How to cite:
Sukeksi Dyah Intanningrum, Iswinarti (2024) Perceived Barrier Perawatan Gigi Jangka Panjang
pada Pasien Anak di Instalasi Gigi dan Mulut RSUD Dr. Saiful Anwar Malang, (06) 05,
https://doi.org/10.36418/syntax-idea.v3i6.1227
E-ISSN:
2684-883X
Published by:
Ridwan Institute
PERCEIVED BARRIER PERAWATAN GIGI JANGKA PANJANG PADA PASIEN
ANAK DI INSTALASI GIGI DAN MULUT RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG
Sukeksi Dyah Intanningrum, Iswinarti
Universitas Muhammadiyah Malang, Indonesia
Abstrak
Banyak sekali terdapat hambatan ketika seseorang ingin melakukan sebuah usaha ke arah
sehat bagi dirinya. Perceived barrier/hambatan dalam menuju sehat tersebut sangat jamak
ditemukan. Penelitian ini berusaha menggali informasi tentang hal-hal apa saja yang dapat
menjadi hambatan dalam menjalani rekomendasi sehat dari profesional. Penelitian tentang
perceived barrier dalam perawatan gigi pada anak yang menjalani perawatan jangka panjang
ini mengambil subjek penelitian dari orang tua pasien anak yang sedang menjalani perawatan
gigi dan mulut jangka panjang di Instalasi Gigi dan Mulut RSUD Dr. Saiful Anwar Malang.
Teknik pengumpulan data dengan melakukan observasi, wawancara mendalam, dan
dokumentasi. Validasi data dengan menggunakan uji kredibilitas, transferabilitas,
dependabilitas, dan konfirmabilitas. Teknik analisa data melalui pengkodean,
pengkategorisasian, dan interpretasi data melalui proses induktif. Hasil yang didapat dari
penelitian mengenai perceived barrier pada perawatan jangka panjang di Instalasi Gigi dan
Mulut RSUD Dr. Saiful Anwar Malang adalah adanya perceived barrier (hambatan) orang tua
pasien anak yang menyebabkan terjadinya penundaan dalam menjalani perawatan jangka
panjang. Terdapat beberapa faktor perceived barrier yang ditemukan yaitu terganggunya
pembelajaran anak di sekolah, jarak antara rumah dengan pusat layanan kesehatan dan
pengetahuan orang tua terkait perawatan gigi dan mulut jangka panjang.
.
Kata kunci: Perceived barrier, perawatan gigi jangka panjang, penyakit gigi dan mulut.
Abstract
There are so many obstacles when someone wants to make an effort in a healthy direction for
himself. Perceived barriers to health are very common. This study seeks to explore
information about what things can be obstacles in undergoing healthy recommendations from
professionals. This research on perceived barriers in dental care in children undergoing
long-term care took research subjects from parents of pediatric patients who were
undergoing long-term dental and oral care at the Dental and Oral Installation of Dr. Saiful
Anwar Hospital Malang. Data collection techniques by conducting observations, in-depth
interviews, and documentation. Data validation using credibility, transferability,
dependability, and confirmability tests. Data analysis techniques through coding,
categorization, and interpretation of data through an inductive process. The results obtained
from research on perceived barriers in long-term care at the Dental and Oral Installation of
Dr. Saiful Anwar Hospital Malang are the perceived barrier (barriers) of parents of child
JOURNAL SYNTAX IDEA
pISSN: 2723-4339 e-ISSN: 2548-1398
Vol. 6, No. 05, Mei 2024
Sukeksi Dyah Intanningrum, Iswinarti
2234 Syntax Idea, Vol. 6, No. 05, Mei 2024
patients that cause delays in undergoing long-term care. There are several perceived barrier
factors found, namely disruption of children's learning at school, distance between home and
health care centers and parents' knowledge regarding long-term dental and oral care.
Keywords: Perceived barrier, long-term dental care, dental and oral diseases
.
PENDAHULUAN
Penyakit gigi dan mulut merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak dijumpai
di masyarakat. Menurut data Riskesdas Jawa Timur tahun 2018 dilaporkan bahwa kota
Malang proporsi masalah gigi dan mulut mencapai 70% sedangkan yang mendapat
penanganan hanya sekitar 20 %. Penyakit gigi dan mulut menjadi 10 besar penyakit yang
sering dikeluhkan oleh masyarakat (Aldilawati, Wijaya, & Hasanuddin, 2021). Penyakit gigi
dan mulut merupakan penyakit yang mudah sekali menyerang semua kelompok masyarakat,
baik usia anak-anak maupun dewasa. Lebih lanjut menurut data Riskesdas tahun 2018
menyatakan bahwa karies gigi pada kelompok umur 5-9 tahun mencapai 92,6 %, sedangkan
pada kelompok umur 10-14 tahun mencapai 73,4 % (Depkes, 2011). Dari gambaran
prosentase tersebut menunjukkan masih begitu tingginya prevalensi angka kesakitan karies
gigi pada anak-anak. Penyakit gigi dan mulut ini secara umum biasanya muncul disebabkan
karena berbagai faktor. Karies gigi sering dihubungkan dengan kebiasaan yang dilakukan
seseorang. Abai terhadap kebersihan rongga mulut merupakan hal yang jamak terjadi.
Kesadaran yang kurang akan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan rongga mulut
menjadi hal yang biasa terjadi di masyarakat. Kesadaran bahwa rongga mulut merupakan
pusat masuknya segala penyakit belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat. Serta
minimnya pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut menjadi beberapa hal yang
menyebabkan penyakit gigi dan mulut banyak dijumpai. Karies gigi dikorelasikan dengan
gaya hidup yang dijalani oleh masyarakat, serta perilaku menjaga higinitas yang harus terus-
menerus dilakukan oleh masyarakat (Manu, Ratu, & Hane, 2022).
Pada perawatan gigi anak tingkat keparahan rongga mulut akan sangat menentukan
perawatan yang akan dijalani oleh anak. Terdapat banyak jenis perawatan yang bisa dilakukan
pada anak dan salah satunya adalah perawatan jangka panjang yaitu suatu perawatan yang
dilakukan dengan jangka waktu yang lama dan berulang (Bluestone, 2014). Perawatan ini
biasanya diberikan pada gigi dengan diagnose pulpitis irreversible dan gangrene pulpa. Jenis
perawatan ini salah satunya adalah perawatan saluran akar yang dilakukan sebayak 4-8 kali
kunjungan dengan periode kontrol satu minggu sekali. Atau perawatan ortodonsi dan
apeksifikasi adalah beberapa dari perawatan jangka panjang yang dilakukan pada anak.
Perawatan ini cukup menyita waktu, tenaga, dan biaya bagi orang tua maupun anak yang
menjalaninya. Namun sesuai dengan pengalaman peneliti terdapat kemauan dan motivasi
yang kuat dari orang tua dan anak untuk tetap melakukan dan melanjutkan perawatan sampai
akhir.
Terdapat tiga hal penting dalam mengubah perilaku sehat individu, yakni terdapatnya
pengetahuan, persepsi dan sikap yang sangat fundamental untuk dapat mempengaruhi
perilaku seseorang untuk menjadi sehat. Beberapa penelitian terkait hal tersebut telah
Perceived Barrier Perawatan Gigi Jangka Panjang pada Pasien Anak di Instalasi Gigi dan
Mulut RSUD Dr. Saiful Anwar Malang
Syntax Idea, Vol. 6, No. 05, Mei 2024 2235
dilakukan, dan hasilnya mengindikasikan bahwa terdapat kurangnya pengetahuan dari
individu terkait masalah-masalah kesehatan yang ada. Hal ini sangat penting karena
pengetahuan akan kesehatan dapat mempengaruhi sikap seseorang untuk berperilaku
(Ratnapradipa, Brown, Middleton, & Wodika, 2011). Health Belief Model (HBM) merupakan
sebuah teori yang dapat menjembatani seseorang untuk berperilaku sehat untuk mendukung
kualitas hidupnya. Terdapat 4 konstruk yang dibangun dalam teori ini , yakni perceive
severity (keparahan), perceive susceptibility (kerentanan), perceive barrier (penghalang),
perceive benefit (manfaat). Keempat konstruk tersebut akan dapat mempengaruhi seseorang
untuk berperilaku ke arah sehat atau tidak (Janz & Becker, 1984).
Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui persepsi orang tua dengan pendekatan health
belief model (HBM) dengan perceive barrier dan faktor-faktornya sebagai fokus penelitian
terhadap kemungkinan adanya potensi hambatan dalam melakukan perawatan gigi anak yang
bersifat jangka panjang yang akan berhubungan dengan motivasi mereka untuk tetap
melanjutkan perawatan sesuai dengan instruksi dari dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak.
Fokus penelitian ini ditujukan pada orang tua pasien dan pasien anak yang melakukan
perawatan gigi di Instalasi Gigi dan Mulut RSUD Dr. Saiful Anwar Malang untuk
mendapatkan gambaran deskriptif dan naratif mengenai perceived barrier yang dialami orang
tua pasien dan pasien serta faktor-faktor penyebabnya.
Perceived barrier sering dialami orang tua dan pasien anak ketika dihadapkan pada
perawatan gigi jangka panjang yang membutuhkan ketersediaan waktu untuk melakukan
perawatan gigi berkala Di sisi lain, Perawatan gigi jangka panjang diperlukan untuk
mendapatkan hasil yang baik dari perawatan gigi yang ideal. Keadaan ini akan menimbulkan
kesenjangan dan kegagalan perawatan gigi yang disebabkan ketidakberlanjutan perawatan
gigi pada pasien anak karena adanya perceived barrier. Oleh karena itu pertanyaan dalam
penelitian ini adalah apakah terdapat perceived barrier yang dialami orang tua dan pasien anak
selama menjalani perawatan gigi dan mulut di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang. Apakah
faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perceived barrier.
Untuk mengetahui bagaimana persepsi orang tua terhadap perawatan gigi yang bersifat
long term/jangka panjang yang berkaitan dengan perceive barrier orang tua dan faktor-faktor
untuk tetap melanjutkan perawatan gigi anak sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh
Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak. Sebagai bahan rekomendasi berkelanjutan
untuk mendapatkan model perawatan yang terbaik dengan mempertimbangkan perceived
barrier pada orang tua pasien dan pasien anak.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan penjelasan secara deskriptif dan naratif
mengenai persepsi orang tua yang berkaitan dengan motivasinya untuk melanjutkan
perawatan jangka panjang pada anak di Istalasi Gigi dan Mulut RSUD Dr. Saiful Anwar
Malang dan mencoba untuk mencari pola perawatan kesehatan gigi dan mulut yang baik.
Dengan demikian cakupan penelitian ini terbatas pada apa saja yang terjadi di dalam Instalasi
Gigi dan Mulut RSUD Dr. Saiful Anwar Malang yang sedang diteliti. Maka dari itu,
penelitian ini memiliki design penelitian kualitatif dengan studi kasus. Studi kasus merupakan
Sukeksi Dyah Intanningrum, Iswinarti
2236 Syntax Idea, Vol. 6, No. 05, Mei 2024
suatu design penelitian kualitatif yang memiliki strategi penelitian berupa melakukan
eksplorasi mendalam terhadap suatu program, kejadian, aktifitas, proses pada satu atau
beberapa individu pada lokasi tertentu dan terbatas pada satu kurun waktu tertentu (Bloor &
Wood, 2006; Creswell & Creswell, 2017).
Pada Instalasi Gigi dan Mulut RSUD Dr. Saiful Anwar terdapat 5 departemen. Yang
salah satunya adalah departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak (IKGA/Pediatric Dentistry).
Menurut WHO ruang lingkup kerja departemen ini adalah pasien-pasien anak di bawah 18
tahun. Di departemen IKGA terdapat dua orang dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak dan
satu orang dental assistant. Pelayanan yang diberikan meliputi:
1. Pelayanan bedah anak (pelayanan komprehensif dengan general anastesi, pelayanan bedah
minor, contohnya eksisi polip, ekstirpasi mucocele, dan lain-lain)
2. Pelayanan non bedah anak (pelayanan komprehensif rawat jalan/ di poli gigi berupa
pelayanan promotive/DHE, pelayanan preventif yaitu ortho fixed pada anak-anak untuk
mencegah terjadinya anomali gigi dan rahang, pelayanan kuratif, yaitu penumpatan,
perawatan saluran akar, dan lain-lain, serta pelayanan rehabilitative contohnya pembuatan
gigi tiruan pada anak, dan lain-lain).
Partisipan dalam penelitian ini adalah orang tua pasien anak yang melakukan perawatan
komprehensif di Instalasi Gigi dan Mulut RSUD Dr. Saiful Anwar Malang. Data berasal dari
berbagai sumber data yaitu berupa deskripsi dan narasi yang di dapat oleh peneliti melalui
wawancara, observasi terhadap kondisi rongga mulut anak serta dokumen-dokumen terkait
seperti E-RM, SOP, dan lain-lain.
Teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, obeservasi partisipatif, dan
dokumentasi (Sugiono, 2019). Terdapat empat kriteria dalam menguji keabsahan data untuk
meningkatkan nilai kepercayaan dalam penelitian kualitatif, yaitu:
1. Kredibilitas (credibility) yaitu dengan menggunakan metode triangulasi sumber data
2. Transferabilitas (Transferability) yaitu dengan menyediakan deskripsi yang cukup tentang
kontek penelitian yang dilakukan
3. Dependabilitas (Depandability) yaitu dengan menguji data temuan untuk memeriksa
konsistensi
4. Konfirmabilitas (confirmability) yaitu dengan memastikan bahwa kredibilitas,
transferabilitas, dan dependabilitas tercapai (Lincoln & Guba, 2013).
Analisa data pada penelitian kualitatif adalah sebuah proses yang sistematis melalui
pengkodean, pengkategorisasian, dan interpretasi data untuk memberikan penjelasan tentang
satu fenomena dengan melakukan proses induktif melalui pengorganisasian data ke dalam
kategori dan mengidentifikasi pola dan hubungan antarkategori (Flick, 2013; Maxwell, 2018;
McMillan & Schumacher, 2010)