How to cite:
Any Diana Vitasari, Ofri Somanedo, Irfo Somanedo (2024) Dampak Kepemimpinan Kepala Sekolah
dan Peningkatan Kompetensi Guru Terhadap Budaya Mutu Sekolah pada PAUD Inklusi di
Kabupaten Banyuwangi, (06) 05, https://doi.org/10.36418/syntax-idea.v3i6.1227
E-ISSN:
2684-883X
Published by:
Ridwan Institute
DAMPAK KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN PENINGKATAN
KOMPETENSI GURU TERHADAP BUDAYA MUTU SEKOLAH PADA PAUD
INKLUSI DI KABUPATEN BANYUWANGI
1
Any Diana Vitasari,
2
Ofri Somanedo,
3
Irfo Somanedo
1
Universitas Bakti Indonesia, Indonesia
2
Universitas Negeri Yogyakarta, Indonesia
3
Universitas Terbuka, Indonesia
Abstrak
Mutu pembelajaran selain tergantung pada mutu siswa dan mutu guru, juga tergantung pada
tujuh dimensi lainnya, yakni kurikulum, kepemimpinan, manajemen, sarana-prasarana,
masyarakat, lingkungan, dan dimensi budaya. Dan dalam proses pembelajaran aktivitas utama
siswa adalah belajar dan aktivitas utama guru adalah mengajar, sehingga dimensi belajar dan
mengajar menjadi fokus utama dalam Penjaminan Mutu Sekolah. Tujuan penelitian ini agar
mutu Pendidikan dapat memenuhi standar pemerintah. Dan sebagai pemimpin merupakan hal
yang dapat mempengaruhi orang lain. Konsekuensi metode penelitian ini memerlukan
operasionalisasi variabel-variabel yang dapat diukur secara kuantitatif sedemikian rupa untuk
dapat digunakan model uji hipotesis dengan metode statistika. Hasil ini diperkuat dengan
analisis kualitatif bahwa berdasarkan semua analisis yang telah dilakukan menjukkan
bahwasanya variabel kepemimpinan, Peningkatan Kompetensi dan Budaya Mutu
diimplementasikan di Lembaga PAUD tempat penelitian ini dilakukan, namun dari tiga
variabel tersebut yang berpengaruh secara signifikan adalah variabel kepemimpinan kepala
sekolah.
.
Kata kunci: kepala sekolah, kompetensi guru, budaya mutu sekolah
Abstract
The quality of learning depends not only on the quality of students and the quality of teachers,
but also depends on seven other dimensions, namely curriculum, leadership, management,
infrastructure, society, environment, and cultural dimensions. And in the learning process the
main activity of students is learning and the main activity of teachers is teaching, so that the
dimension of learning and teaching becomes the main focus in School Quality Assurance. The
purpose of this research is so that the quality of education can meet government standards.
And as a leader is something that can influence others. The consequences of this research
method require the operationalization of variables that can be measured quantitatively in
such a way as to be able to use a hypothesis test model with statistical methods. This result is
reinforced by qualitative analysis that based on all the analyses that have been carried out
shows that the variables of leadership, Competency Improvement and Quality Culture are
JOURNAL SYNTAX IDEA
pISSN: 2723-4339 e-ISSN: 2548-1398
Vol. 6, No. 05, Mei 2024
Any Diana Vitasari, Ofri Somanedo, Irfo Somanedo
2394 Syntax Idea, Vol. 6, No. 05, Mei 2024
implemented in ECCE institutions where this research is conducted, but of the three variables
that have a significant influence is the principal's leadership variable
Keywords: principal, teacher competence, school quality culture
PENDAHULUAN
Bergeraknya semua kegiatan di sekolah yang melalui kemampuan konseptual yang
dimilikinya. Seorang kepala sekolah mengembangkan sekolah melalui kemampuan sosial, ia
menggerakkan, mengayomi, dan memberi rasa aman dan nyaman pada orang -orang di bawah
kepemimpinannya serta orang-orang di luar sekolah yang turut berkepentingan. Melalui
kemampuan teknis, kepala sekolah akan mendeskresikan cara melakukan pekerjaan dengan
mitra kerjanya. Mengkomunikasikan secara efektif tentang rencana, implementasi, dan hasi
kerja. Mengupayakan terbentuknya kerja sama kelompok dan pemimpin harus memiliki
komitmen yaitu niat yang kuat untuk melaksanakan tugas dan kewajiban yang diembannya
(Mulyasa, 2004) (Abdullah, 2020) (Soleh & Tobari, 2019) (Fitria & Suminah, 2020).
Faktor yang melatar belakangi rendahnya mutu itu sendiri antara lain, adanya
administrasi sekolah yang kurang baik, peranan kepemimpinan yang kurang baik dalam
mengembangkan mutu pendidikan seperti “sarana dan prasarana.” Kemudian tempat
berdirinya sekolah yang berada di perdesaan dan daerah perkotaan pasti akan berbeda baik
sarana prasarana, sumber daya manusia, ataupun manajemen yang ada di sekolah. Selain itu
faktor yang cukup berpengaruh adalah faktor kepemimpinan kepala sekolah dalam
meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
Landasan filsafat pendidikan memberi perspektif filosofis yang seyogyanya merupakan
“kacamata” yang dikenakan dalam memandang menyikapi serta melaksanakan tugasnya.
Landasan yuridis (Mulyah & Khoiri, 2023).;
1. Memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak dini usia,
terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung
2. Menjamin bahwa semua anak, khususnya anak perempuan, anak-anak dalam keadaan sulit
dan mereka yang termasuk minoritas etnik, mempunyai akses dan menyelesaikan
pendidikan dasar yang bebas dan wajib dengan kualitas baik.
3. Menjamin bahwa kebutuhan belajar semua manusia muda dan orang dewasa terpenuhi
melalui akses yang adil pada program-program belajar dan kecakapan hidup (life skills)
yang sesuai.
4. Mencapai perbaikan 50% pada tingkat keniraksaraan orang dewasa menjelang tahun 2015,
terutama bagi kaum perempuan, dan akses yang adil pada pendidikan dasar dan
berkelanjutan bagi semua orang dewasa.
5. Menghapus disparitas gender dalam pendidikan dasar dan menengah menjelang tahun
2005 dan mencapai persamaan gender dalam pendidikan menjelang tahun 2015 dengan
suatu fokus jaminan bagi perempuan atas akses penuh dan sama pada prestasi dalam
pendidikan dasar dengan kualitas yang baik.
Memperbaiki semua aspek kualitas pendidikan dan menjamin keunggulannya, sehingga
hasil belajar yang diakui dan terukur dapat diraih oleh semua, terutama dalam keaksaraan,
Dampak Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Peningkatan Kompetensi Guru Terhadap
Budaya Mutu Sekolah pada PAUD Inklusi di Kabupaten Banyuwangi
Syntax Idea, Vol. 6, No. 05, Mei 2024 2395
angka dan kecakapan hidup (life skills) yang penting. Dengan semangat dan jiwa Pasal 31
UUD 1945 tentang hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan dan Pasal 32 UU
Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengatur
mengenai Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus.
Dalam pengelolaannya, sekolah memerlukan penjaminan mutu, sebagai tolak ukur
untuk menilai keberhasilan atau kegagalan suatu lembaga pendidikan. Salah satu aspek
terpenting yang mempengaruhi kualitas pendidikan adalah kepemimpinan dan manajemen
mutu. Tujuan dari manajemen mutu pendidikan adalah untuk memelihara dan meningkatan
kualitas pendidikan secara berkelanjutan (sustainable), yang dijalankan secara sistemik untuk
memenuhi kebutuhan stake holders (Fadhli, 2017).
Diantara pemimpin pendidikan yang bermacam-macam jenis dan tingkatan, kepala
sekolah merupakan pimpinan pendidikan yang sangat penting karena kepala sekolah
berhubungan langsung dengan pelaksanaan program pendidikan di sekolah. Untuk
ketercapaian tujuan pendidikan sangat bergantung pada percakapan dan kebijakan kepala
sekolah sebagai salah satu pemimpin pendidikan. Peranan kepala sekolah dapat menentukan
keberhasilan maupun kualitas pendidikan di sebuah sekolah.
Sehingga dalam hal ini peranan kepala sekolah merupakan seorang pejabat yang harus
professional dalam organisasi sekolah yang bertugas mengatur semua sumber organisasi dan
bekerjasma dengan guru-guru dalam mendidik siswa untuk tercapainya tujuan pendidikan.
Kegiatan lembaga Pendidikan sekolah disamping diatur oleh pemerintah, sesungguhnya
sebagai besar ditentukan oleh aktivitas kepala sekolahnya. Kepala sekolah merupakan kunci
kesuksesan sekolah dalam mengadakan perubahan (Pidarta, 1990).
Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap semua kegiatan yang dilakukan di sekolah.
Sekarang ini, banyak kepala sekolah yang kurang berkompeten dalam melakukan manajemen
sekolahnya. Misalnya kurang tegasnya kepala sekolah dalam melakukan pengambilan
keputusan dalam menanggapi suatu masalah yang ada di sekolah dan kurang kreatifnya
kepala sekolah dalam memberikan pembaharuan di sekolah yang dikelola. Pemimpin
pendidikan merupakan sosok yang mengorganisasikan sumber-sumber daya insani dan
sumber-sumber daya fisik untuk mencapai tujuan organisasi pendidikan secara efektif dan
efesien. Peranan utama adalah mengembangkan dan mengimplementasikan prosedur dan
kebijaksanaan pendidikan yang dapat menghasilkan efesiensi pelaksanaan pendidikan.
Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap semua kegiatan yang dilakukan di sekolah.
Sekarang ini, banyak kepala sekolah yang kurang berkompeten dalam melakukan manajemen
sekolahnya. Misalnya kurang tegasnya kepala sekolah dalam melakukan pengambilan
keputusan dalam menanggapi suatu masalah yang ada di sekolah dan kurang kreatifnya
kepala sekolah dalam memberikan pembaharuan di sekolah yang dikelola (Sudrajat, 2023).
Pemimpin pendidikan merupakan sosok yang mengorganisasikan sumber-sumber daya
insani dan sumber-sumber daya fisik untuk mencapai tujuan organisasi pendidikan secara
efektif dan efesien. Peranan utama adalah mengembangkan dan mengimplementasikan
prosedur dan kebijaksanaan pendidikan yang dapat menghasilkan efesiensi pelaksanaan
pendidikan.
Any Diana Vitasari, Ofri Somanedo, Irfo Somanedo
2396 Syntax Idea, Vol. 6, No. 05, Mei 2024
Kepemimpinan merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin
dalam memimpin satu kelompok, baik teroganisasi maupun tidak, peranannya sangat penting
mengingat pemimpin adalah Central Figure dalam proses perencanaan, pelakasanaan, pemberi
motivasi, pengawasan sehingga tercapai tujuan-tujuan bersama dalam kelompok tersebut.
Dengan demikian kepemimpinan yang baik dapat meningkatkan kemampuan bawahan untuk
menunjukan kualitas kerja secara maksimal, sehingga pencapaian tujuan dapat dilakukan
secara efektif dan efesien. Pemimpin dalam kepemimpinan menampilkan beragam model dan
gaya yang akhirnya akan mengidentifikasi pemimpin tersebut kedalam tipe-tipe
kepemimpinan tertentu. Kepemimpinan adalah suatu kegiatan atau seni untuk mempengaruhi
perilaku orang-orang yang memimpin agar mau bekerja menuju kepada satu tujuan yang
ditetapkan atau diinginkan Bersama (Zainuddin & Mustaqim, 2008).
Kepemimpinan yaitu suatu kegiatan atau seni untuk mempengaruhi perilaku orang-
orang yang di pimpin agar mau bekerja menuju kepada satu tujuan yang di tetapkan atau hal
yang di inginkan bersama. Selanjutnya, fokus dari penelitian ini menggambarkan fungsi dari
peranan kepala sekolah sebagai pemimpin,”central figure” di sekolah Paud Inklusi di
Kabupaten Banyuwangidalam manajemen kepemimpinan kepala sekolah dalam usahanya
meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Dan strategi apa yang dilakukan kepala sekolah
dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah Paud Inklusi di Kabupaten Banyuwang
Probolinggo.
Susanti, (2015) mengemukakan bahwa kualitas guru adalah salah satu komponen
penting yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di
bidang pendidikan. Oleh karena itu, guru harus berperan secara aktif dan menempatkan
kedudukannya sebagai tenaga kompeten, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin
berkembang. Dalam hal ini guru tidak semata-mata sebagai pengajar, tetapi juga sebagai
pendidik nilai-nilai sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan pengarahan dan
menuntun siswa dalam belajar.
Mutu dari guru tersebut akan mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar, yang
berujung pada peningkatan mutu pendidikan. Untuk itu, guru dituntut lebih kompeten dalam
menjalankan tugasnya. Tugas guru menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14
Tahun 2005 pasal 20 Tentang Guru dan Dosen adalah merencanakan pembelajaran,
melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil
pembelajaran. Tugas pokok guru tersebut yang diwujudkan dalam kegiatan belajar mengajar
serta tugas-tugas guru dalam kelembagaan marupakan bentuk kompetensi guru. Apabila
kompetensi guru meningkat, maka berpengaruh pada peningkatan kualitas keluaran atau
outputnya. Oleh karena itu, perlu dukungan dari berbagai pihak sekolah untuk meningkatkan
kompetensi guru.
Mutu pembelajaran selain tergantung pada mutu siswa dan mutu guru, juga tergantung
pada tujuh dimensi lainnya, yakni kurikulum, kepemimpinan, manajemen, sarana-prasarana,
masyarakat, lingkungan, dan dimensi budaya. Dan dalam proses pembelajaran aktivitas utama
siswa adalah belajar dan aktivitas utama guru adalah mengajar, sehingga dimensi belajar dan
mengajar menjadi fokus utama dalam Penjaminan Mutu Sekolah (Meirawan, 2010).
Dampak Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Peningkatan Kompetensi Guru Terhadap
Budaya Mutu Sekolah pada PAUD Inklusi di Kabupaten Banyuwangi
Syntax Idea, Vol. 6, No. 05, Mei 2024 2397
Menurut Wahjosumidjo Hal ini disamping akibat ketidak mampuan manusia secara fisik
dalam mencapai berbagai tujuan, juga akibat sifat keberadaan sebagai makhluk social yang
selalu terdorong untuk bekerja sama dengan individu yang lainnya, manusia disamping
dikuasi oleh egonya, mereka akan merasa berbahagia apabila keberadaannya dapat diterima
oleh lingkungannya, hidup berkerja sama dengan manusia lainnya (Julaiha, 2019). Dari
penjelasan di atas dapat peneliti simpulkan bahwa menjadi seorang kepala sekolah atau
pemimpin itu tidaklah mudah. Kepala sekolah bukan hanya harus mampu memimpin tetapi
juga harus mampu bertidak secara professional. Agar mutu Pendidikan dapat memenuhi
standar pemerintah. Dan sebagai pemimpin merupakan hal yang dapat mempengaruhi orang
lain.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan tipe penelitian verifikatif yaitu penelitian yang bertujuan
menguji hipotesis. Sesuai dengan tujuan penelitian yang hendak dicapai, metode yang
digunakan adalah Explanatory Survey Method, yakni suatu metode penelitian survey yang
bertujuan menguji hipotesis dengan cara mendasarkan pada pengamatan terhadap akibat yang
terjadi dan mencari faktor-faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu
(Sugiyono, 2020). Konsekuensi metode penelitian ini memerlukan operasionalisasi variabel-
variabel yang dapat diukur secara kuantitatif sedemikian rupa untuk dapat digunakan model
uji hipotesis dengan metode statistika. Pendekatan penelitian ini menggunakan Mix Method
Squential Explanatory. Yang dimana dalam penelitian ini diawali kuantitatif terlebih dahulu
kemudian kualitatif.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner.
Digunakannya teknik pengumpulan data melalui kuesioner sejalan dengan metode yang
digunakan dalam penelitian ini. Dikatakan oleh Waruwu, (2023) bahwa "ciri lainnya dari
pendekatan survey explanatory adalah pengumpulan informasi diambil dari sampel atas
populasi dengan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul datanya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dampak Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Budaya Mutu Sekolah
Uji Linieritas Tabel 1. Uji Asumsi Linieritas Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap
Budaya Mutu Sekolah
ANOVA Table
Sum of
Squares
df
F
Sig.
Budaya Mutu *
Kepemimpinan
Kepala Sekolah
Between
Groups
(Combined)
384,534
10
20,15
8
,000
Linearity
323,266
1
169,4
58
,000
Deviation from
Linearity
61,268
9
3,569
,701
Within Groups
112,551
59
Any Diana Vitasari, Ofri Somanedo, Irfo Somanedo
2398 Syntax Idea, Vol. 6, No. 05, Mei 2024
Total
497,086
69
Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai Sig. (Probabilitas) pada masing-masing
variabel bebas bernilai > alpha (0,701 > 0,005). Hasil tersebut menunjukkan atau dapat
dinyatakan bahwa residual memiliki ragam yang homogen. Berdasarkan analisis tersebut
dapat disimpulkan bahwa uji linieritas terpenuhi.
Dampak Peningkatan Kompetensi Guru terhadap Budaya Mutu Sekolah
Tabel 2. Uji Asumsi Linieritas Peningkatan Kompetensi Guru terhadap Budaya Mutu
Sekolah
ANOVA Table
Sum of
Squares
df
Mean
Square
F
Sig.
Budaya Mutu *
Kompetensi
Guru
Between
Groups
(Combined)
472,597
17
27,800
59,030
,000
Linearity
445,687
1
445,687
946,378
,000
Deviation
from Linearity
26,910
16
1,682
3,571
,900
Within Groups
24,489
52
,471
Total
497,086
69
Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai Sig. (Probabilitas) pada masing-masing
variabel bebas bernilai > alpha (0,900 > 0,05). Hasil tersebut menunjukkan atau dapat
dinyatakan bahwa residual memiliki ragam yang homogen dan tidak terjadi masalah uji
linieritas. Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa uji linieritas terpenuhi dan
dapat dilanjutkan pada uji asumsi klasik lainnya.
Uji Asumsi Normalitas
Dampak Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Peningkatan Kompetensi Guru Terhadap
Budaya Mutu Sekolah pada PAUD Inklusi di Kabupaten Banyuwangi
Syntax Idea, Vol. 6, No. 05, Mei 2024 2399
Gambar 1. Grafik Probabilitas Dalam Uji Asumsi Normalitas
Pada Gambar 5. ditunjukkan titik tersebut bahwa terdapat residual cenderung tersebar di
antara garis diagonal, dengan demikian residual dinyatakan menyebar normal. Tahapan yang
bertujuan untuk menguatkan asumsi normalitas dengan grafik probabilitas, peneliti juga
menggunakan metode komogorov-smirnov. Berdasarkan output analisis terlihat bahwa nilai
Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,200 > taraf kepercayaan sebesar 5%. Berdasarkan hasil
tersebut, nilai rcsidual dinyatakan menyebar normal dan dcngan dcmikian asumsi normalitas
terpenuhi. Asumsi normalitas pada tahapan uji asumsi klasik merupakan syarat mutlak pada
penggunaan analisis regresi linier berganda. Analisis regresi linier berganda tidak dapat
dilakukan jika uji asumsi klasik tidak terpenuhi.
Tabel 3. Uji Asumsi Normalitas Menggunakan Kolmogorov-Smirnov
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N
70
Normal Parameters
a,b
Mean
,0000000
Std. Deviation
,85462449
Most Extreme Differences
Absolute
,093
Positive
,093
Negative
-,061
Test Statistic
,093
Asymp. Sig. (2-tailed)
,200
c,d
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.
Uji Asumsi Heteroskedastisitas
Tabel 4. Uji Asumsi Heteroskedastisitas
Coefficients
a
Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
t
Sig.
B
Std. Error
Beta
1
(Constant)
-,123
,946
-,130
,897
Kepemimpinan Kepala
Sekolah
-,069
,060
-,093
-1,154
,253
Kompetensi Guru
,336
,026
1,028
12,810
,070
a. Dependent Variable: Budaya Mutu
Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai Sig. (Probabilitas) pada masing-masing
variabel bebas bernilai > alpha (0,070 > 0,005). Hasil tersebut menunjukkan atau dapat
dinyatakan bahwa residual memiliki ragam yang homogen dan tidak terjadi masalah
heteroskedastisitas. Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa uji asumsi
heteroskedastisitas terpenuhi dan dapat dilanjutkan pada uji asumsi klasik lainnya.
Any Diana Vitasari, Ofri Somanedo, Irfo Somanedo
2400 Syntax Idea, Vol. 6, No. 05, Mei 2024
Uji Asumsi Multikolinieritas
Tabel 5. Uji Asumsi Multikolinieritas
Coefficients
a
Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
t
Sig.
Collinearity
Statistics
B
Std.
Error
Beta
Tolerance
VIF
1
(Constant)
-,123
,946
-,130
,897
Kepemimpinan
Kepala Sekolah
-,069
,060
-,093
-1,154
,253
,235
4,255
Kompetensi
Guru
,336
,026
1,028
12,810
,000
,235
4,255
A. Dependent Variable: Budaya Mutu
Tabel 5 dapat dilihat bahwa tidak terdapat variabel independen yng mcmiliki nilai
tolerance kurang dari 0,100 yang berarti tidak ada korelasi antar variable independen.
Berdasarkan nilai tolerance dapat dikatakan bahwa tidak terjadi multikolinearitas.
Multikolinieritas juga diuji dengan menghitung nilai VIF (variance inflating factor). Semua
nilai VIF pada tabel coefficients menunjukkan angka kurang dari lima. Berdasarkan nilai VIF
dapat disimpulkan bahwa model pada penelitian ini memenuhi syarat untuk menjadi model
regresi yang baik karena tidak terjadi korelasi antar variabel independen (non-
multikolinearitas).
Pengaruh Kepemimpinan Strategis Dan Motivasi Terhadap Kemampuan Berfikir Kritis
Siswa
Pengaruh Secara Parsial
Pengaruh parsial dimaknai pcngaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel
terikat. Variabel bebas terdiri dari kepemimpinan strategis yang diuji secara parsial terhadap
tingkat berpikir kritis siswa. Variabel bebas lainnya yakni motivasi yang diuji secara parsial
terhadap variabel terikat tingkat berpikir kritis siswa.
Tabel 6. Hasil Uji Hipotesis Secara Parsial
Coefficients
a
Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
T
Sig.
B
Std. Error
Beta
1
(Constant)
-,123
,946
-,130
,897
Kepemimpinan Kepala
Sekolah
,069
,060
-,093
1,154
,253
Kompetensi Guru
,336
,026
1,028
,810
,007
A. Dependent Variable: Budaya Mutu
Perhitungan pada tabel 6 menunjukkan nilai t pada variabel kepemimpinan kepala
sekolah (X
1
) bernilai 0,810 dengan probabilitas sebesar 0,007 sedangkan nilai alpha sebesar
Dampak Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Peningkatan Kompetensi Guru Terhadap
Budaya Mutu Sekolah pada PAUD Inklusi di Kabupaten Banyuwangi
Syntax Idea, Vol. 6, No. 05, Mei 2024 2401
0,05 (5%). Hal ini menunjukkan bahwa nilai probabilitas > alpha, sehingga H
a
diterima. Hasil
tersebut menyatakan bahwa secara parsial kepemimpinan kepala sekolah (X
1
) berpengaruh
signifikan terhadap tingkat budaya mutu sekolah (Y). Koefisien kepemimpinan kepala
sekolah sebesar 0,810 bertanda positif, menunjukkan kepemimpinan kepala sekolah
berpengaruh positif terhadap budaya mutu sekolah. Hal ini berarti semakin tinggi
kepemimpinan kepala sekolah maka cenderung semakin kuat pula budaya mutu sekolah.
Hasil analisis yang lain yakni nilai t pada variabel kompetensi guru (X
2
) bernilai 1,154
dengan probabilitas sebesar 0,253 sedangkan nilai alpha sebesar 0,05 (5%). Hal ini
menunjukkan bahwa nilai probabilitas < alpha, sehingga H
a
diterima. Hasil tersebut
menunjukkan secara parsial kompetensi guru (X
2
) berpengaruh signifikan terhadap tingkat
budaya mutu sekolah (Y). Koefisien kompetensi guru sebesar 0,069, menunjukkan
kompetensi guru berpengaruh positif terhadap tingkat budaya mutu sekolah. Hal ini
menunjukkan semakin tinggi kompetensi guru, maka cenderung semakin meningkat pula
budaya mutu sekolah.
Pengaruh Secara Simultan
Tabel 7. Besaran Pengaruh Secara Simultan
Model Summary
Model
R
R Square
Adjusted R Square
Std. Error Of The Estimate
1
,748
a
,899
,706
,86729
A. Predictors: (Constant), Kompetensi Guru, Kepemimpinan Kepala Sekolah
Hasil analisis menyatakan bahwa nilai adjusted R square (R
2
) sebesar 0,706 (70,6%),
artinya besarnya keragaman variabel tingkat budaya mutu (Y) yang dapat dijelaskan oleh
variabel kepemimpinan kepala sekolah (X
1
) dan kompetensi guru (X
2
) sebesar 70,6%. Hasil
tersebut memiliki makna yakni besar kontribusi variabel kepemimpinan kepala sekolah (X
1
)
dan kompetensi guru (X
2
) terhadap budaya mutu sekolah (Y) sebesar 70,6%, sisanya sebesar
29,4% merupakan kontribusi variabel lain yang bukan termasuk dalam model tersebut. Nilai
dari korelasi berganda (R) sebesar 0,748 menunjukkan hubungan yang kuat antara variabel
kepemimpinan kepala sekolah (X
1
) dan kompetensi guru (X
2
) secara keseluruhan dengan
variabel budaya mutu (Y). Hasil analisis menunjukkan bahwa model dinyatakan cukup layak.
Tabel 8. Uji Signifikansi Secara Simultan
Anova
a
Model
Sum Of Squares
Df
Mean Square
F
Sig.
1
Regression
446,689
2
223,345
296,928
,000
b
Residual
50,396
67
,752
Total
497,086
69
A. Dependent Variable: Budaya Mutu
B. Predictors: (Constant), Kompetensi Guru, Kepemimpinan Kepala Sekolah
Hasil perhitungan pada tabel 8. menunjukkan statistik uji F hitung sebesar 296,928
dengan probabilitas sebesar 0,000, sedangkan nilai alpha sebesar 0,05 (5%). Hal ini
menunjukkan bahwa nilai probabilitas > alpha, sehingga H
a
diterima. Berdasarkan nilai
probabilitas dinyatakan bahwa terdapat dampak yang signifikan secara simultan variabel
kepemimpinan kepala sekolah (X
1
) dan kompetensi guru (X
2
) terhadap budaya mutu sekolah
(Y).
Temuan Analisis Data Kualitatif
Any Diana Vitasari, Ofri Somanedo, Irfo Somanedo
2402 Syntax Idea, Vol. 6, No. 05, Mei 2024
Berdasarkan hasil penelitian kualitatif yang diperkuat dengan analisis kuantitatif, maka
didapatkan hasil penelitian kualitatif sebagai berikut.
a. Model kepemimpinan yang diterapkan di Lembaga PAUD khususnya yang menjadi lokasi
penelitian ini menerapkan model kepemimpinan partisipatif, model kepemimpinan
distributif, dan berkembang menjadi kepemimpinan disruptif, sementara itu model
manajemen yang diterapkan adalah model manajemen kolegial atau model kebersamaan
yang akrab.
b. Ketangkasan kepemimpinan telah mewarnai peningkatan kompetensi guru yang terjadi di
Lembaga PAUD yang menjadi lokasi penelitian ini, namun ketangkasan kepemimpinan
tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepemimpinan disruptif yang terjadi
Lembaga PAUD tersebut.
c. Kepemimpinan interprofesional menjadi variabel yang berpengaruh terhadap peningkatan
kompetensi guru yang terjadi di Lembaga PAUD tempat penelitian ini dilakukan. Hal itu
menegaskan bahwasanya peningkatan kompetensi guru di Lembaga PAUD tempat
penelitian ini dilakukan harus mempertimbangkan dan menguatkan kepemimpinan
interprofessional agar peningkatan kompetensi guru yang terjadi di Lembaga PAUD
tersebut semakin kuat.
d. Kesopanan dan inklusivitas menjadi sebuah aspek yang dijalankan dalam kepemimpinan
kepala sekolah yang terjadi di Lembaga PAUD tempat penelitian ini terjadi, namun
variabel kesopanan dan inklusivitas ini tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
budaya mutu yang terjadi di Lembaga PAUD tempat penelitian ini dilaksanakan.
e. Variabel komunikasi strategi juga menjadi aspek yang dijalankan dalam kepemimpinan
disruptif di Lembaga PAUD tempat penelitian ini dilakukan, namun juga tidak
berpengaruh terhadap kepemimpinan kepala sekolah yang terjadi di Lembaga PAUD
tersebut.
f. Budaya Mutu menjadi variabel yang dipengaruhi kepemimpinan Kepala Sekolah yang
terjadi di Lembaga PAUD tempat penelitian ini terjadi, maka dari itu variabel Budaya
Mutu menjadi variabel yang layak untuk diperhatikan secara inten dan perlu untuk selalu
dikembangkan serta tidak boleh untuk diabaikan.
g. Peningkatan Kompetensi Guru menjadi fokus dalam kepemimpinan kepala sekolah yang
terjadi di Lembaga PAUD tempat penelitian ini dilakukan, namun demikian variabel
Peningkatan Kompetensi Guru ini tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
kepemimpinan yang terjadi di Lembaga PAUD tersebut.
h. Berdasarkan semua analisis yang telah dilakukan menjukkan bahwasanya variabel
kepemimpinan, Peningkatan Kompetensi dan Budaya Mutu diimplementasikan di
Lembaga PAUD tempat penelitian ini dilakukan, namun dari tiga variabel tersebut yang
berpengaruh secara signifikan adalah variabel kepemimpinan kepemimpinan kepala
sekolah.
Pembahasan ini dikaji beberapa hal, yakni: (1) Dampak Kepemimpinan Kepala Sekolah
Terhadap Budaya Mutu Sekolah Pada Paud Inklusi di Kabupaten Banyuwangi, (2) Dampak
Peningkatan Kompetensi Guru Terhadap Budaya Mutu Sekolah Pada Paud Inklusi di
Kabupaten Banyuwangi, (3) Dampak Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Peningkatan
Kompetensi Guru Terhadap Budaya Mutu Sekolah Pada Paud Inklusi di Kabupaten
Banyuwangi. Berikut pemaparan hasil pembahasan.
Dampak Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Budaya Mutu Sekolah Pada Paud
Inklusi di Kabupaten Banyuwangi
Dampak Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Peningkatan Kompetensi Guru Terhadap
Budaya Mutu Sekolah pada PAUD Inklusi di Kabupaten Banyuwangi
Syntax Idea, Vol. 6, No. 05, Mei 2024 2403
Berdasarkan data yang diteliti penggunaan analisa regresi linier ganda menyatakan
Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Budaya Mutu Sekolah Pada Paud Inklusi di
Kabupaten Banyuwangi. Teori Kepemimpinan ini terdapat antara manusia yaitu hubungan
mempengaruhi (dari pemimpin) dan hubungan kepetuhan-kepatuhan para pengikut/
bawahannya karena dipengaruhi oleh kewibawaan pemimpin. Para pengeikut terkena
pengaruh kekuatan dari pemimpinnya dan bangkitlah secara spontan rasa ketaatan pada
pemimpin (Sunarso, 2023). Sesuai dengan Grand Theory Grand Theory ini berdasarkan
Sunarso, (2023) menyatakan bahwa hubungan yang erat antara seorang dan sekelompok
manusia karena adanya kepentingan bersama, hubungan itu ditandai oleh tingkah laku yang
tertuju dan terbimbing dari manusia yang hanya seorang itu. Manusia atau orang ini biasanya
disebut yang memimpin atau pemimpin, sedangkan kelompok manusia yang mengikutinya
disebut yang dipimpin. Menurut Rahman, (2006) mengartikan kepemimpinan adalah suatu
kegiatan dalam membimbing suatu kelompok sedemikian rupa sehingga tercapailah tujuan
itu. Memandang bahwa kepemimpinan tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah,
karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan diri dengan
bawahannya.
Berdasarkan data yang diteliti penggunaan analisa kualitiatif menyatakan
Kepemimpinan Strategis kepala sekolah terhadap budaya mutu di Paud Inklusi di Kabupaten
Banyuwangi. Bahwa berpengaruh secara signifikan. Dan hasil ini bisa dibuktikan pada
pengambilan data kuantitatif maupun kualitatif.
Hasil peneilitian menyatakan bahwa kepemimpinan pada hakikatnya adalah proes
mempengaruhi atau member contoh dari pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya
mencapai tujuan organisasi seni mempengaruhi dan mengarahkan orang dengan cara
kepatuhan, kepercayaan, kehormatan, dan kerja sama yang bersemangat dalam mencapai
tujuan bersama.. Keberhasilan suatu lembaga Pendidikan sangat tergantung pada
kepemimpinan kepala sekolah.
Selain itu, bahwa Kepemimpinan kepala sekolah sangat luas sekali bagi satu individu.
Sebuah solusi dapat diberikan dengan keterlibatan dan bantuan orang lain untuk memenuhi
tugas dan tuntuan terbatas, sumber daya yang dikumpulkan. Kepala sekolah adalah suatu
alternative praktis. Suatu pendekatan bersama atau tim dapat meningkatkan efesiensi dan
efektifitas kepemimpinan (Mulyasa, 2004). Hal ini membawa dampak yang baik bagi sekolah
khususnya dalam menerapkan sekolah penggerak sebagai contoh untuk di masa yang akan
dating. Namun hal ini perlu adanya monitoring evaluasi secara berkala.
Dampak Peningkatan Kompetensi Guru Terhadap Budaya Mutu Sekolah Pada Paud
Inklusi di Kabupaten Banyuwangi.
Berdasarkan data yang diteliti penggunaan analisa regresi linier ganda menyatakan yaitu
Dampak Peningkatan Kompetensi Guru Terhadap Budaya Mutu Sekolah Pada Paud Inklusi di
Kabupaten Banyuwangi. Pidarta dalam Kusen, Hidayat, Fathurrochman, &
Hamengkubuwono, (2019) menjelaskan bahwa kompetensi guru akan menjadi optimal,
bilamana diintegrasikan dengan komponen sekolah, seperti kepala sekolah, kondisi sekolah,
guru, karyawan dan anak didik.
Any Diana Vitasari, Ofri Somanedo, Irfo Somanedo
2404 Syntax Idea, Vol. 6, No. 05, Mei 2024
Keberhasilan pendidikan di sekolah sangat ditentukan oleh kompetensi guru, juga
keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola tenaga kependidikan yang tersedia di sekolah.
Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang berpengaruh dalam
meningkatkan kompetensi guru. Kepala sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan
kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan
pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana Hal tersebut menjadi lebih penting
sejalan dengan semakin kompleksnya tuntutan tugas kepala sekolah, yang menghendaki
dukungan kinerja yang semakin efektif dan efisien.
Hasil analisis kualitatif menjeleaskan bahwa Peningkatan Kompetensi Guru menjadi
fokus dalam kepemimpinan kepala sekolah yang terjadi di Lembaga PAUD tempat penelitian
ini dilakukan, namun demikian variabel Peningkatan Kompetensi Guru ini tidak berpengaruh
secara signifikan terhadap kepemimpinan yang terjadi di Lembaga PAUD tersebut.
Di dalam perumusan pendapat yang diambil grand theory dari Mulyasa, (2004)
Kompetensi yang diperlukan oleh seseorang tersebut dapat diperoleh baik melalui pendidikan
formal maupun pengalaman.. Kompetensi adalah kemampuan atau kecakapan. Pendapat lain
dijelaskan Mulyasa, (2004) mengemukakan bahwa kompetensi sebagai pengetahuan,
keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari
dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psiko motoric
dengan sebaik-baiknya. Berdasarkan penjelaskan di atas bahwa kompetensi tidak hanya
mengandung pengetahuan, keterampilan dan sikap, namun yang penting adalah penerapan
dari pengetahuan, keterampilan dan sikap direalisasikan dalam pelaksanaan pekerjaan yang
dibebankan kepadanya dengan penuh tanggung jawab sebagai guru yang profesional.
Dampak Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Peningkatan Kompetensi Guru Terhadap
Budaya Mutu Sekolah Pada Paud Inklusi di Kabupaten Banyuwangi.
Berdasarkan hasil uji hipotesis menggunakan analisis regresi linier secara simultan
menyatakan bahwa terdapat dampak yang positif dan dan signifikan antara Dampak
Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Peningkatan Kompetensi Guru Terhadap Budaya Mutu
Sekolah Pada Paud Inklusi di Kabupaten Banyuwangi. Berikut pemaparan hasil pembahasan.
Nilai angka tersebut sebesar sebesar 70,6%, sisanya sebesar 29,4% dipengaruhi oleh variabel
lain.
Hasil ini didukung berdasarkan kajian yang analisis kualitatif yang mana bahwa
berdasarkan semua analisis yang telah dilakukan menjukkan bahwasanya variabel
kepemimpinan, Peningkatan Kompetensi dan Budaya Mutu diimplementasikan di Lembaga
PAUD tempat penelitian ini dilakukan, namun dari tiga variabel tersebut yang berpengaruh
secara signifikan adalah variabel kepemimpinan kepemimpinan kepala sekolah.
Hasil dari teori diatas peneliti menyampaikan beberapa kajian penelitian yang relevan
yang berjudul Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah, Pengambilan Keputusan, Dan Budaya
Organisasi Terhadap Disiplin Kerja bahwa pemaparan yang disampaikan oleh Khosiin (2021)
bahwa Hasil penelitian membuktikan: (1) Tidak ada pengaruh antara kepemimpinan kepala
sekolah terhadap pekerjaan disiplin; (2) Tidak ada pengaruh antara pengambilan keputusan
terhadap disiplin kerja; (3) Ada pengaruh antara budaya organisasi dengan disiplin kerja; (4)
Dampak Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Peningkatan Kompetensi Guru Terhadap
Budaya Mutu Sekolah pada PAUD Inklusi di Kabupaten Banyuwangi
Syntax Idea, Vol. 6, No. 05, Mei 2024 2405
Tidak ada pengaruh antara kepemimpinan kepala sekolah, pengambilan keputusan, dan
budaya organisasi secara bersama-sama dengan disiplin kerja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Blended learning dalam mengelola, dan
memutuskan merupakan salah satu yang berdampak dalam Prestasi Belajar Siswa Kelas.
Berdasarkan dari gambaran data yang diteliti memaparkan sebenarnya siswa mempunyai
kesenangan dalam pembelajaran blended learning ini. Namun dalam pelaksanaannya luring
memiliki nilai hasil yang lebih baik dengan pemanfaatn media pembelajaran yang tepat, dan
sesuai dengan pembelajaran yang akan diterapkan.
Selanjutnya bagian terkait Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam
Mengembangkan Mutu Sumber Daya Pendidik Di Sekolah. Hasil yang diungkapkan Amin
(2021) bahwa 1) kebijakan mengembangkan mutu sumber daya guru, yaitu kecakapan untuk
meningkatkan sikap profesionalitas secara berkelanjutan, kemampuan menjadi pembelajar
sejati, menyusun karya ilmiah sesuai bidang keilmuannya, yakni pendidikan, dan menjalankan
tugas lain sesuai tuntutan kompetensi professional; 2) membentuk kelompok kerja guru
(POKJA guru), menugaskan dalam forum-forum akademik, supervisi, diskusi bersama ahli
dan pemerhati pendidikan, memfasilitasi untuk studi lanjut dan studi banding,
pengejawantahan nilai-nilai Islami, misalnya melakukan pengajian bersama, berkontribusi
positif dalam menciptakan iklim kerja