How to cite:
Marianus Tapung (2024) Pendekatan Lesson Study pada Kegiatan Lokakarya Implementasi Kurikulum
Merdeka di SMAN 1 Lelak Kabupaten Manggarai, (6) Issue, https://doi.org/
E-ISSN:
2684-883X
Published by:
Ridwan Institute
PENDEKATAN LESSON STUDY PADA KEGIATAN LOKAKARYA
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DI SMAN 1 LELAK
KABUPATEN MANGGARAI
Marianus Tapung
Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, NTT, Indonesia
Abstrak
Pendekatan Lesson Study merupakan pendekatan pembelajaran kolaboratif yang efektif
dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengembangan kurikulum Merdeka pada
satuan pendidikan. Tujuan kegiatan ini untuk menguatkan kapasitas guru-guru di SMAN
1 Lelak Kabupaten Manggarai dalam mengimplementasi Kurikulum Merdeka. Dari
umpan balik setelah kegiatan berlangsung, tingkat partisipasi dan pemahaman 65 Guru
SMA Negeri 1 Lelak terhadap tahapan Perencanaan Pembelajaran, Praktik Pembelajaran,
Pengamatan Pembelajaran, Diskusi dan Analisis, sudah masuk dalam kategori “baik”
(4,45) dari skala 1-4. Sementara tahapan Refleksi perbaikan dan Implementasi Lanjutan,
praktik Lesson Study, masih dalam kategori “kurang baik” (3,6). Dalam hal ini, perlu ada
upaya dari sekolah untuk meningkatkan kemampaun refleksi, perbaikan dan
implementasi lanjutan dari para guru dalam kegiatan praktik pembelajaran di kelas. Jadi,
pendekatan Lesson Study sangat efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan
pengembangan kurikulum bagi guru-guru di SMAN 1 Lelak Kabupaten Manggarai. Para
guru-guru berhasil memperbaiki keterampilannya dalam menyusun perangkat ajar dan
mengimplementasikannya dalam kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang efektif
melalui praktik Lesson Study. Kegiatan lokakarya yang diadakan dapat dijadikan contoh
bagi sekolah-sekolah lain untuk menerapkan praktik Lesson Study dalam rangka
meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengembangan kurikulum yang lebih adaptif
dan kolaboratif.
Kata kunci: Lesson Study, Kurikulum Merdeka, Lokakarya
PENDAHULUAN
Praktik Lesson Study (LS) adalah sebuah pendekatan pengembangan
profesionalisme guru yang berasal dari Jepang (Fernandez & Chokshi, 2002). Pendekatan
ini melibatkan kolaborasi antara guru-guru dalam merencanakan, mengajar, mengamati,
dan merefleksikan pelajaran secara bersama-sama. LS bertujuan untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran melalui refleksi mendalam dan pemahaman yang lebih baik tentang
bagaimana siswa belajar. Selain itu, LS adalah model pengembangan profesional yang
sangat populer dan berkembang pesat di sektor pendidikan (Hendrayana, 2007).
Pendekatan ini telah merevolusi cara guru belajar dan mengajar, dan telah terbukti
menjadi metode yang efektif untuk meningkatkan interaktivitas dan kolaborasi antara
guru dan siswa. Konsep LS berasal dari Jepang pada akhir abad ke-19 dan diperkenalkan
sebagai praktik untuk meningkatkan metode pengajaran. Sejak saat itu, pendekatan ini
telah diadopsi dan diadaptasi di banyak negara di dunia, termasuk Amerika Serikat,
JOURNAL SYNTAX IDEA
p–ISSN: 2723-4339 e-ISSN: 2548-1398
Vol. 6, No. 04, April 2024
Marianus Tapung
1562 Syntax Idea, Vol. 6, No. 04, April 2024
Singapura, dan Indonesia. Salah satu ahli yang mempopulerkan konsep LS adalah Dr.
Clea Fernandez, seorang peneliti dan pendidik asal Amerika yang dikenal luas atas
kontribusinya dalam bidang pendidikan (Sulistyo & Wiradimadja, 2019). Fernandez
menerbitkan makalah tentang LS pada tahun 2002, yang berjudul "Belajar dari
pendekatan Jepang terhadap pengembangan profesional: kasus LS." Makalah ini
membantu memperkenalkan konsep LS ke dunia berbahasa Inggris. Dalam artikel ini, Dr.
Clea Fernandez mengeksplorasi bagaimana kontribusinya berdampak pada sistem
pendidikan di seluruh dunia (Setyawan et al., 2019).
Dalam konteks praktik Lesson Study pada kegiatan lokakarya implementasi
Kurikulum Merdeka, para guru akan menggunakan metode LS untuk memperdalam
pemahamannya tentang bagaimana menerapkan Kurikulum Merdeka di sekolahnya,
dengan mengikuti langkah-langkah (Kusuma et al., 2023), seperti: Pertama, perencanaan
bersama. Guru-guru akan bekerja sama untuk merencanakan sebuah pelajaran yang akan
diajarkan sesuai dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka. Guru-guru merancang
tujuan pembelajaran, strategi pengajaran, dan penilaian yang sesuai dengan kebutuhan
siswa dan konteks lokal. Kedua, pengamatan pelajaran. Salah satu guru akan mengajar
pelajaran yang telah direncanakan, sementara guru lainnya akan mengamati dengan
cermat bagaimana pembelajaran berlangsung. Mereka akan mencatat interaksi antara
guru dan siswa, strategi pengajaran yang digunakan, serta reaksi dan tingkat pemahaman
siswa terhadap materi pembelajaran. Ketiga, diskusi dan analisis. Setelah pelajaran
selesai, guru-guru akan berkumpul untuk mendiskusikan pengalaman pengajaran
tersebut. Guru-guru akan berbagi pemikiran dan refleksinya tentang apa yang telah
berjalan dengan baik dan apa yang perlu diperbaiki. Diskusi ini akan memungkinkan
Guru-guru untuk mendapatkan wawasan yang lebih dalam tentang efektivitas strategi
pengajaran dan implementasi Kurikulum Merdeka. Keempat, perbaikan dan revisi.
Berdasarkan diskusi dan analisis tersebut, guru-guru akan membuat perbaikan atau revisi
pada rencana pelajarannya. Para guru mungkin akan menyesuaikan strategi pengajaran,
menambahkan atau menghapus elemen-elemen tertentu, atau membuat perubahan
lainnya untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Kelima, implementasi lanjutan.
Guru-guru menerapkan perubahan yang telah dibuat dalam praktik pengajarannya. Proses
LS dapat terus berlanjut dengan siklus perencanaan, pengajaran, pengamatan, dan refleksi
yang terus-menerus untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran. Melalui praktik LS
pada kegiatan lokakarya implementasi Kurikulum Merdeka, diharapkan para guru dapat
mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana menerapkan
konsep-konsep Kurikulum Merdeka dalam praktik pengajarannya, sehingga dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran dan pencapaian siswa.
Praktik LS memiliki relevansi yang besar dengan implementasi Kurikulum
Merdeka. Sebagai pendekatan pembelajaran kolaboratif, LS dapat membantu guru dan
tenaga pendidik dalam menyusun dan mengembangkan kurikulum secara lebih fleksibel,
sesuai dengan karakteristik siswa dan lingkungan pendidikan (Pasaribu, 2023).
Implementasi Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan kepada para guru untuk
mengembangkan dan mengevaluasi kurikulum berdasarkan kebutuhan siswa dan kondisi
sekolah. Praktik LS menjadi alat yang efektif untuk menerapkan pendekatan ini dalam
memahami konsep yang lebih efektif (Mawaddah Islamiyah et al., 2022). Dalam LS, para
guru dan tenaga pendidikan belajar bersama dalam pengembangan kurikulum dengan
cara yang lebih kolaboratif. Mereka berdiskusi, berbagi informasi dan pengalaman pada
setiap tahapan pengembangan kurikulum. Dalam diskusi tersebut, mereka berfokus pada
tujuan pembelajaran, merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran, serta
Pendekatan Lesson Study pada Kegiatan Lokakarya Implementasi Kurikulum Merdeka
di SMAN 1 Lelak Kabupaten Manggarai
Syntax Idea, Vol. 6, No. 3, March 2024 1563
mengevaluasi hasil (Ramadhani, 2018). Seiring berjalannya waktu, para guru dan tenaga
pendidik dapat mengaplikasikan hasil evaluasi ke dalam rencana pembelajaran pada saat
mengevaluasi pembelajaran berikutnya. Jadi, praktik LS sangat relevan dalam
implementasi Kurikulum Merdeka karena memberikan cara yang efektif untuk menyusun
kurikulum yang lebih efektif dan mengevaluasi hasil pembelajaran secara terus-menerus
(Widiyanto, 2018). Pendekatan ini membuka kesempatan bagi guru dan pengelola
sekolah untuk melibatkan siswa sebagai protagonis dalam pembelajaran serta
menghasilkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhannya.
SMAN 1 Lelak merupakan salah satu sekolah yang di kabupaten manggarai yang
menjalankan kurikulum merdeka dengan skema Mandiri Berubah. Dengan skema ini
SMAN secara mandiri untuk mengimplemetasi Kurikulum Merdeka dalam seluruh
praktik pemnbelajaran dari kelas X-XII. Dalam rangka peningkatan dan penguatan
kapasitas guru dalam mengimplementasi Kurikulum Merdeka secara mandiri maka
dibuatlah kegiatan Lokakarya dengan pendekatan Lesson Study dengan tujuan
pembelajaran semakin berkualitas yang berdampak pada peningkatan kompetensi hasil
belajar siswa dan pengembangan diri guru serta pengakuan terhadap keberadaan sekolah.
METODE PENELITIAN
Metode atau pendekatan yang dipakai dalam kolakarya ini adalah Lesson Study.
Pendekatan Lesson Study dalam pendidikan, pertama kali dipopulerkan oleh Dr. Clea
Fernandez, yang adalah seorang peneliti dan pendidik Amerika Serikat. Pada artikel
berjudul "Learning from Japanese approaches to professional development: the case of
Lesson Study" (Fernandez, 2002), Clea memperkenalkan konsep Lesson Study kepada
dunia. Dalam karyanya "LS: A Handbook" dan "Teacher Learning in Lesson Study: A
Guidebook for Teacher Educators." (2002) (Fernandez et al., 2003), dia menggambarkan
gagasan-gagasan penting tentang Lesson Study, yang kemudian memberikan dampak
yang signifikan pada dunia pendidikan, di Amerika Serikat, Jepang dan beberapa negara
Erapa, bahkan di seluruh dunia. Setelah diadaptasi dan dimodifikasi, adapun tahapan
penting dari Lesson Study (Fernandez & Chokshi, 2002), yakni: 1) Perencanaan
pembelajaran secara kolaboratif terkait dengan tujuan pembelajaran, strategi pengajaran,
dan penilaian. 2) Pembelajaran di kelas yang dilakukan salah seorang guru, sementara
yang lainnya mengamati dengan cermat. 3) Pengamatan. Guru pengamat mencatat semua
yang terjadi selama pelajaran, termasuk respons siswa dan efektivitas strategi pengajaran.
4) Diskusi dan Analisis. Setelah pelajaran selesai, guru-guru berkumpul untuk
mendiskusikan hasil pengamatan dan menganalisis keefektifan strategi pengajaran. 5)
Refleksi dan Perbaikan. Berdasarkan diskusi, guru-guru merefleksikan pelajaran tersebut
dan membuat perbaikan atau revisi pada rencana pembelajaran. 6) Implementasi
Lanjutan. Guru-guru menerapkan perubahan yang telah dibuat dalam praktik
pengajarannya, dan siklus Lesson Study bisa dimulai kembali untuk pelajaran berikutnya.
Tahapan-tahapan ini memungkinkan guru untuk secara kolaboratif meningkatkan praktik
pengajaran dengan berpegang pada prinsip-prinsip refleksi dan perbaikan berkelanjutan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Adapun kegiatan PkM ini dijalankan dengan tahapan berikut ini: 1. Korespondensi
dan koordinasi dengan pihak sekolah atau prakondisi untuk rencana kegiatan lokakarya
(Minggu ke-3, September 2023). 2. Penggalian informasi mengenai pemahaman
Kurikulum Merdeka dan Lesson Study dalam diri guru SMAN 1 Lelak sebagai evaluasi
diagnostik (Minggu ke-4 September 2023). 3. Penyusunan dan pengembangan materi oleh
Marianus Tapung
1564 Syntax Idea, Vol. 6, No. 04, April 2024
narasumber berdasarkan penggalian evaluasi diagnostic (Minggu ke-1, Oktober 2023). 4.
Lokakarya implementasi Kurikulum Merdeka dengan Pendekatan LS (21-22 Oktober
2023). 5. Membuat umpan balik pemahaman Guru terkait dengan Implementasi
Kurikulum Merdeka dengan pendekatan LS (Minggu ke-3, Oktober 2023). 6.
Rekomendasi dan rencana tindak lanjut.
Langkah-langkah PkM digambarkan dengan Diagram 1 di bawah ini.
Diagram 1. Langkah-langkah PkM
Selanjutnya tahapan kegiatan Lokakarya implementasi Kurikulum Merdeka
dengan pendekatan Lesson Study, yang merupakan hasil modifikasi dan adaptasi dari
berbagai sumber dan sesuai dengan kebutuhan serta kepentingan kegiatan ini (Supranoto,
2015), digambarkan dalam tahapan berikut ini: (1) Perencanaan, (2) Praktik
Pembelajaran, (3) Pengamatan Pembelajaran, (4) Diskusi dan Analisis, (5) Refleksi dan
Perbaikan, dan (6) Implementasi Lanjutan.
1. Perencanaan
Pada tahapan "Perencanaan", guru SMA Negeri 1 Lelak dapat melakukan
serangkaian kegiatan yang terstruktur dan kolaboratif untuk merencanakan pelajaran
yang efektif. Berikut adalah beberapa kegiatan yang telah dilakukan: 1) Identifikasi
tujuan pembelajaran. Pada kesempatan ini, guru-guru mendiskusikan bersama untuk
mengidentifikasi tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam pelajaran tersebut.
Tujuan pembelajaran harus spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan berbatasan
waktu. Dalam konteks kurikulum Merdeka Belajar, para guru membahas mengenai
Capaian pembelajaran (CP), Tujuan Pembelajaran (TP) dan Alur Tujuan Pembelajaran
(ATP). Selanjutnya, guru-guru fokus pada mengevaluasi sintaks pembelajaran dan
model asesmen yang digunakan untuk mengukur kemampuan pengetahuan factual,
konseptual, prosedural dan metakognitif siswa. Guru-guru mempelajari secara
mendalam mengenai level kognitif siswa menurut Taksonomi Bloom dari Mengingat
(C1), Memahami (C2), Mengaplikasikan (C3), Analisis (C4), Evaluasi (C5) dan
Mencipta (C6). Setelah mendalami level kognitif ini, para guru menganalisis Kata
Kerja Operasional (KKO) dari masing-masing level untuk membantu menyusun
tujuan pembelajaran dan indikator. Selanjutnya, guru-guru membahas tentang bentuk
asesmen formatif dan sumatif. Asesmen tidak tertulis dalam bentuk diskusi kelas,
produk, drama, presentasi, dan tes lisan. Sementara asesmen tertulis dalam bentuk
refleksi, esai, jurnal, poster dan test terulis. Selain itu, mereka juga membahas terkait
dengan cara menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dan Indikator Kriteria
Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (IKKTP), serta cara menyusun Lembar Kerja
Siswa (LKS). Produk kegiatan ini adalah dokumen Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) untuk Kurikulum K-13 dan Modul Ajar untuk Kurikulum
Langkah 1:
Koordinasi dengan
Sekolah
(Minggu ke-3,
September 2023).
Langkah 2:
Penggalian
Informasi/Evaluasi
Diagnostik
(Minggu ke-4
September 2023)
Langkah 3:
Penyusunan dan
pengembangan
materi Lokakarya
(Minggu ke-1,
Oktober 2023)
Langkah 4:
Lokakarya IKM
Pendekatan
Lesson Study (21-
22 Oktober 2023).
Langkah 5:
Membuat Umpan
Balik dan analisis
hasil
(Minggu ke-3,
Oktober 2023)
Langkah 6:
Rekomendasi dan
RTL
(semester genap
2023/2024)