukan untuk mengetahui keterkaitan antara fraksi klei dan kadar bahan organik
terhadap indeks plastisitas, jangka olah, dan nilai COLE. Peranan sifat olah tanah terhadap
produksi bawang merah dianalisis secara deskriptif (Sugiyono, 2020).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Produktivitas Bawang Merah di Berbagai Jenis Tanah
Sentra produksi bawang merah di Kabupaten Brebes berada di tiga jenis tanah, yaitu
Kambisol Eutrik, Gleisol Eutrik, dan Mediteran Haplik (Tabel 1). Berdasarkan tiga jenis tanah
tersebut dipilih kecamatan yang merupakan sentra produksi bawang merah, yaitu Kambisol
Eutrik di Kecamatan Wanasari, Gleisol Eutrik di Kecamatan Brebes, dan Mediteran Haplik
Peranan Soil Tilth Terhadap Produktivitas Bawang Merah
Syntax Idea, Vol. 6, No. 07, Juli 2024 3333
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada setiap kolom menunjukkan
nilai yang berbeda nyata pada taraf 5%.
di Kecamatan Banjarharjo. Berdasarkan BPS (2021) produktivitas bawang merah tertinggi
berada di Kecamatan Wanasari (Kambisol
Tabel 1. Produktivitas bawang merah di beberapa sentra produksi di Kabupaten
Brebes tahun 2018-2020
Kecamatan
(Jenis Tanah)
Produktivitas Bawang Merah pada tahun
Produksi (Kwintal)
2018
2019
2020
2018
2019
2020
Wanasari
(Kambisol Eutrik)
669.070
656.410
1.006.512
121.23
114.58
88.41
Brebes
(Gleisol Eutrik)
11.800
6.772
22.679
111.32
61.67
118.12
Banjarharjo (Mediteran Haplik)
396.040
408.700
532.661
98.69
100.00
95.84
Keterangan: Ha = Hektar
Sumber: BPS 2021
Eutrik), diikuti oleh Kecamatan Banjarharjo (Gleisol Eutrik) dan Kecamatan Brebes
(Mediteran Haplik). Hal ini menunjukkan bahwa tanah Kambisol Eutrik memiliki
produktivitas bawang merah tertinggi diikuti oleh Mediteran Haplik dan Gleisol Eutrik.
Sifat-Sifat Fisik Tanah di Berbagai Jenis Tanah Sentra Produksi Bawang Merah
Sifat-sifat tanah yang diamati di penelitian ini adalah konsistensi (indeks plastisitas
dan jangka olah) dan nilai COLE serta sifat-sifat tanah lain yang mempengaruhinya. Tekstur
tanah merupakan karakteristik tanah yang penting diketahui untuk pertumbuhan dan
perkembangan bawang merah, terkait dengan penyediaan air serta perkembangan akar
tanaman. Pertumbuhan bawang merah secara tidak langsung dapat dipengaruhi oleh tekstur
tanah dalam menyediakan hara dan menyimpan air dalam tanah.
Tabel 2. Tekstur pada berbagai jenis tanah
Jenis Tanah
Pasir
Debu
Klei
Kelas Tekstur
%
Kambisol Eutrik
11.52
a
32.03
d
56.45
h
Klei
Gleisol Eutrik
0.90
c
24.75
d
74.36
g
Klei
Mediteran Haplik
4.92
b
22.54
d
72.54
gh
Klei
Tekstur tanah juga mempengaruhi konsistensi dan sifat mengembang mengkerut
tanah.Tekstur pada ketiga jenis tanah termasuk ke dalam kelas klei (Tabel 2). Fraksi klei
tertinggi ditemukan pada Gleisol Eutrik yaitu sebesar 74.36%, diikuti dengan Mediteran
Haplik sebesar 72.54%, dan Kambisol Eutrik sebesar 56.45%. Tanah yang bertekstur klei
membutuhkan pengolahan tanah yang lebih baik agar tanaman bawang merah dapat memberi
hasil yang optimal (Umin & Saga, 2019).
Bahan organik dalam tanah dapat meningkatkan serapan hara tanaman (Zulfadli,
Muyassir, & Fikrinda, 2012). Pengaruh bahan organik terhadap sifat-sifat tanah sangat besar
walaupun jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar 3 sampai 5 persen saja. Hal tersebut juga
disampaikan oleh Suin (1997), yang menyebutkan bahwa bahan organik sangat berperan
dalam memperbaiki sifat fisik tanah, meningkatkan aktivitas biologi tanah, meningkatkan
Enni Dwi Wahjunie, Sri Malahayati Yusuf, Raissa Syahputri Hairani
3334 Syntax Idea, Vol. 6, No. 07, Juli 2024
ketersediaan hara bagi tanaman, dan dapat memineralisasikan unsur-unsur hara tanaman.
Bahan organik tanah merupakan salah satu sifat kimia tanah yang dapat mempengaruhi proses
dan hasil budidaya bawang merah.
Tabel 3. Bahan Organik dan Kapasitas Tukar Kation pada berbagai jenis tanah
Jenis Tanah
C-Org (%)
BO (%)
KTK (me/100 g)
Kambisol Eutrik
1.84
a
3.16
d
20.50
g
Gleisol Eutrik
1.46
b
2.52
e
8.47
i
Mediteran Haplik
1.49
b
2.57
e
17.59
h
Keterangan : C-Org = C-Organik; BO = Bahan Organik; KTK= Kapasitas Tukar Kation;
Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada setiap kolom menunjukkan nilai
yang berbeda nyata pada taraf 5%.
Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah adalah kemampuan koloid tanah dalam menjerap
dan mempertukarkan kation. Kation yang telah dijerap oleh koloid-koloid tersebut sukar
tercuci oleh air gravitasi, tetapi dapat diganti oleh kation lain yang terdapat dalam larutan
tanah. KTK juga merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan
tanah. Kadar C-Organik, bahan organik, dan KTK tanah pada ketiga jenis tanah lokasi
penelitian disajikan pada Tabel 3. Bahan organik dan KTK tanah Kambisol Eutrik paling
tinggi diikuti Mediteran Haplik dan Gleisol Eutrik.
Indeks Plastisitas, Jangka Olah, dan Nilai COLE
Indeks plastisitas dan jangka olah tanah merupakan sifat fisik tanah yang terkait
dengan konsistensi, yaitu keadaan fisik tanah pada berbagai kadar air tanah jika ada pengaruh
dari luar. Dalam bidang pertanian, konsistensi tanah berkaitan dengan kemudahan tanah untuk
diolah. Indeks plastisitas dan jangka olah tanah ditetapkan dari kadar air tanah pada batas
menggolek, batas melekat, dan batas mengalir. Batas
Tabel 4. Konsistensi pada berbagai jenis tanah
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada setiap kolom
menunjukkan nilai yang berbeda nyata pada taraf 5% menggolek merupakan kadar air tanah
pada kondisi tanah dapat berubah bentuk tanpa berubah volumenya. Batas melekat adalah
kondisi kadar air pada saat tanah mulai dapat melekat pada alat olah tanah, kadar air pada saat
terjadi adhesi maksimum antara tanah dengan air. Batas mengalir adalah kadar air tanah pada
kondisi tanah mulai dapat mengalir, lapisan air di sekitar partikel tanah telah menyebabkan
kohesi antar partikel tanah menurun. Konsistensi tanah sangat tergantung pada jumlah klei,
kadar bahan organik, kation dalam tanah, dan jenis mineral klei tanah. Hal ini karena
menentukan kemampuan tanah meretensi air.
Tanah dengan kadar klei tinggi seperti Gleisol Eutrik memiliki kohesi yang sangat
kuat, sehingga membutuhkan air yang sangat tinggi untuk mencapai kohesi terendah (tanah
bisa mengalir), sehingga kadar air pada batas mengalir paling tinggi (Tabel 4). Sebaliknya,
Jenis Tanah
Batas
Mengalir
Batas
Melekat
Batas
Menggolek
Indeks
Plastisitas
Jangka
Olah
Kadar Air (%)
Kambisol Eutrik
69.86
b
55.49
d
46.08
g
23.78
l
9.41
m
Gleisol Eutrik
78.88
a
49.48
f
43.14
h
35.73
j
6.34
n
Mediteran Haplik
71.33
b
53.39
e
42.31
h
29.02
k
11.08
m
Peranan Soil Tilth Terhadap Produktivitas Bawang Merah
Syntax Idea, Vol. 6, No. 07, Juli 2024 3335
Gleisol Eutrik memiliki kadar air pada batas melekat terendah. Karena kohesivitas Gleisol
Eutrik yang paling tinggi akibat kadar klei yang tinggi, maka memerlukan air yang lebih
sedikit untuk mencapai adhesi maksimum (kadar air pada batas melekat.
Jangka olah yang tinggi dan indeks plastisitas yang rendah menunjukkan tanah lebih
mudah untuk diolah, tanah dapat diolah pada kisaran kadar air tanah yang lebih lebar. Indeks
plastisitas pada tiap jenis tanah berada di harkat tinggi sampai sangat tinggi dan jangka olah
rendah sampai sedang berdasarkan harkat angka-angka Atterberg dalam (Hardjowigeno,
2003) Indeks plastisitas yang tinggi dan jangka olah yang rendah menunjukkan tanah lebih
sulit untuk diolah karena kadar klei yang tinggi.
Nilai COLE atau coefficient of linear extensibility merupakan sifat penciri yang dapat
menunjukkan sifat mengembang dan mengkerut tanah atau sifat vertik. Pengembangan
terjadi karena adanya penetrasi air ke dalam lapisan kristal klei dan pengerutan terjadi akibat
adanya air yang keluar dari kisi-kisi kristal klei karena menguap. Sifat mengembang dan
mengerutnya tanah disebabkan oleh jenis mineral klei seperti montmorillonit, jumlah klei, soil
fabric, dan adsorpsi kation (Franzmeier & Ross Jr, 1968). Namun adanya kadar klei yang
tinggi juga berpotensi menyebabkan sifat mengembang dan mengkerut tanah yang lebih
tinggi dibanding tanah berpasir.
Tabel 5. Nilai COLE
pada berbagai jenis tanah sentra bawang merah
Jenis Tanah
Nilai COLE
Harkat COLE*)
Kambisol Eutrik
0.17
a
Baik
Gleisol Eutrik
0.25
a
Baik
Mediteran Haplik
0.19
a
Baik
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada setiap kolom menunjukkan
nilai yang tidak berbeda nyata pada taraf 5%.
*) Menurut Fanning dan Fanning (1989)
Nilai COLE pada ketiga jenis tanah yakni Kambisol Eutrik, Gleisol Eutrik, dan
Mediteran Haplik berturut-turut sebesar 0.17, 0.25, dan 0.19 (Tabel 5). Nilai COLE pada
Gleisol Eutrik lebih tinggi dibandingkan Mediteran Haplik dan Kambisol Eutrik, Gleisol
Eutrik lebih lebar dalam menyerap air bila basah (Sunarminto dan Santosa 2008). Tanah
Gleisol Eutrik memiliki jenis mineral klei campuran karena terdiri dari Kaolinit, Ilit,
Vermikulit, Smektit, dan mineral klei halosis hidrat (Yatno, Hikmatullah, & Syakir, 2016).
Nilai COLE ketiga jenis tanah menunjukkan tidak memiliki sifat vertik. Lahan bawang merah
di Kabupaten Brebes merupakan lahan sawah yang tidak berstruktur karena dilumpurkan.
Tanah tekstur klei jika dilumpurkan menjadi tidak berstruktur dan bila kering retak-retak.
Menurut Fanning dan Fanning (1989), tingkat kembang kerut ketiga jenis tanah tergolong
baik (Tabel 5), artinya tidak mudah mengembang dan mengkerut Sifat kembang kerut dapat
dikurangi dengan bahan pembenah tanah Zeolit. Zeolit memiliki sifat absorbsi yang dapat
menyerap kelebihan air pada tanah, dapat menyerap unsur hara dan mempertahankan
kelembaban tanah, sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah dan kualitas tanaman
(Sunarminto & Santosa, 2008).
Hubungan Konsistensi, Nilai COLE dengan Kadar Klei dan Bahan Organik
Hubungan antara konsistensi (indeks plastisitas dan jangka olah) dengan kadar klei dan
bahan organik menunjukkan cukup kuat (Gambar 1 dan 2). Korelasi bahan organik maupun
klei terhadap indeks plastisitas tanah sebesar 0,93 (Gambar 1a dan 1b).
Enni Dwi Wahjunie, Sri Malahayati Yusuf, Raissa Syahputri Hairani
3336 Syntax Idea, Vol. 6, No. 07, Juli 2024
Keterangan: IP = Indeks Plastisitas; BO = Bahan Organik
(a) (b)
Gambar 1 Regresi dan Korelasi pengaruh kadar klei (a) dan bahanjorganik (b) terhadap indeks
plastisitas
Kadar klei dan bahan organik sama-sama berpengaruh kuat terhadap indeks plastisitas,
karena klei dan bahan organik memiliki kemampuan yang kuat dalam menjerap air, tetapi
pengaruhnya berlawanan. Semakin banyak kadar klei dan semakin rendah bahan organik,
indeks plastisitas makin tinggi. Dengan kadar klei tinggi, diperlukan air yang lebih sedikit
untuk mencapai kadar air batas menggolek dan memerlukan kadar air yang lebih tinggi untuk
mencapai batas mengalir. Sebaliknya dengan pengaruh dari bahan organik tanah.
Korelasi kadar klei dan bahan organik terhadap jangka olah disajikan dalam Gambar 2
Analisis korelasi menunjukkan adanya pengaruh yang kuat kandungan klei terhadap jangka
olah, dengan nilai R sebesar 0.91 (Gambar 2a). Semakin tinggi kadar klei tanah makin
menurunkan jangka olah tanah. Tanah berklei tinggi lebih sulit untuk diolah karena
kohesivitas tanah yang tinggi.
Sementara itu, korelasi antara bahan organik dengan jangka olah juga tergolong kuat,
dengan R sebesar 0.89 (Gambar 2b). Nilai jangka olah cenderung bertambah seiring dengan
bertambahnya bahan organik, namun tidak menunjukkan kesesuaian pada tanah Mediteran
Haplik. Mediteran Haplik memiliki nilai jangka olah tertinggi padahal tanah tersebut bukan
tanah yang memiliki nilai bahan organik tertinggi. Hal ini dikarenakan faktor yang
mempengaruhi jangka olah tidak hanya dari bahan organik, tetapi dapat dipengaruhi oleh
faktor lainnya seperti jenis mineral liat dan kandungan kation tanah. Namun bahan organik
dapat memperbaiki struktur tanah sehingga memudahkan pengolahan tanah untuk
pertumbuhan tanaman yang optimal.
Peranan Soil Tilth Terhadap Produktivitas Bawang Merah
Syntax Idea, Vol. 6, No. 07, Juli 2024 3337
Keterangan: JO = jangka olah; BO = bahan organic
Gambar 2. Regresi dan Korelasi kadar klei (a) dan bahan organik (b) terhadap jangka
olah tanah
Korelasi kadar klei dan bahan organik terhadap nilai COLE disajikan dalam Gambar 3.
Analisis korelasi menunjukkan hubungan yang kuat antara kandungan klei terhadap nilai
COLE maupun kadar bahan organik terhadap nilai COLE. Nilai R yang dihasilkan keduanya
sebesar 0.85 dan 0.93 (Gambar 3a dan Gambar 3b).
Kadar klei memiliki korelasi terhadap nilai COLE karena potensi pengembangan dan
pengerutan tanah berhubungan erat dengan jumlah klei dalam tanah (Masria et. al. 2018).
Tanah yang memiliki kandungan klei tinggi mempunyai luas permukaan yang lebih besar
sehingga kemampuan untuk menyerap air lebih tinggi, sehingga menyebabkan tanah lebih
mudah mengembang (Bintoro, Ibrahim, Situmeang, Kimia, & Cilegon, 2017). Bahan organik
juga mampu memperbaiki kemantapan agregat tanah, tata air tanah serta sifat fisik dan kimia
tanah lainnya, sehingga dapat menurunkan nilai COLE terutama pada tanah dengan jenis
mineral liat tipe 2:1. Penambahan bahan organik akan mengurangi masalah kembang kerut
tanah dengan cara mengikat butiran klei dan membentuk agregat yang lebih besar sehingga
memperbesar ruang-ruang udara di antara butiran klei . Hal ini sesuai dengan hasil uji korelasi
pada Gambar 3b yang menunjukkan adanya korelasi antara kandungan bahan organik tanah
terhadap nilai COLE. Dapat dikatakan semakin tinggi kandungan bahan organik maka nilai
COLE semakin rendah. Hal ini sejalan dengan penelitian Sunarminto dan Santosa (2008)
yakni nilai COLE berkurang dengan pemberian pupuk organik. Nilai COLE yang tinggi
menyebabkan daya dukung tanah menjadi rendah sehingga diperlukan perhatian yang lebih
terhadap pengelolaan tanah di lahan bawang merah ini.
Enni Dwi Wahjunie, Sri Malahayati Yusuf, Raissa Syahputri Hairani
3338 Syntax Idea, Vol. 6, No. 07, Juli 2024
Keterangan:BO = Bahan Organik
Gambar 3. Korelasi kadar klei (a) dan bahan organik (b) terhadap nilai COLE
Peranan Konsistensi dan nilai COLE terhadap Produktivitas Bawang Merah
Peranan sifat fisik tanah tertentu terhadap produksi tanaman dapat dibandingkan jika
sifat-sifat tanah lain dikondisikan sama. Produksi bawang merah di sentra produksi
Kabupaten Brebes tertinggi di tanah Kambisol Eutrik diikuti Mediteran Haplik dan Gleisol
Eutrik (Tabel 1 dan 6). Tanah Kambisol Eutrik memiliki kadar klei paling rendah dan kadar
pasir paling tinggi (Tabel 1) serta kadar bahan organik paling tinggi di banding tanah lain
(Tabel 2). Tingginya bahan organik dan rendahnya klei tanah berpengaruh terhadap jangka
olah tanah yang lebih tinggi, indeks plastisitas dan nilai COLE yang lebih rendah. Jangka olah
tanah yang lebar memungkinkan pengolahan tanah lebih mudah dilakukan. Indeks plastisitas
dan nilai COLE yang rendah lebih menjamin tanah tidak mudah berubah bentuk yang dapat
menganggu pertumbuhan akar dan umbi bawang merah.
Tabel 6. Keterkaitan Konsistensi, Nilai COLE, dan Produktivitas Bawang Merah pada
berbagai jenis tanah
Jenis Tanah
Indeks
Plastisitas (%)
Jangka
Olah (%)
Nilai COLE
Produksi bawang merah
(Kwintal) /tahun
Kambisol Eutrik
23.78
9.41
0.17
1,006,512
Mediteran Haplik
29.02
11.08
0.19
532,661
Gleisol Eutrik
35.73
6.34
0.25
22,679
Indeks plastisitas yang ditentukan oleh batas plastis atas (batas menggolek) dan batas
plastis bawah (batas mengalir) sangat dipengaruhi oleh kadar klei. Kadar klei tanah lebih
berpengaruh terhadap batas mengalir tanah dibanding terhadap batas plastis (Keller & Dexter,
2012). Kambisol Eutrik memiliki indeks plastisitas terendah yang mana menurut (Farahnaz,
Sophian, & Agung Mulyo, 2018) bahwa tanah lebih mudah diolah pada indeks plastisitas
yang rendah dibandingkan tanah dengan indeks plastisitas yang tinggi. Demikian juga nilai
COLE yang rendah menyebabkan tanah tidak mudah berubah bentuk (struktur tanah lebih
stabil), sehingga tidak mengganggu perakaran dan umbi bawang merah.
Untuk mengurangi indeks plastisitas dan meningkatkan jangka olah tanah, dapat
dilakukan dengan penambahan bahan organik tanah. Selain berfungsi dalam agregasi tanah,
bahan organik juga memperbaiki konsistensi tanah. Bahan organik dapat meningkatkan kadar
air batas plastis, karena air lebih dulu diserap bahan organik sebelum menempel di permukaan
partikel tanah. Pada kadar air di atas batas plastis/ batas menggolek, pengaruh kadar air tidak
ada lagi sampai tanah mulai mengalir di batas mengalir. Soil tilth Mediteran Haplik dan
Gleisol Eutrik dapat diperbaiki melalui penambahan bahan organik. Penambahan bahan
organik pada tanah kaya klei seperti Gleisol Eutrik dapat menurunkan indeks plastisitas dan
meningkatkan jangka olah tanah.
Peranan Soil Tilth Terhadap Produktivitas Bawang Merah
Syntax Idea, Vol. 6, No. 07, Juli 2024 3339
KESIMPULAN
Konsistensi dan nilai COLE tanah berbeda antar jenis tanah. Indeks plastisitas tertinggi
terdapat pada Gleisol Eutrik, diikuti oleh Mediteran Haplik dan Kambisol Eutrik. Sementara
itu, jangka olah tertinggi terdapat pada Mediteran Haplik, diikuti oleh Kambisol Eutrik, dan
Gleisol Eutrik. Nilai COLE terbesar terdapat pada Gleisol Eutrik diikuti oleh Mediteran
Haplik, dan Kambisol Eutrik. Kambisol Eutrik menunjukkan soil tilth terbaik dengan kadar
klei terendah, bahan organik tertinggi indeks plastisitas dan nilai COLE terendah; sehingga
menghasilkan produksi bawang merah tertinggi.
BIBLIOGRAFI
Ayunita, Komang Triana, Widiati, Ida Ayu Putu, & Sutama, I. Nyoman. (2021). Pengendalian
Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Jurnal Konstruksi Hukum, 2(1),
160164.
Baver, H. W., Gropp, C., & Bohn, H. (1978). Schwangerschaftsassoziiertes Alpha 2-
Glykoprotein (Alpha 2 Pag) In Serum Von Pattenten Mit Bronchialkarzinomen.
Bintoro, Adi, Ibrahim, Agus Malik, Situmeang, Boima, Kimia, Jksta, & Cilegon, B. (2017).
Analisis Dan Identifikasi Senyawa Saponin Dari Daun Bidara (Zhizipus Mauritania L.).
Jurnal Itekima, 2(1), 8494.
Farahnaz, Nadia, Sophian, R. I., & Agung Mulyo, H. (2018). Potensi Tanah Mengembang
Hasil Lapukan Batuan Vulkanik Berdasarkan Indeks Plastisitas Di Kawasan Desa
Cilayung. Geoscience Journal, 2(1), 8289.
Franzmeier, D. P., & Ross Jr, S. J. (1968). Soil Swelling: Laboratory Measurement And
Relation To Other Soil Properties. Soil Science Society Of America Journal, 32(4), 573
577.
Hardjowigeno, Sarwono. (2003). Ilmu Tanah Ultisol. Edisi Baru. Akademika Pressindo,
Jakarta.
Keller, Thomas, & Dexter, Anthony R. (2012). Plastic Limits Of Agricultural Soils As
Functions Of Soil Texture And Organic Matter Content. Soil Research, 50(1), 717.
Nani, S., & Hidayat, A. (2005). Budidaya Bawang Merah (Panduan Teknis). Balai Penelitian
Tanaman Sayuran Dan Pusat Pengembangan Hortikultura. Bandung.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono, P. D. (2020). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan Kombinasi (Mix
Methods)(Di Sutopo (Ed.). Alfabeta, Cv.
Sunarminto, Bambang Hendro, & Santosa, Heri. (2008). Daya Mengembang Dan Mengerut
Montmorillonit I: Pengaruh Intensitas Curah-Embun Terhadap Pengolahan Tanah
Vertisol Di Kecamatan Tepus Dan Playen, Pegunungan Seribu Wonosari-Riset
Laboratorium. Agritech, 28(1).
Sunyoto, Danang. (2013). Metodologi Penelitian Akuntansi.
Umin, Mariana, & Saga, Agustinus J. P. Ana. (2019). Karakteristik Sifat Fisik Tanah Pada
Lahan Budidaya Ubi Kayu (Manihot Esculenta Crantz) Di Desa Wologai Tengah.
Agrica, 12(1), 2333.
Yatno, Edi, Hikmatullah, Hikmatullah, & Syakir, Muhammad. (2016). Properties And
Management Implications Of Soils Developed From Volcanic Ash In North Sulawesi.
Jurnal Tanah Dan Iklim, 40(1), 110.
Enni Dwi Wahjunie, Sri Malahayati Yusuf, Raissa Syahputri Hairani
3340 Syntax Idea, Vol. 6, No. 07, Juli 2024
Zulfadli, Zulfadli, Muyassir, Muyassir, & Fikrinda, Fikrinda. (2012). Sifat Tanah
Terkompaksi Akibat Pemberian Cacing Tanah Dan Bahan Organik. Jurnal Manajemen
Sumberdaya Lahan, 1(1), 5461.
Copyright holder:
Enni Dwi Wahjunie, Sri Malahayati Yusuf, Raissa Syahputri Hairani (2024)
First publication right:
Syntax Idea
This article is licensed under: