Syntax Idea : p–ISSN: 2684-6853 e-ISSN : 2684-883X

 Vol. 1, No. 2 Juni 2019

 

 


PENGARUH FINANCIAL STABILITY, NATURE OF INDUSTRY, RATONALIZATION, DAN CHANGE IN DIRECTOR TERHADAP FINANCIAL STATEMENT FRAUD (Studi Empiris Pada PerusahaanSub Sektor Logam dan Sejenisnya yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2017)

 

Nenda Marliani

Mahasiswa Magister Akuntansi Universitas Sangga Buana YPKP

Email: nendamarliani@gmail.com

 

Abstrak

Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk menambah pengetahauan mengenai  pengaruh financial stability, nature of industry, ratonalization, dan change in director terhadap financial statement fraud. Penelitian ini dilakukan di perusahaan sub sektor logam dan sejenisnya yang tercantum pada BEI (Bursa Efek Indonesia) tahun 2013-2017. Populasi dari penelitian ini sekitar 16 perusahaan. Dengan digunakannya purposive sampling diperoleh jumlah sampel sebanyak 13 perusahaan. Metode deskriptif dan asosiatif adalah metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini. Sumber data diperoleh dari sumber sekunder. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) secara simultan financial stability, nature of industry, ratonalization, dan change in director berdampak serius terhadap financial statement fraud, (2) secara parsial financial stability dan nature of industry berdampak positif dan bermakna untuk financial statement fraud, (3) secara parsial rationalization dan change in director berpengaruh tidak berarti untuk financial statement fraud.

Kata kunci:Financial Stability, Nature of Industry, Rationalization, Change in Director, Financial Statement Fraud.

 

Pendahuluan

Fraud merupakan setiap perbuatan melawan hukum dan dilakukan dengan sengaja serta memiliki tujuan tertentu (melakukan kesalahan atau memberikan laporan yang salah kepada pihak lain) yang dilakukan oleh orang-orang yang di luar maupun di dalam organisasi dengan tujuan untuk memperoleh manfaat individu ataupun kelompok secara terbuka maupun tidak terbuka yang dapat memberikan kerugian pada pihak lain. Financial statement fraud (Memanipulasi laporan keuangan), asset misappropriatio (penyalahgunaan asset), dan coruption (korupsi) merupakan 3 jenis fraud yang di kutip oleh  the Association of Certified Fraud Examiners (ACFE, 2016).

Pada tahun 2016 ACFE (Association of Certified Fraud Examiners) Indonesia melakukan survei mengenai fraud di Indonesia. Berdasarkan hasil survei, yang masih sering terjadi adalah korupsi, sebanyak 154 respon atau 67% dari jumlah responden mengatakan bahwa korupsi merupakan fraud yang paling sering terjadi. Penyalahgunaan asset adalah fraud jenis kedua yang paling seringkali terjadi di negara Indonesia yang terpilih oleh 71 responden atau 31% dari jumlah responden. Sedangkan financial statement fraud ialah fraud jenis ketiga yang seringkali terjadi di Indonesia yaitu sebesar 2% dari jumlah responden atau dipilih oleh 4 orang.

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Fraud yang memiliki banyak di Indonesia

Sumber: ACFE Indonesia, 2016

 

Meskipun fraud statement financial atau financia statement fraud merupakan fraud yang memiliki persentase kejadian terkecil dari pada korupsi dan peyalahgunaan asset, namun fraud statement financial atau financial statement fraud memiliki akibat kerugian yang cukup besar. Hal tersebut dapat dibuktikan dari hasil survei, dimana 4 dari 10 responden mengatakan bahwa kerugian yang disebabkan oleh fraud statement financial berada diatas 10 Milyar Rupiah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1. Kerugian Fraud Berdasarkan Jenis Fraud

Sumber: ACFE Indonesia, 2016.

 

Fraud statement financial atau Financial statement fraud adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan tujuan agar menutupi atau menaungi kondisi keuangan yang sesungguhnya terjadi di perusahaan dengan cara melaksanakan sebuah rekayasa keuangan dalam penyajian laporan, untuk mendapatkan keuntungan, tindakan tersebut dilakukan eksekutif instansi pemerintah ataupun perusahaan (Kennedy & Siregar, 2017). Terdapat berbagai fenomena yang terjadi terkait kasus financial statement fraud. Adapun beberapa contoh kasus yang menyangkut financial statement fraud yang telah terjadi adalah sebagai berikut:

1.    Kasus Toshiba (2016)

Perusahaan tersebut membesarkan laba operasional sebesar ¥ 151.8 miliar atau sekitar US$ 1,22 miliar yang dilakukan antara tahun 2008 samapi dengan tahun 2014. Berdasarkan hasil investigasi yang telah dilakukan, kasus tersebut terjadi dikarenakan CEO atau pimpinan Toshiba Corp ialah Hisao Tanaka dan Norio Sasaki sebagai Wakil Direktur ditekankan bahwa divisi bisnis harus memiliki penuh target yang sulit (sumber: bisnis.liputan6.com, tersedia 26 Oktober 2018, Pukul 17:30 WIB).

2.    Kasus British Telecom (2017)

Frauda kuntansi terjadi di perusahaan ini dengan cara melakukan inflasi (peningkatan) atas keuntungan perusahaan yang berlangsung selama beberapa tahun dan dilakukan dengan cara yang tidak lumrah melalui kerja sama dengan para pelanggan perusahaan dan jasa keuangan yang dilakukan secara koruptif. Perpanjangan kontrak palsu, invoice palsu, serta transaksi palsu dengan vendor merupakan modus yang dilakukanuntuk membesarkan penghasilan perusahaan. Fraud tersebut terjadi mulai tahun 2013. Fraud tersebut dilakukan untuk memperoleh bonus (sumber: www.wartaekonomi.co.id, diakses 26 Oktober 2018, Pukul 17:25 WIB).

3.    Kasus Bank Bukopin (2018)

Fraud dilakukan diperusahaan ini untuk memperindah kinerja perusahaan, dengan cara melakukan manipulasi terhadap laporan keuangan. Manipulasi itu sendiri dilakukan pada akun beban kualifikasi kerugian pada pemerosotan nilai atas aset keuangan, pendapatan provisi, laba bersih dan pendapatan komisi (sumber: www.cnbcindonesia.com, diakses 9 November 2018, Pukul 10:09 WIB).

Terdapat banyak kasus fraud yang terjadi dalam kegiatan bisnis perusahaan, mengharuskan kita untuk mengetahui faktor-faktor yang bisa saja mempengaruhi terjadinya fraud. Pada tahun 1953, dari hasil penelitiannya Cressey mengemukakan pada teori fraud triangle theory atau yang biasa dikenal dengan sebutan segitiga kecurangan. Teori ini menyatakan bahwa terdapat tiga aspek yang bisa mempengaruhi pada terjadinya fraud yakni tekanan (pressure), kemungkinan (opportunity), dan sikap/rasionalisasi (rationalization) (Bawekes et al, 2018). Selanjutnya Wolfe dan Hermanson pada tahun 2004 mengembangkan teori segitiga kecurangan yang telah dicetuskan oleh Cressey, dengan mengimbuhkan satu elemen yang dapat berpengaruh terhadap fraud. Elemen tersebut yaitu kapabilitas/kemampuan. Teori ini dikenal dengan sebutan fraud diamond theory (Wolfe dan Hermason, 2004).

Penelitian ini memanfaatkan 4 variabel independen yang mewakili faktor-faktor yang mempengrauhi fraud. Variabel independen yang pertama adalah financial stability yang mewakili faktor tekanan. Variabel independen yang kedua adalah nature of industry yang mewakili faktor kesempatan. Variabel independen yang ketiga adalah rationalization yang mewakili faktor rasionalisasi. Variabel independen yang keempat adalah change in director yang mewakili faktor kemampuan/kapabilitas.

Penelitian ini juga dilakukan karena adanya inkosistensi hasil penelitian terdahulu mengenai faktor-faktor/elemen-elemen yang mempengaruhi financial statement fraud, sehingga perlu untuk diteliti lebih lanjut. Penelitian yang dilakukan oleh Bawekes et al (2018), Septriani & Handayani (2018) dan Warsidi et al (2018) membuktikan bahwa stability financial atau financial stability berpengaruh baik dan bermakna untuk financial statement fraud. Berbeda dengan hasil penelitian Nurmulina & Sasongko (2018) yang membuktikan bahwa financial stability berakibat negatif dan bermakna untuk financial statement fraud. Sedangkan hasil penelitian Arisandy & Verawaty (2017), Saputra dan Kusumaningrum (2017), Nugrahaeni & Triatmoko (2017), Nurbalti & Hanafi (2017), dan Prasastie dan Gamayuni (2014), Ulfah et al (2017), Adelina dan Harindahyani (2018), Indriyani dan Terzaghi (2017), Purba dan Putra (2017) yang membuktikan bahwa stability financial atau financial stability berdampak tidak bermakna pada fraud financial statement atau financial statement fraud.

Inkonsistensi penelitian juga terjadi pada variabel nature of industry. Berdasarkan hasil penelitian Purba dan Putra (2017) membuktikan bahwa nature of industry berpengaruh baik dan bermakna untuk financial statement fraud. Sedangkan hasil penelitian Indriyani dan Terzaghi  (2017) membuktikan bahwa nature of industry berpengaruh negatif dan bermakna untuk financial statement fraud. Poin tersebut juga berbeda dengan hasil penelitian Nugrahaeni & Triatmoko (2017), Nurbalti & Hanafi (2017), Utomo (2018), Warsidi et al (2018), Septriani & Handayani (2018) yang membuktikan bahwasanya nature of industry berakibat tidak berarti pada financial statement fraud.

Hal yang sama terjadi pada variabel rasionaliasi, terjadi perbedaan hasil penelitian mengenai pengaruh variabel rasionalisasi untuk financial statement fraud. Penelitian ini yang dilaksanakan oleh Nurmulina & Sasongko (2018) yang membuktikan bahwa rasionalisasi berpengaruh negatif dan bermakna untuk financial statement fraud. Sedangkan hasil penelitian Arisandy & Verawaty (2017), Septriani & Handayani (2018), Nurbalti & Hanafi (2017), Purba dan Putra (2017), dan Utomo (2018) membuktikan bahwa rasionalisasi berpengaruh tidak bermakna untuk financial statement fraud.

Penelitian mengenai pengaruh change in director terhadap financial statement fraud pernah dilakukan oleh Adelina dan Harindahyani (2018) yang membuktikan bahwa pergantian direksi berpengaruh positif dan bermakna untuk financial statement fraud. Berbeda dengan hasil penelitian Septriani & Handayani, (2018) yang membuktikan bahwa pergantian direksi berpengaruh negatif dan bermakna terhadap financial statement fraud. Sedangkan hasil penelitian Arisandy & Verawaty (2017), Nurmulina & Sasongko (2018), Saputra dan Kusumaningrum (2017), Ulfah et al (2017), Indriyani dan Terzaghi (2017), Nugrahaeni & Triatmoko (2017), Nurbalti & Hanafi (2017), Prasastie dan Gamayuni (2014), Warsidi et al (2018), Purba dan Putra (2017) yang membuktikan bahwa pergantian direksi berpengaruh tidak terlalu berarti terhadap financial statement fraud.

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah penelitian adalah: (1) apakah financial stability, nature of industry, rationalization, dan change in director secara simultan berpengaruh cukup signifikan terhadap financial  statement fraud dan pada perusahaan sub sektor logam dan sejenisnya yang terdaftar di BEI tahun 2013-2017, (2)apakah financial stability secara parsial berpengaruh signifikan terhadap financial  statement fraud, (3) apakah nature of industry secara parsial berpengaruh signifikan terhadap financial  statement fraud, (4)apakah rationalization secara parsial berdampak signifikan untuk financial  statement fraud, (5)apakah change in director secara parsial berpengaruh signifikan terhadap financial  statement fraud.

Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan pengetahuan bahwa pengaruh financial stability, nature of industry, ratonalization, dan change in director terhadap financial statement fraud pada perusahaan sub sektor logam dan semacamnya yang terdaftar di BEI pada tahun 2013-2017.

 

Metode Penelitian

Metode penelitian yang kali ini digunakan adalah metode deskriptif dan metode asosiatif. Unit analisis berupa laporan keuangan perusahaan sub sektor logam dan semacamnya yang tercantum pada Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode tahun 2013 sampai dengan tahun 2017. Jenis data bersifat kuantitatif dan sumber data bersifat sekunder. Populasi dalam penelitian adalah 16 perusahaan sub sektor logam dan sejenisnya. Pada teknik pengambilan contoh yang digunakan adalah purposive sampling. Jumlah sampel berjumlah 13 perusahaan, sehingga jumlah sampel amatan sebanyak 65 (13 perusahaan x 5 tahun pengamatan). Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi. Analisis regresi linier berganda ialah teknik analisis data di dalam penelitian ini.

 

Hasil dan Pembahasan

Statistik Deskriptif

Tabel 2. Statistik Deskriptif

 

N

Minimum

Maximum

Mean

Std. Deviation

X1_FS

65

-,4094

1,2340

,059735

,2274768

X2_NI

65

-,6359

,5976

,008572

,1205508

X3_RA

65

-,5605

,6328

-,009229

,1470050

X4_CD

65

,0000

1,0000

,261538

,4428926

Y_FSF

65

-2,0886

3,1490

,315358

,6440982

Valid N (listwise)

65

 

 

 

 

Sumber: Output SPSS

Variabel financial stability (X1) memiliki rata-rata 0,059735 dengan deviasi standar 0,2274768, nilai terendah -0,4094 dan nilai tertinggi 1,2340. Variabel nature of industry (X2) memiliki rata-rata 0,008572 dengan deviasi standar 0,1205508, nilai terendah -0,63595 dan nilai tertinggi 0,5976. Variabel rationalization (X3) memiliki rata-rata 0,009229 dengan deviasi standar 0,1470050, nilai terendah -0,5605 dan nilai tertinggi 0,6328. Variabel change in director (X4) nilai terendah 0 (nol) dan nilai tertinggi 1 (satu). Nilai 0 menunjukan bahwa perusahaan tidak melakukan penggantian direksi dan nilai 1 menunjukan bahwa perusahaan melakukan penggantian direksi. Variabel financial statement fraud (Y) memiliki rata-rata 0,315358 dengan deviasi standar 0,6440982, nilai terendah -2,0886 dan nilai tertinggi 3,1490.

 

 

 

Uji Asumsi Klasik

Uji Multikolinieritas

Tabel 3. Uji Multikolinieritas

Coefficientsa

 

Model

Unstandardized Coefficients

Collinearity Statistics

B

Std. Error

Tolerance

VIF

1

(Constant)

,248

,073

 

 

X1_FS

1,702

,276

,946

1,057

X2_NI

1,116

,516

,963

1,038

X3_RA

-,230

,424

,960

1,042

X4_CD

-,176

,140

,974

1,026

a. Dependent Variable: Y_FSF

 

Sumber: Output SPSS

Berdasarkan tabel 3, dapat diketahui bahwa nilai tolerance untuk masing-masing variabel bebas lebih dari 0,01(tolerance>0.01) dan nilai VIF (variance inflation factor) untuk masing-masing variabel bebas lebih kecil dari pada 10 (VIF < 10). Sehingga mendapat kesimpulan bahwa tidak terjadi adanya multikolinieritas antar variabel bebas dalam penelitian ini.

 

Uji Autokorelasi

Tabel 4. Uji Autokorelasi

Model Summaryb

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

Durbin-Watson

1

,679a

,461

,425

,4882525

1,893

a. Predictors: (Constant), X4_CD, X1_FS, X2_NI, X3_RA

b. Dependent Variable: Y_FSF

Sumber: Output SPSS

Dari tabel 4, didapatkan nilai Durbin-Watson (DW) 1,032. Angka DW tersebut ada diantara -2 dan +2 sehingga dapat dirumuskan bahwa tidak terdapat autokorelasi pada model regresi penelitian ini.

 

 

 

 

 

 

Uji Heteroskedastisitas

 

Gambar 3. Uji Heteroskedastisitas

Sumber: Output SPSS

 

Dilihat dari grafik diatas, maka titik-titik pada grafik tersebut tidak membentuk pola yang jelas dan titik-titik tersebar dibagian atas dan bawah angka 0 pada sumbu Y, maka dengan itu tidak ada heteroskedastisitas dalam penelitian ini.

 

Uji Normalitas

Gambar 4. Uji Normalitas

Sumber: Output SPSS

 

Berdasarkan pengujian dengan digunakannya grafik normal P-P Plot. Data menyebar disekitar garis diagonal, hal ini  membuktikan bahwasanya pola distribusi tersebut adalah normal.

Tabel 5. Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

 

Unstandardized Residual

N

65

Normal Parametersa,b

Mean

0E-7

Std. Deviation

,47274845

Most Extreme Differences

Absolute

,113

Positive

,113

Negative

-,077

Kolmogorov-Smirnov Z

,913

Asymp. Sig. (2-tailed)

,376

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

Sumber: Output SPSS

 

Hasil uji normalitas dengan uji statistik kolmogorov-smirnov (1-sample K-S) menunjukan bahwa data terdistribusi normal karena diperoleh nilai asymp. sig (2-tailed) 0,376 yang lebih unggul dari taraf keyakinan yaitu 0,05 dan sekaligus menunjukan bahwa sebaran data pada sampel ini terdistribusi normal.

Uji Hipotesis

Uji F

Tabel 6. Uji F

ANOVAa

Model

Sum of Squares

Df

Mean Square

F

Sig.

1

Regression

12,248

4

3,062

12,844

,000b

Residual

14,303

60

,238

 

 

Total

26,551

64

 

 

 

a. Dependent Variable: Y_FSF

b. Predictors: (Constant), X4_CD, X1_FS, X2_NI, X3_RA

Sumber: Output SPSS

 

Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa nilai Fhitung sebesar 12,844 dengan tingkat signifikansi 0,000, artinya nilai signifikansi lebih minim dari taraf signifikansi 0,05 atau 0,000 < 0,05. Maka H1 diterima artinya financial stability, nature of industry, rationalization, dan change in director secara simultan memiliki pengaruh yang cukup berarti atau bermakna untuk financial  statement fraud.

Uji t

Tabel 7. Uji t

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

Collinearity Statistics

B

Std. Error

Beta

Tolerance

VIF

1

(Constant)

,248

,073

 

3,420

,001

 

 

X1_FS

1,702

,276

,601

6,172

,000

,946

1,057

X2_NI

1,116

,516

,209

2,164

,034

,963

1,038

X3_RA

-,230

,424

-,053

-,543

,589

,960

1,042

X4_CD

-,176

,140

-,121

-1,264

,211

,974

1,026

a. Dependent Variable: Y_FSF

Sumber: Output SPSS

 

Berdasarkan data pada tabel diatas maka persamaan regresi untuk penelitian ini adalah:

FSF = 0,248 +1,702 FS + 1,116 NI -0,230 RA -0,176 CD + e

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa variabel financial stability (X1) memiliki nilai signifikansi 0,000 <0,05 dan nilai t hitung 6,172 maka financial stability berdampak baik atau positif dan signifikan untuk financial statement fraud. Selanjutnya variabel nature of industry (X2) memiliki nilai signifikansi 0,034 <0,05 dan nilai t hitung 2,164 maka nature of industry berpengaruh positif dan signifikan terhadap financial statement fraud. Tetapi, rationalization (X3) dan change in director memiliki nilai signifikansi > 0,05 maka berpengaruh tidak berarti untuk financial statement fraud.

 

Pengaruh Financial Stability terhadap Financial  Statement Fraud

            Berdasarkan hasil pengujian variabel financial stability (X1) memiliki nilai signifikansi 0,000 <0,05 dan nilai t hitung 6,172 maka stability financial atau financial stability berpengaruh baik dan bermakna untuk financial statement fraud, dengan keadaan tersebut maka H2 diterima. Hasil tersebut dapat menunjukkan bahwasanya semakin besar rasio pada perubahan jumlah aset suatu perusahaan, maka kemungkinan dilaksanakannya manipulasi sebuah laporan keuangan suatu perusahaan semakin besar. Hal tersebut dikarenakan perubahan rasio total asset yang tinggi dimungkinkan terjadi karena perusahaan melakukan kecurangan laporan keuangan untuk menarik investor atau menutupi kondisi yang tidak stabil. Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh oleh Bawekes et al (2018), Septriani & Handayani (2018) dan Warsidi et al (2018).

 

Pengaruh Nature of Industry terhadap Financial  Statement Fraud

            Berdasarkan hasil pengujian variabel nature of industry (X2) memiliki nilai signifikansi 0,034 <0,05 dan nilai t hitung 2,164 maka nature of industry  berdampak positif dan berarti untuk financial statement fraud, dengan keadaan tersebut maka H3 diterima. Hasil tersebut menunjukan bahwa semakin tinggi rasio perubahan piutang maka semakin tinggi pula financial statement fraud yang dilakukan perusahaan. Hal tersebut dilakukan oleh perusahaan dengan cara memberikan pertimbangan subjektif pada akun estimasi cadangan atau opsi lain terhadap piutang tak tertagih yang jauh lebih besar dari kenyataan agar dapat mengurangi laba, sehingga mengurangi jumlah pajak dibayar. Hasil penelitian ini sejalan hasil penelitian Purba dan Putra (2017) membuktikan bahwa nature of industry berpengaruh positif dan signifikan terhadap financial statement fraud.

 

Pengaruh Rationalization terhadap Financial  Statement Fraud

            Berdasarkan hasil pengujian variabel rationalization (X3) memiliki nilai signifikansi 0,589 >0,05 dan nilai t hitung -0,543 makarationalization berpengaruh tidak signifikan terhadap financial statement fraud, dengan keadaan tersebut maka H4 ditolak. Hasil tersebut menunjukan bahwa rationalization tidak mempengaruhi terjadinya financial statement fraud. Hal tersebut terjadi karena nilai akrual tidak digunakan oleh perusahaan untuk melakukan manipulasi laporan keuangan, namun digunakan oleh perusahaan untuk menampilkan kinerja dan posisi keuangan berdasarkan terjadinya transaksi yang sebenarnya. Hasil penelitian ini melengkapi penelitian yang dilakukan oleh Arisandy & Verawaty (2017), Septriani & Handayani (2018), Nurbalti & Hanafi (2017), Purba dan Putra (2017), dan Utomo (2018) membuktikan bahwa rasionalisasi berpengaruh tidak signifikan terhadap financial statement fraud.

 

Pengaruh Change in Directordan Financial  Statement Fraud

            Berdasarkan hasil pengujian variabel change in director (X4) memiliki nilai signifikansi 0,211 >0,05 dan nilai t hitung -1,264  makachange in director berpengaruh tidak signifikan terhadap financial statement fraud, dengan keadaan tersebut maka H5 ditolak. Hasil tersebut menunjukan bahwa change in director tidak mempengaruhi adanya financial statement fraud. Hal ini dapat terjadi apabila perusahaan melaksanakan pergantian direksi untuk melakukan perbaikan terhadap kinerja direksi sebelumnya dengan cara melakukan perubahan susunan direksi atau memilik direksi baru yang kompeten, sehingga pergantian direksi tidak mempengaruhi dengan adanya financial statement fraud. Hasil penelitian ini sama penelitian yang dilakukan oleh Arisandy & Verawaty (2017), Nurmulina & Sasongko (2018), Saputra dan Kusumaningrum (2017), Ulfah et al (2017), Indriyani dan Terzaghi (2017), Nugrahaeni & Triatmoko (2017), Nurbalti & Hanafi (2017), Prasastie dan Gamayuni (2014), Warsidi et al (2018) membuktikan bahwa pergantian direksi berpengaruh tidak berarti bagi financial statement fraud.

 

Koefisien Determinasi

Table 8. Koefisien Determinasi

Model Summaryb

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

Durbin-Watson

1

,679a

,461

,425

,4882525

1,893

a. Predictors: (Constant), X4_CD, X1_FS, X2_NI, X3_RA

b. Dependent Variable: Y_FSF

Sumber: Output SPSS

 

Berdasarkan tabel dapat diketahui bahwa besarnya koefisien determinasi (R Square) adalah 0,461. Artinya financial statement fraud dapat dijelaskan sebesar 46,1% oleh variable financial stability, nature of industry, rationalization, dan change in director. Sedangkan sisanya 53,9% dijelasakan oleh variabel lainnya yang tidak diteliti pada penelitian ini.

 

Kesimpulan

1.      Secara simultan financial stability, nature of industry, rationalization dan change in director berpengaruh cukup berarti terhadap financial statement fraud.

2.      Financial stability berpengaruh positif dan bermakna untuk financial statement fraud.

3.      Nature of industry berpengaruh positif dan bermakna untuk financial statement fraud.

4.      Rationalization berpengaruh tidak serius untuk financial statement fraud.

5.      Change in director berpengaruh tidak serius pada  financial statement fraud.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

ACFE Indonesia Chapter. 2016. Survai Fraud Indonesia. Association Of Certified Fraud Examiners.

 

Adelina, Nadia dan Senny Harindahyani. 2018. Analisis Fraud Diamond Dalam Mendeteksi Potensi Financial Statement Fraud Pada Perusahaan Lq-45 Periode 2011-2016. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.7 No.1 (2018).

 

Arisandy, Dopi dan Verawaty. 2017. Fraund Pentagon Dalam Mendeteksi Kecurangan Laporan Keuangan Pada Perusahaan Keuangan Dan Perbankan Di Indonesia. Seminar Nasional Global Competitive Advantage. ISBN : 978-602-74335-3-3 Page 312.

 

Bawekes, Helda F, Aaron M.A Simanjuntak dan Sylvia Christina Daat. 2018. Pengujian Teori Fraud Pentagon Terhadap Fraudulent Financial Reporting (Studi Empiris Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2015).Jurnal Akuntansi & Keuangan Daerah Volume 13, Nomor 1, Mei 2018: 114–134.

 

Cressey, D. (1953). Other People’s Money, Dalam: “The Internal Auditor As Fraud Buster, Hillison, William. Et. Al. 1999. Managerial Auditing Journal, Mcb University Press, 14/7:351-362.

 

Indriyani, Poppy dan M Titan Terzaghi. 2017. Fraund Diamond Dalam Mendeteksi Kecurangan Laporan Keuangan. I-Finance Vol. 3. No. 2. Desember 2017.

 

Kennedy, Posma Sariguna Johnson dan Santi Lina Siregar. 2017. Para Pelaku Fraud Di Indonesia  Menurut Survei Fraud Indonesia. Buletin ekonomi FE UKI Vol 21 No.2 September 2017.

 

Nugraheni, Nella Kartika dan Hanung Triatmoko. 2017. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi  Terjadinya Financial Statement Fraud: Perspektif Diamond Fraud Theory (Studi Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2016). Jurnal Akuntansi Dan Auditing  Volume 14/No. 2 Tahun 2017: 118-143.

 

Nurbalti, Zulfi dan Rustam Hanafi. 2017. Analisis Pengaruh Fraud Diamond Dalam Mendeteksi Tingkat Accounting Irregularities. Jurnal Akuntansi Indonesia, Vol. 6 No. 2  Juli  2017,  Hal. 167 – 184.

 

Nurmulina, Anna dan Noer Sasongko. 2018. Analisis Fraud Pentagon Dalam Mendeteksi Financial Statement Fraud. Prospek dan Tantangan Pengelolaan Keuangan Desa ISSN 2460-0784. Seminar Nasional dan The 5th Call for Syariah Paper.

 

Prasastie, Agung dan Rindu Rika Gamayuni. 2015. Analisis Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Kecurangan Laporan Keuangan Dengan Perspektif Fraud Diamond (Studi Empiris Pada Perusahaan Lq-45 Yang Terdaftar Di Bei Tahun 2009-2013). Jurnal Akuntansi Dan Keuangan, Vol. 20 No. 1, Januari 2015.

 

Purba, Erny Luxy D dan Samuel Putra. 2017. Analisis Fraud Diamond Dalam Mendeteksi Financial Statement Fraud : Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2013-2015. Jakpi Vol 05 No 01 - April 2017.

 

Saputra, M. Aditya Rizki dan Ninuk Dewi Kesumaningrum. 2017. Analisis Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Fraudulent Financial Reporting Dengan Perspektif Fraud Pentagon Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2015. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 22. No. 2, Juli 2017.

 

Septriani, Yossi dan Desi Handayani. 2018. Mendeteksi Kecurangan Laporan Keuangan Dengan Analisis Fraud Pentagon. Jurnal Akuntansi, Keuangan Dan Bisnis Vol. 11, No. 1, Mei 2018, 11-23.

 

Sihombing, Kennedy Samuel. 2014. Analisis Fraud Diamond Dalam Mendeteksi Financial Statement Fraud : Studi Empiris  Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2010-2012. Universitas Diponogoro.

 

Ulfah, Maria, Elva Nuraina Dan Anggita Langgeng Wijaya. 2017. Pengaruh Fraud Pentagon Dalam Mendeteksi Fraudulent Financial Reporting (Studi Empiris Pada Perbankan DiIndonesia Yang Terdaftar Di BEI. Forum Ilmiah Pendidikan Akuntansi Vol 5 No 1 Oktober 2017 Hlmn. 399-418.

 

Utomo, Langgeng Prayitno. 2018. Kecurangan Dalam Laporan Keuangan “Menguji Teori Fraud Triangle”. Jurnal Akuntansi dan Pajak, 19(01), 2018, 77-88.

 

Warsidi, Bambang Agus Pramuka dan Suhartinah. 2018. Determinant Financial Statement Fraud: Perspective Theory Of Fraud Diamond (Study Empiris Pada Perusahaan Sektor Perbankan Di Indonesia Tahun 2011-2015). Jurnal Ekonomi, Bisnis, dan Akuntansi (JEBA). Volume 20 Nomor 3 Tahun 2018.

Wolfe, David T, and R. Hermanson. 2004. The Fraud Diamond: Considering The Four Element Of Fraud. The Cpa Journal, P. 38-42.

 

Sumber dari internet :

 

bisnis.liputan6.com.. 22 Juli 2015. Skandal Terungkap, Ceo Toshiba Mundur. (Diakses 26 Oktober 2018, Pukul 17:30 WIB).

 

www.wartaekonomi.co.id. 22 Juni 2017. Ketika Skandal Fraud Akuntansi Menerpa British Telecom Dan Pwc. (Diakses 26 Oktober 2018, Pukul 17:25 WIB).

 

www.cnbcindonesia.com. 27 April 2018. Drama Bank Bukopin: Kartu Kredit Modifikasi Dan Rights Issue. (Diakses 9 November 2018, Pukul 10:09 WIB).