JOURNAL SYNTAX IDEA

p�ISSN: 2723-4339 e-ISSN: 2548-1398

Vol. 6, No. 3, March 2024

 

 

 

 

Peningkatan Keterampilan Pemecahan Masalah Matematika, Kolaborasi, dan Kesadaran Sosial Melalui Pembelajaran Think-Pair-Share Pada

Siswa Kelas II Sekolah Dasar XYZ Jakarta Barat

 

Rachellia Citrayani

Universitas Pelita Harapan, DKI Jakarta, Indonesia

Email : [email protected]

 

Abstrak

Pemecahan masalah, kolaborasi, dan keterampilan sosial merupakan keterampilan krusial yang harus dimiliki di era abad ke-21. Dalam konteks kelas dua di Sekolah Dasar XYZ Jakarta Barat, ditemukan bahwa banyak siswa mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah matematika secara mandiri. Kondisi pasca pandemi Covid-19 juga menambah kompleksitas dengan kurangnya keterampilan kolaborasi yang terlihat saat siswa bekerja dalam kelompok di dalam kelas. Kurangnya kesadaran sosial, sebagai bagian dari keterampilan sosial, dapat menjadi salah satu penyebab utama kesulitan dalam berkolaborasi.Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Khusus (PTK) yang bertujuan untuk mengamati peningkatan keterampilan pemecahan masalah matematika, kolaborasi, dan kesadaran sosial melalui penerapan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) pada siswa kelas dua Sekolah Dasar XYZ Jakarta Barat. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara, refleksi siswa, dan tes matematika untuk mengukur perkembangan kemampuan pemecahan masalah matematika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui tiga siklus penelitian, metode pembelajaran TPS berhasil meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika, kolaborasi, dan kesadaran sosial siswa dengan tingkat keberhasilan sedang. Implikasi dari penelitian ini menyoroti pentingnya metode pembelajaran yang berfokus pada kolaborasi dan interaksi sosial dalam meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan di abad ke-21, serta peran guru dalam membimbing siswa untuk menjadi pembelajar yang mandiri dan berkolaborasi.

 

Kata kunci: Pembelajaran Think-Pair-Share, pemecahan masalah matematika, kolaborasi, kesadaran sosial.

 

Abstract

Problem solving, collaboration and social skills are crucial skills for the 21st century. In the context of a second grade class at XYZ Elementary School in West Jakarta, it was found that many students had difficulty in solving math problems independently. The post-Covid-19 pandemic conditions also added to the complexity with the lack of collaboration skills seen when students worked in groups in the classroom. Lack of social awareness, as part of social skills, can be one of the main causes of difficulties in collaboration. This research is a Special Action Research (PTK) which aims to observe the improvement of mathematical problem solving skills, collaboration, and social awareness through the application of the Think-Pair-Share (TPS) learning method in second grade students of XYZ Elementary School, West Jakarta. Data collection methods used include observation, interviews, student reflections, and math tests to measure the development of math problem solving skills. The results showed that through three research cycles, the TPS learning method succeeded in improving students' math problem solving skills, collaboration, and social awareness with a moderate success rate. The implications of this study highlight the importance of learning methods that focus on collaboration and social interaction in improving the skills needed in the 21st century, as well as the teacher's role in guiding students' math problem solving skills.

 

Keywords: Think-Pair-Share Learning, Mathematics Problem Solving, Collaboration, Social Awareness.

 

PENDAHULUAN

Pemecahan masalah dan kolaborasi merupakan keterampilan dasar yang sangat dibutuhkan oleh peserta didik di masa sekarang. Bahkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia memasukkan kedua kompetensi ini ke dalam kompetensi dasar abad 21 yang dikenal dengan sebutan 4C (Critical Thinking and Problem Solving, Creativity, Communication Skills, and Ability to Work Collaboratively) (Kemendikbud 2017). Supaya aktivitas kolaborasi dapat berjalan dengan baik dan lancar, dibutuhkan kesadaran sosial dari setiap anggota kelompok. Itulah sebabnya kesadaran sosial juga menjadi hal yang penting untuk dikembangkan karena dapat membantu seseorang menyadari hak dan kewajibannya sebagai makhluk sosial (Abute 2019, 187). Tanpa ada kesadaran sosial, seseorang tidak akan mampu memahami cara berkolaborasi dalam memecahkan masalah.

Peneliti sebagai guru kelas dua di sekolah XYZ Jakarta Barat melihat hasil tes matematika para siswa dan menemukan rata-rata nilai terendah peserta didik terdapat pada soal penalaran (reasoning) dan pemecahan masalah (problem solving). Di samping itu, peneliti juga melakukan diskusi dengan guru-guru paralel di kelas dua dan menyetujui kurangnya keterampilan kolaborasi dan keterampilan sosial dari para peserta didik. Hal ini mungkin juga disebabkan oleh situasi pandemi yang sempat terjadi, sehingga anak-anak tidak dapat belajar ke sekolah selama dua tahun. Dalam hal kolaborasi, para peserta didik sendiri kesulitan untuk membagi tugas di dalam kelompok; beberapa siswa terlihat lebih dominan, banyak bicara, dan merasa lebih pintar dari teman kelompoknya; beberapa anak lebih suka bekerja sendiri, bahkan ada yang menangis karena merasa dipaksa mengikuti kemauan kelompok. Kurangnya kemampuan dalam berkolaborasi merupakan salah satu indikasi kurangnya keterampilan sosial emosional.

CASEL (2020) membagi kompetensi sosial emosional menjadi 5 area: kesadaran diri, pengelolaan diri, pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, keterampilan relasi, dan kesadaran sosial. Melalui pengamatan sehari-hari, penulis menemukan banyak peserta didik yang masih memiliki kesadaran sosial yang rendah seperti kesulitan untuk menerima pendapat orang lain, belum mampu menunjukkan keprihatinan terhadap perasaan teman sebaya, memiliki kesadaran yang rendah untuk berterima kasih saat menerima kebaikan orang lain, belum menyadari norma sosial yang berlaku dalam pertemanan, dan masih kesulitan untuk mengikuti peraturan sekolah. Sering kali ketika bermain, mereka terlalu menikmati permainan sehingga tidak dapat mengontrol kekuatan saat bermain. Hal ini cenderung membuat anak-anak bermain secara kasar sehingga tidak sengaja melukai teman bermain. Beberapa anak juga berkata kasar saat sedang merasa marah atau kecewa tanpa memikirkan bahwa perkataan mereka dapat menyakiti orang lain. Hal ini berhubungan dengan kurangnya kesadaran sosial peserta didik.

Melihat adanya permasalahan dalam hal pemecahan masalah matematika, kolaborasi, dan kesadaran sosial peserta didik, peneliti berencana untuk menggunakan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) dalam penelitian tindakan kelas di kelas 2.4. TPS adalah suatu strategi belajar yang bersifat kooperatif. Peneliti memilih strategi TPS karena metode ini diawali dengan diskusi antar pasangan. Diskusi antara 2 orang membuat anak-anak menjadi lebih fokus (Carss 2007, 28). Metode pembelajaran TPS sudah lama diterapkan di dunia pendidikan dan studi membuktikan bahwa metode ini dapat meningkatkan keterampilan pemecahan masalah (Husna, dkk. 2013, 90), kolaborasi (Nuzalifa 2021, 56), dan keterampilan sosial peserta didik (Lubis dan Sari 2020, 88). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan metode pembelajaran TPS dalam meningkatkan keterampilan pemecahan masalah matematika, kolaborasi, dan kesadaran sosial pada peserta didik di kelas 2.4 SD XYZ Jakarta Barat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi efektivitas penggunaan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) dalam meningkatkan keterampilan pemecahan masalah matematika, kolaborasi, dan kesadaran sosial pada peserta didik di kelas 2.4 SD XYZ Jakarta Barat.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart dengan tiga siklus yang terdiri dari empat urutan tindakan di setiap siklusnya. Subjek penelitian terdiri dari peneliti sebagai wali kelas, satu guru bantu, dan 22 siswa kelas 2.4 SD XYZ Jakarta Barat, yang terdiri dari 9 anak laki-laki dan 13 anak perempuan berusia antara tujuh sampai delapan tahun. Instrumen yang digunakan meliputi observasi, refleksi, wawancara, dan tes matematika. Observasi menggunakan rubrik untuk menilai kemampuan kolaborasi dan kesadaran sosial siswa, sedangkan refleksi siswa digunakan untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai kemampuan pemecahan masalah matematika, kolaborasi, serta kesadaran sosial peserta didik. Wawancara dilakukan sebelum dan setelah setiap siklus untuk memvalidasi hasil observasi. Tes pemecahan masalah matematika digunakan untuk menguji kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika.

Analisis data dilakukan dengan teknik mixed method dengan tipe Convergent Parallel Design Creswell (2018, dalam Vebrianto, dkk. 2020, 65), yang menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif. Perhitungan nilai tes pemecahan masalah matematika dan hasil observasi dilakukan dengan menghitung persentase skor setiap siswa. Setelah itu, nilai setiap variabel penelitian dijumlahkan dan dicari rata-ratanya. Peneliti akan membandingkan nilai rata-rata di setiap siklus dan menghitung N-Gain dari data awal hingga data yang ada di siklus terakhir. Perhitungan N-Gain digunakan untuk mengetahui peningkatan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah matematika dengan kategori tinggi (g > 0.7), sedang (0.3 < g < 0.7), dan rendah (g < 0.3). Setelah perhitungan akhir, peneliti akan melakukan triangulasi data dengan melihat persentase dari lembar refleksi siswa dan hasil wawancara dengan guru pengamat kedua.

�����������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Tes Matematika

��������� Berikut ini adalah perbandingan nilai total dan rata-rata hasil tes matematika para siswa di pra-siklus dan di setiap siklus:

Tabel 1. Perbandingan Nilai Tes Pemecahan Masalah Matematika Siswa di Pra-Siklus, Siklus 1, Siklus 2, dan Siklus 3

 

Pra-Siklus

Siklus 1

Siklus 2

Siklus 3

Total

825

952

1004

1258

Rata-rata

38

43

46

57

 

 

 

 

 


Gambar 1

Grafik Persentase Rata - Rata Nilai Tes Pemecahan Masalah Matematika dari Pra-Siklus Hingga Siklus 3

 

����������� Melalui rata-rata pada pra-siklus hingga siklus tiga, maka didapatkan hasil N Gain dengan kategori sedang sebagai berikut:

 

Hasil Observasi Pada Variabel Kolaborasi dan Keterampilan Sosial

Perbandingan hasil observasi pada variabel keterampilan kolaborasi dan kesadaran sosial di setiap siklus penelitian dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut ini:

Tabel 2. Perbandingan Hasil Observasi Keterampilan Kolaborasi dan

Kesadaran Sosial di Siklus 1, 2, dan 3

 

Kolaborasi

Kesadaran Sosial

Siklus 1

Siklus 2

Siklus 3

Siklus 1

Siklus 2

Siklus 3

Total

1482

1693

1826

1492

1587

1799

Rata-rata

67

77

83

68

72

82

 

Gambar 2

Grafik Persentase Nilai Observasi Siklus 1-3

 

N-Gain keterampilan kolaborasi dari siklus satu ke siklus tiga adalah sebagai berikut:

 

N-Gain kesadaran sosial siswa dari siklus satu ke siklus tiga adalah sebagai berikut:

 

Hasil Refleksi Siswa

Berikut ini adalah persentase jawaban siswa pada pertanyaan refleksi terhadap variabel pemecahan masalah matematika, kolaborasi, dan kesadaran sosial peserta didik:

1)        Refleksi siswa terhadap pemecahan masalah matematika selama diskusi

Gambar 3

Grafik Refleksi Siswa Tentang Pemecahan Masalah Matematika di Siklus 1, 2, dan 3

 

2)       

Refleksi siswa terhadap kolaborasi selama diskusi

Gambar 4


Grafik Refleksi Siswa Tentang Kolaborasi 1 di Siklus 1, 2, dan 3

Gambar 5

Grafik Refleksi Siswa Tentang Kolaborasi 2 di Siklus 1, 2, dan 3

 

3)       

Refleksi siswa terhadap kesadaran sosial selama diskusi

Gambar 6

Grafik Refleksi Siswa Tentang Kesadaran Sosial 1 di Siklus 1, 2, dan 3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7

Grafik Refleksi Siswa Tentang Kesadaran Sosial 2 di Siklus 1, 2, dan 3

Pada grafik di atas, dapat diketahui terjadi peningkatan dalam setiap siklus pada variabel pemecahan masalah matematika, kolaborasi, dan kesadaran sosial. Kategori N Gain yang didapatkan pada perhitungan di siklus akhir adalah sedang untuk setiap variabel.

Berdasarkan hasil tes siklus satu, dua, dan tiga, dapat diketahui terjadi peningkatan pada keterampilan siswa dalam memecahkan masalah matematika dalam PTK ini dengan tingkat keberhasilan sedang. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian dari Husna dan Fatimah (2013, 90), Utomo, dkk. (2020, 126), serta Latifah dan Luritawaty (2020, 35)yang membuktikan bahwa model pembelajaran TPS dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika pada peserta didik.

Hal ini juga didukung oleh hasilwawancara di siklus terakhir dengan guru pengamat kedua:

 

�Beberapa kelompok terlihat sudah bisa mengerjakan soal tes, tapi masih ada juga yang terlihat kesulitan.�

 

Pada variabel kolaborasi, berdasarkan hasil observasi siklus satu, dua, dan tiga, dapat terlihat adanya peningkatan dengan tingkat keberhasilan sedang di akhir siklus. Hal ini juga didukung oleh hasil wawancara di siklus terakhir dengan guru pengamat kedua:

 

�Kolaborasinya better, lebih banyak yang aktif diskusi - semua diskusi, kecuali HCW-JIM dan CH-MBT. Kelihatan lebih banyak kelompokyang membagi tugas�

 

Hasil penelitian pada variabel kolaborasi sejalan dengan hasil penelitian dari Nuzalifa (2021, 56) yang membuktikan bahwa model pembelajaran TPS dapat meningkatkan keterampilan kolaborasi pada siswa. Hal ini juga sejalan dengan hasil penelitian Sunbanu, dkk. (2019, 2037) yang menggunakan strategi pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan kemampuan kolaborasi pada siswa Sekolah Dasar. Sebagai tambahan, hasil penelitian ini juga mendukung teori ZPD dari Vygotsky yang menyatakan bahwa interaksi anak dengan orang dewasa atau teman sebaya dapat meningkatkan kognitif anak. Meskipun demikian, berdasarkan apa yang terjadi selama siklus, peneliti mencatat bahwa interaksi yang dapat mendukung perkembangan keterampilan pemecahan masalah siswa adalah interaksi yang bermakna, di mana siswa benar-benar berdiskusi tentang suatu masalah dan saling membantu dalam mencari jalan keluar. Peran guru juga sangat dibutuhkan untuk memfasilitasi agar anak dapat tetap fokus dan tidak bermain-main sendiri saat memecahkan soal bersama.

Untuk variabel kesadaran sosial, terjadi peningkatan dengan tingkat keberhasilan sedang di siklus akhir. Hal ini juga didukung oleh hasil wawancara di siklus tiga dengan guru pengamat kedua:

 

�Waktu sharing, masih ada juga yang main sendiri. Untuk mengangkat tangan saat menjawab pertanyaan tidak banyak perubahan, anaknya masih itu-itu saja yang aktif. Dalam pembelajaran sehari-hari, bisa mengikuti aturan kelas. Sudah punya kesadaran untuk behave.�

 

Hasil penelitian ini juga berbanding lurus dengan hasil penelitian dari Lubis dan Sari (2012, 88), Nurbaiti dan Mosik (2020, 184), serta Azizah dan Maemonah (2022, 22) yang menemukan bahwa model pembelajaran TPS dapat meningkatkan kemampuan sosialisasi pada siswa. Kesadaran sosial juga merupakan salah satu indikator dari keterampilan sosial (CASEL, 2020).

 

 

KESIMPULAN

Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa keterampilan pemecahan masalah matematika, kolaborasi, dan kesadaran sosial pada peserta didik di kelas 2.4 SD XYZ meningkat dengan kategori sedang melalui model pembelajaran TPS. Terjadi kenaikan skor sedikit demi sedikit pada nilai tes pemecahan masalah matematika di setiap siklus. Selain nilai tes, hasil wawancara dengan guru dan refleksi siswa juga menyiratkan bahwa sebagian siswa mendapatkan manfaat dari pembelajaran TPS dalam memecahkan masalah matematika. Peneliti juga mencatat bahwa para siswa perlu di berikan dorongan dan bimbingan untuk mengerti hal-hal yang perlu mereka lakukan dalam berkolaborasi. Di samping itu, guru juga memegang peranan penting sebagai fasilitator supaya interaksi yang bermakna dapat terjadi dalam proses kolaborasi. Selain perbandingan data dari hasil observasi, wawancara guru, dan refleksi siswa, laporan dari guru lain yang menyatakan adanya peningkatan kesadaran sosial siswa di kelas juga mendukung hasil penelitian ini. Melalui penelitian ini, peneliti merekomendasikan pihak sekolah atau guru untuk menggunakan TPS sebagai variasi strategi yang dapat meningkatkan pembelajaran di dalam kelas. Dengan melihat keterbatasan yang ada dalam penelitian ini, peneliti juga menyarankan untuk mempersiapkan periode pembelajaran lebih apabila hendak mengadakan pembelajaran dengan strategi TPS. Guru dapat membagi aktivitas ke dua periode pelajaran, di mana tahap think dan pair dilakukan di periode pertama dan tahap share dilakukan di periode pembelajaran kedua. Dengan demikian, guru tidak perlu terburu-buru dan memiliki waktu lebih untuk mengobservasi dan membuka ruang diskusi bagi siswa. Sedangkan untuk penelitian selanjutnya peneliti menyarankan untuk menggunakan model pembelajaran TPS dengan materi pembelajaran yang lebih luas di mata pelajaran lain, seperti Ilmu Pengetahuan Alam, Bahasa Inggris, Ilmu Pengetahuan Sosial, dll. Yang terakhir, namun tidak kalah penting, dalam penelitian selanjutnya juga dapat diteliti hubungan antara variabel pemecahan masalah, kolaborasi, dan kesadaran sosial. Dengan adanya kejelasan hubungan antar variabel, maka akan memberikan referensi bagi para praktisi pendidikan untuk mengambil suatu tindakan dengan tepat sasaran di dalam kelas maupun di penelitian yang akan mendatang.

 

BIBLIOGRAFI

 

Abute, Erniwati La. �Konsep Kesadaran Sosial Dalam Pendidikan.� Jurnal Pendidikan Glasser 3, no.2 (2019): 186-195.  https://doi.org/10.32529/glasser.v3i2.338

 

Andayani, Endah, Lilik Sri Hariani, dan Muchammad Jauhari. �Pembentukan Kemandirian Melalui Pembelajaran Kewirausahaan Sosial untuk Meningkatkan Kesadaran Sosial dan Kesadaran Ekonomi.� Jurnal Riset Pendidikan Ekonomi (JRPE) 6, no. 1 (2021): 22-34. https://doi.org/10.21067/jrpe.v6i1.5143

 

Anggo, Mustamin. �Pelibatan Metakognisi Dalam Pemecahan Masalah Matematika.� Jurnal Edumatica 1, no. 1 (2011): 25-32. https://mail.online-journal.unja.ac.id/edumatica/article/view/188

 

Azizah, Amirah Al May dan Maemonah. �Penerapan Think Pair Share Pada Pembelajaran Tematik: Analisis Perkembangan Sosial Emosional Siswa Usia Dasar.� Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 9, no. 1 (2022): 31-44. https://doi.org/10.30659/pendas.9.1.31-44

 

Carss, Wendy Diane. �The Effects of Using Think-Pair-Share During Guided Reading Lessons.� Master Tesis, University of Waikato, 2007. https://researchcommons.waikato.ac.nz/bitstream/handle/10289/2233/thesis.pdf?sequence=1

 

CASEL. �What Is the CASEL Framework?�, 2020. https://casel.org/fundamentals-of-sel/what-is-the-casel-framework/

 

Cs�ti, M�rianna. Social Awareness Skills for Children. London and Philadelphia: Jessica Kingsley Publishers, 2001.

Davita, Putri Wulan Clara dan Heni Pujiastuti. �Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Ditinjau dari Gender.� Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif 11, no. 1 (2020): 110-117. http://dx.doi.org/10.15294/kreano.v11i1.23601

 

Goleman, Daniel. �Emotional mastery.� Leadership Excellence 28, no. 6 (2011): 12-13.

 

Husna, M. Ikhsan, dan Siti Fatimah. �Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Komunikasi Matematis Siswa Sekolah Menengah Pertama Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS).� Jurnal Peluang 1, no. 2 (2013): 81-92.

 

Kemdikbud. �Pendidikan Karakter Dorong Tumbuhnya Kompetensi Siswa Abad�� 21�. 14 Juni 2017. https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2017/06/pendidikan-karakter-dorong-tumbuhnya-kompetensi-siswa-abad-21

 

Kenedi, Ary Kiswanto, Yullys Helsa, Yetti Ariani, Melva Zainil, dan Sherlyane Hendri. �Mathematical Connection of Elementary School Students to Solve Mathematical Problems.� Journal on Mathematics Education 10, no. 1 (2019): 69-80. https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1204804.pdf

 

Laal, Marjan dan Seyed Mohammad Ghodsi. �Benefits of Collaborative Learning.� Procedia � Social and Behavioral Sciences 31 (2012): 486-490. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2011.12.091

 

Lobron, Alison dan Robert Selman. �The Interdependence of Social Awareness and Literacy Instruction.� The Reading Teacher 60, no. 6 (2007): 528-537. https://doi.org/10.1598/RT.60.6.3

 

Lubis, Baihaqi Siddik dan Suci Perwita Sari. �Pengaruh Metode Think-Pair-Share dan Problem Solving Skill Terhadap Keterampilan Sosial.� JURNAL TEMATIK 10, no. 2 (2020): 81-89. https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/tematik/article/viewFile/19589/14008

 

Mengduo, Qiao dan Jin Xiaoling. �Jigsaw Strategy as a Cooperative Learning Technique: Focusing on the Language Learners.� Chinese Journal of Applied Linguistics 33, no. 4(2010): 113-125. https://web.archive.org/web/20180415151410id_/http://www.celea.org.cn/teic/92/10120608.pdf

 

Nahar, Syamsu, Suhendri, Zailani, dan Hardivizon. �Improving Students� Collaboration Thinking Skill Under the Implementation of the Quantum Teaching Model.� International Journal of Instruction 15, no. 3 (2022): 451-464. https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1355589.pdf

 

Nasution, M. L., Y. Yerizon, dan R. Gusmiyanti. �Students� Mathematical Problem-Solving Abilities Through The Application of Learning Models Problem Based Learning.� IOP Conference Series: Materials Science and Engineering (2018): 1-5. https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1757-899X/335/1/012117/pdf

Nurbaiti, Yulita dan Mosik. �Efektivitas Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Terhadap Hasil Belajar Kognitif dan Social Skill Siswa SMA.� Unnes Physics Education Journal 9, no. 2 (2020): 178-185. https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upej/article/view/41925

 

Nurhayati, Dyah Isna, Dwi Yulianti, dan Budi Naini Mindyarto. �Bahan Ajar Berbasis Problem Based Learning pada Materi Gerak Lurus untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi dan Kolaborasi Siswa.� Unnes Physics Education Journal 8, No. 2 (2019): 208-218. https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upej/article/view/33333

 

Nuzalifa, Yossie Ulfa. �Penerapan Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) Berbasis Lesson Study Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Keterampilan Kolaborasi Mahasiswa�. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Sains Indonesia (JPPSI) 4, no. 1 (2021): 48-57. https://doi.org/10.23887/jppsi.v4i1.31774

 

Schunk, Dale H. Learning Theories: An Educational Perspective, 6nd Edition. Boston: Pearson, 2012.

 

Setyosari, Punaji. �Menciptakan Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas.� Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran 1, no. 1 (2014): 20-30.

http://journal2.um.ac.id/index.php/jinotep/article/viewFile/2103/1239

 

Siagian, Meryance V., Sahat Saragih, dan Bornok Sinaga. �Development of Learning Materials Oriented on Problem-Based Learning Model to

 

Silvi, Fuji, Ramdhan Witarsa, dan Rizki Ananda. �Kajian Literatur tentang Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika dengan Model Problem Based Learning pada Siswa Sekolah Dasar.� Jurnal Pendidikan Tambusai 4, no. 3 (2020): 3360-3368.

https://www.jptam.org/index.php/jptam/article/view/851

 

Simamora, Rustam E., Sahat Saragih, Hasratuddin. �Improving Students� Mathematical Problem Solving Ability and Self-Efficacy through Guided Discovery Learning in Local Culture Context.� International Electronic Journal of Mathematics Education 14, no.1 (2019): 61-72. https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1227360.pdf

 

Shrivastava, Shailaj Kumar. �Role of Educational Institutions in Promoting Social Awareness.� International Journal of Innovative Research and Advanced Studies (IJIRAS) 3, no. 13 (2016): 24-26. https://www.ijiras.com/2016/Vol_3-Issue_13/paper_5.pdf

 

Sudibjo, Niko, Novita Juwita Sari, dan Samuel Lukas. �Application of Project Based Learning to Grow Creative Behavior, Learning Interest, and Class V Student Cooperation in SD Athalia Tangerang.� Jurnal Akademika 9, no. 1 (2020): 1-16. https://doi.org/10.34005/akademika.v9i01.736

 

Surayya, Lina, I Wayan Subagia, dan I Nyoman Tika. �Pengaruh Model Pembelajaran Think Pair Share terhadap hasil belajar IPA ditinjau dari keterampilan berpikir kritis siswa.� Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia 4, no. 1 (2014): 1-11. https://ejournal-pasca.undiksha.ac.id/index.php/jurnal_ipa/article/view/1105/0

 

Suryawan, Herry Pribawanto. Pemecahan Masalah Matematis. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press, 2020.

 

Sutopo, Bayu Rahmat Setiadi, Muhammad Nurtanto, Sigit Purnomo, Nurcholish Arifin Handoyono, dan Arif Bintoro Johan. �Enhancing of Student Involvement and Collaboration through Think-Pair-Share Model on Energy Conversion Learning.� International Journal of Higher Education 9, no. 4 (2020): 199-205. https://eric.ed.gov/?id=EJ1258953

 

Ulhusna, Mishbah, Sri Diana Putri, dan Zakirman. �Permainan Ludo untuk Meningkatkan Keterampilan Kolaborasi Siswa dalam Pembelajaran Matematika.� International Journal of Elementary Education 4, no. 2 (2020): 130-137. https://doi.org/10.23887/ijee.v4i2.23050

 

Utomo, Arief Cahyo, Zaenal Abidin, dan Henry Aditia Rigianti. �Strategi Think Pair Share dan Jigsaw: Manakah Yang Lebih Efektif Untuk Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa?� Jurnal Profesi Pendidikan Dasar 7, no. 2 (2020): 121-128. https://doi.org/10.23917/ppd.v7i2.11404

 

Zhou, Molly dan David Brown, eds. Educational Learning Theories, 2nd Edition. Georgia: GALILEO Open Learning Materials, 2015.

 

 

Copyright Holder:

Rachellia Citrayani (2024)

 

First publication right:

Syntax Idea

 

This article is licensed under: