20
Syntax Idea: pISSN: 2684-6853 e-ISSN: 2684-883X
Vol. 3, No. 1, Januari 2021
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MENANGGULANGI KENAKALAN
REMAJA BERDASARKAN ASPEK “KNOWLEDGE, FEELING DAN
ACTING”
Alifiah Zahratul Aini, Devi Nurhani dan Muharrama Trifiriani
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) Riau, Indonesia
Abstract
Indonesia is experiencing an adolescent crisis that has a strong character, this is
evidenced by the slowing of the country's development and the high level of juvenile
delinquency as a manifestation of adolescent failure to exploit their potential.
Meanwhile, youth as young people are expected to be able to control the country in
the future, so that the youth (youth) can determine the direction of national
development. To make Indonesia more developed, it has a quality next generation.
One quality generation can be formed through character education. The method in
this study used the lietratur review method. Education must be more concerned with
and understand what must be done to prevent juvenile delinquency, one way is by
applying character education. Character education includes moral knowing, moral
feeling, moral action, without cooperation between families and character education
schools for children will not materialize well.
Keywords character building; juvenile delinquency; school
Abstrak
Indonesia mengalami krisis remaja yang memiliki karakter yang kuat, hal ini
dibuktikan dengan melambannya pembangunan negara dan tingginya tingkat
kenakalan remaja sebagai wujud dari kegagalan remaja dalam memanfaatkan
potensi yang dimilikinya. Sementara di sisi lain, remaja sebagai kaum muda
diharapkan dapat memegang kendali negara di masa depan, sehingga para pemuda
(remaja) dapat menentukan arah pembangunan bangsa. Untuk membuat Indonesia
semakin berkembang memiliki generasi penerus yang berkualitas. Generasi yang
berkualitas dapat dibentuk salah satunya melalui pendidikan karakter. Metode
dalam penelitian ini menggunakan metode literatur review. Pendidikan harus lebih
peduli dan memamhami apa yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya
kenakalan remaja, salah satu caranya adalah dengan menerapkan pendidikan
karakter. Pendidikan karakter meliputi moral knowing (pengetahuan moral), moral
feeling (perasaan moral), moral action (tindakan moral), tanpa kerja sama antara
keluarga dan sekolah pendidikan karakter pada anak tidak akan terwujud dengan
baik.
Kata kunci: pendidikan karakter; kenakalan remaja; sekolah
Alifiah Zahratul Aini, Devi Nurhani dan Muharrama Trifiriani
Syntax Idea, Vol. 3, No 1, Januari 2021 21
Pendahuluan
Indonesia memerlukan sumber daya manusia yang kompetitif dalam pengusaan
ilmu pengetahuan dan teknologi serta tidak mengabaikan aspek substansial yaitu
spiritual agar mampu menghasilkan produk dengan kualitaskualitas yang lebih baik. Hal
ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal
3, yang menyebutkan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa pendidikan merupakan
salah satu proses dalam membentuk, mengarahkan dan mengembangkan kepribadian
serta kemampuan seseorang (Indonesia, 2019). Pendidikan merupakan salah satu aspek
penting bagi suatu bangsa untuk menunjukan kualitas, identitas serta kemajuan
seseorang. Suprapto dan Ikhsan (Kristiawan,2016) memaparkn pemerintah telah banyak
meluncurkan beasiswa dan bantuan pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber
daya manusia di Indonesia, beasiswa tersebut seperti BOS, BSM, DOS, dana CSR, dan
lain-lain. Namun, segelintir orang menyalah gunakan hal tersebut tradisi atau budaya
yang mandarah daging, mulai dari korupsi, kolusi, etos kerja rendah, mendahulukan ahli
keluarga dalam memecahkan masalah, pelecehan hukum, dan sifat oportunis,
kesemuanya ini masih berlangsung, dan ini adalah hasil dari proses pendidikan kita.
Mundurnya kualitas tingkah laku moral, banyaknya perbuatan orang dewasa yang tidak
bisa dijadikan contoh memiliki dampak buruk salah satunya timbulnya kenakalan
remaja.
Sumber daya manusia merupakan salah satu sumber penentu atau merupakan
faktor determinan dalam pembangunan di berbagai sektor dan bidang suatu bangsa.
Menurut Nurdiana, Kegiatan pemberdayaan sumber daya manusia berbasis masyarakat
sendiri dapat dilakukan dengan kerja sama masyarakat dan pemerintah. Fokus utama
pada kegiatan ini adalah untuk mengembangkan kualitas dan kompetensi sumber daya
manusia untuk kemudian dapat menghindarkan sumber daya manusia tersebut
dari apa yang disebut dengan pengangguran (Indriyani et al., 2020).
Satu diantara permasalahan nasional yang dihadapi oleh negeri ini ialah
penanganan terhadap kurangnya kualitas sumber daya manusia. Jumlah sumber daya
manusia yang melimpah jika bisa didayagunakan dengan efektif serta efisien akan
berguna guna menunjang gerak lajunya pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Melimpahnya sumber daya manusia yang tersedia kini mengharuskan berfikir dengan
seksama yakni sebagaimana bisa membudidayakan sumber daya manusia secara
optimal. Supaya di lingkungan masyarakat tersedia sumber daya manusia yang handal
dibutuhkan pendidikan yang berbobot, penyediaan berbagai fasilitas sosial, lapangan
pekerjaan yang mencukupi (Khojin et al., 2020).
Pada saat krisis terjadi di Indonesia remaja tidak memiliki karakter yang kuat,
hal ini dapat dilihat dari pembangunan negara yang lambat dan meningkatnya kenakalan
remaja sebagai wujud dari kegagalan remaja. Sementara di sisi lain, remaja sebagai
kaum muda diharapkan dapat memegang kendali negara di masa depan, sehingga para
pemuda (remaja) dapat menentukan arah pembangunan bangsa. Maka dari itu demi
untuk pembangunan dan kemajuann bangsa Indonesia di masa depan, juga sebagai agen
Pendidikan karakter dalam menanggulangi kenakalan remaja berdasarkan aspek “Knowledge,
Feeling dan Acting”
22 Syntax Idea, Vol. 3, No 1, Januari 2021
penerus bangsa, pendidikan karakter bagi remaja merupakan hal yang sangat perlu untuk
diperhatikan, untuk menciptakan generasi penerus yang berkualitas. Remaja yang
memiliki karakter yang kuat mampu dengan mudah mencegah timbulnya kenakalan
remaja. Survey Demografi Kesehatan Indonesia pada 2018 menunjukkan jumlah remaja
di Indonesia mencapai 30 % dari jumlah penduduk, yaitu sekitar 1,2 juta jiwa
(Alamanda et al., 2019). Dari penelitian ini menunjukkan bahwa remaja dapat menjadi
aset bangsa ketika remaja dapat menunjukkan dan mengembangkan potensi diri yang
positif namun sebaliknya akan menjadi petaka jika remaja tersebut menunjukkan
perilaku yang berdasarkan survey dari BKKBN terkait kasus kenakalan remaja pada
2018 yang dilakukan di 33 provinsi melaporkan bahwa 63 persen remaja di Indonesia
usia sekolah SMP dan SMA sudah melakukan hubungan seksual pranikah dan 21
persen aborsi. Disaat masa pandemi covid ini, proses pembelajaran daring dan
kurangnya pengawasan orang tua dikarenakan aktivitas pekerjaan, mengakibatkan
aktivitas siswa tidak terkontrol sehingga siswa melakukan aktivitas yang cenderung
terhadap kenakalan remaja.
Departemen Kehamilan Rumah Sakit Jinkei melayani konsultasi kehamilan 75
remaja jumlah itu meningkat 29 persen. Wakil Presiden Rumah Sakit Jinkei
mengungkapkan meningkatnya kehamilan siswa SMP dan SMA (Jinkei, 2020)
dikarenakan saat libur di rumah dan orang tua mereka kerja, maka banyak waktu luang
yang dimanfaatkan beberapa siswa untuk ketemuan sama pasangannya sehingga pada
beberapa kasus mengakibatkan kehamilan yang tidak direncanakan. Dikota Palangka
Raya, Aktivitas luar rumah yang dilakukan oleh remaja yang masih berstatus pelajar
dinilai sangat keterlaluan karena dalam beberapa pekan ini polisi berhasil menangkap
puluhan pelajar yang menggunakan masa libur untuk berbuat kenakalan seperti balapan
liar, tawuran dan juga minum-minuman keras beralkohol (Widodo et al., 2020).
Pendidikan karakter remaja dapat diintegrasikan dengan pendidikan formal,
nonformal dan informal sebagai bentuk pencegahan timbulnya kenakalan remaja.
Pendidikan karakter ini merupakan upaya untuk mengembangkan sikap etika, moral dan
tanggung jawab yang dibutuhkan remaja dalam menjalani kehidupan sosialnya tanpa
merugikan lingkungannya dengan tindakan-tindakan yang menyimpang dari Pendidikan
karakter bagi para remaja dapat menyaring informasi-informasi yang tidak sesuai bagi
mereka. Informasi ‘tidak layak’ tersebut dapat diperoleh dari lingkungansekolah,
keluarga, bahkan lingkungan pertemanan. Apalagi dengan arus informasi, yang
diakselerasi dengan kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat.
Proses internalisasi melalui berbagai sumber informasi yang diperoleh remaja,
dapat mempengaruhi pola pola pikir dan dapat mewujud dalam bentuk tingkah laku
maupun perbuatan. Urgensi pendidikan karakter sebagai salah satu upaya untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia diperkuat dengan kebijakan pemerintah
melalui UU No. 20 tahun 2003 tentang Pendidikan Karakter. Hal diperkuat oleh
Peraturan Presiden No 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Indonesia di masa
depan, sebagai penerus bangsa maka pendidikan karakter bagi remaja merupakan hal
yang sangat penting baik untuk menciptakan generasi yang berkualitas. Pada remaja
Alifiah Zahratul Aini, Devi Nurhani dan Muharrama Trifiriani
Syntax Idea, Vol. 3, No 1, Januari 2021 23
yang memiliki karakter yang kuat cenderung dapat mencegah timbulnya kenakalan
remaja. Survey Demografi Kesehatan Indonesia pada 2018 menunjukkan jumlah remaja
di Indonesia mencapai 30 % dari jumlah penduduk, yaitu sekitar 1,2 juta jiwa. Dari
penelitian ini menunjukkan bahwa remaja dapat menjadi aset bangsa jika remaja dapat
menunjukkan potensi diri yang positif namun sebaliknya akan menjadi petaka jika
remaja tersebut menunjukkan perilaku yang negatif bahkan sampai terlibat dalam
kenakalan remaja.
Berdasarkan survey dari BKKBN terkait kasus kenakalan remaja pada 2018 yang
dilakukan di 33 provinsi melaporkan bahwa 63 persen remaja di Indonesia usia sekolah
SMP dan SMA sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah dan 21 persen di
antaranya melakukan aborsi (BKKBN, 2019). Disaat masa pandemi covid ini, proses
pembelajaran daring dan kurangnya pengawasan orang tua dikarenakan aktivitas
pekerjaan, mengakibatkan aktivitas siswa tidak terkontrol sehingga siswa melakukan
aktivitas yang cenderung terhadap kenakalan remaja. Dikota Palangka Raya, Aktivitas
luar rumah yang dilakukan oleh remaja yang masih berstatus pelajar dinilai sangat
keterlaluan karena dalam beberapa pekan ini polisi berhasil menangkap puluhan pelajar
yang menggunakan masa libur untuk berbuat kenakalan seperti balapan liar, tawuran
dan juga minum-minuman keras beralkohol.
Pendidikan karakter remaja dapat diintegrasikan dengan pendidikan formal,
nonformal dan informal sebagai bentuk pencegahan timbulnya kenakalan remaja.
Pendidikan karakter ini merupakan upaya untuk mengembangkan sikap etika, moral dan
tanggung jawab yang dibutuhkan remaja dalam menjalani kehidupan sosialnya tanpa
merugikan lingkungannya dengan tindakan-tindakan yang menyimpang dari nilai dan
norma masyarakat. Pendidikan karakter bagi para remaja dapat menyaring informasi
informasi yang tidak sesuai bagi mereka. Informasi ‘tidak layak’ tersebut dapat
diperoleh dari lingkungansekolah, keluarga, bahkan lingkungan pertemanan. Apalagi
dengan arus informasi, yang diakselerasi dengan kemajuan teknologi informasi yang
begitu pesat. Turunan kebijakan tersebut merupakan upaya perwujudan cita-cita
pembangunan karakter sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan Pembukaan
UUD 1945 serta mengatasi permasalahan kebangsaan saat ini, maka pemerintah
menjadikan pembangunan karakter sebagai salah satu program prioritas pembangunan
nasional. Pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi
pembangunan nasional, yaitu “mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral,
beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila”. Pendidikan akan
melatih dan mengasah nalar manusia, sehingga dengan pendidikan maka akan semakin
terbuka wawasan terhadap segala sesuatu yang ada di dunia ini. Nilai moral dari suatu
materi pendidikan adalah keyakinan dari suatu individu atau budaya yang subjektif dan
mungkin berbeda-beda bagi setiap orang dan budaya. Nilai moral seseorang dapat
berkembang dan berubahubah setiap saat, sedangkan nilai moral dari suatu budaya yang
terbagi atau diperlakukan sama bagi semua anggota atau kelompok berbeda dengan
kelompok yang lainnya. Untuk menanamkan nilai-nilai dari moral pendidikan dapat
diterapkan melalui pembelajaran matematika (Suparni, 2019).
Pendidikan karakter dalam menanggulangi kenakalan remaja berdasarkan aspek “Knowledge,
Feeling dan Acting”
24 Syntax Idea, Vol. 3, No 1, Januari 2021
Sekarang ini sistem pendidikan di indonesia menjadi masalah yang serius karena
terlalu berorientasi pada pengembangan otak kiri (kognitif) dan kurang memperhatikan
otak kanan (afektif, empati, dan rasa). Proses belajar juga berlangsung secara pasif dan
kaku sehingga menjadi tidak menyenangkan bagi anak. Mata pelajaran yang berkaitan
dengan pendidikan karakter (seperti budi pekerti dan agama) ternyata pada prakteknya
lebih menekankan pada aspek otak kiri (hafalan, atau hanya sekedar tahu).Semuanya ini
telah membunuh karakter anak sehingga menjadi tidak kreatif. Padahal, aspek
knowladge, feeling, loving, dan acting merupakan suatu pembentukan karakter yang
harus dilakukan secara berkesinambungan. Tulisan ini mencoba membahas pendidikan
karakter remaja dikaitkan dengan pencegahan kenakalan remaja. Pendidikan karakter
dalam Menanggulangi Kenakalan Remaja berdasarkan Aspek knowledge, feeling, dan
acting”.
Metode Penelitian
Jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik
atau bentuk hitungan lainnya (Gunawan, 2013). Metode dalam penelitian ini
menggunakan literatur review.
Hasil dan Pembahasan
A. Hasil
Pada dasarnya kenakalan remaja merupakan bentuk dari kekeliruan mereka
dalam memproses informasi yang mereka dapatkan. Kenakalan remaja biasanya
dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses
perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya.
Perkembangan fisik, psikis, dan emosi pada masa anak-anak dan masa remaja terjadi
begitu cepat. Para remaja atau siswa dengan kegiatan-kegiatan yang akan
mengantarkan mereka berpikir kritis mengenai persoalan-persoalan etika dan moral
akan menginspirasi mereka untuk setia dan loyal dengan tindakan-tindakan etika dan
moral. Mereka akan mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan perilaku etika
dan moral tersebut dalam kegiatan sehari-hari atau sama halnya dengan pendidikan
karakter dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan karakter ini merupakan cara terbaik untuk menjamin anak-anak
(siswa) memiliki kepribadian yang baik dalam kehidupannya, kemudian sebagian
siswa tidak dapat membentuk karakter yang kuat bagi dirinya di tempat lain. Tidak
serta merta pendidikan karakter menjadi tanggungjawab dari pendidikan moral atau
budi pekerti dan pendidikan pancasila melainkan menjadi tanggung jawab semua
bidang studi. Oleh karena itu ketika pelaksanaan kurikulum 2013, keseimbangan
ranah pembelajaran antatar kognitif, afektif dan psikomotor menjadi ouput yang
mutlak sebagai bagian penididikan karakter bangsa.
Karakter seseorang akan menjadi baik apabila didasarkan dengan nilai-nilai
moral dan etika yang berlaku dan disepakati di masyarakat. Tiga komponen penting
yang menjadikan karakter yang baik (components of good character), yaitu moral
Alifiah Zahratul Aini, Devi Nurhani dan Muharrama Trifiriani
Syntax Idea, Vol. 3, No 1, Januari 2021 25
knowing atau pengetahuan tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang moral,
dan moral action atau perbuatan moral. Karakter yang baik akan muncul setelah
ketiga kompenen karakter tersebut bisa terpenuhi dalam diri peserta didik.
B. Pembahasan
a. Masa remaja
Pada masa remaja sering disebut dengan masa pemberontakan dimana
seorang anak mengalami pubertas sering menampilkan beragam gejolak emosi,
menjauh dari keluarga dan banyak mengalami permasalahan dimana saja.
Kenakalan remaja pada saat ini, seperti yang banyak diberitakan di berbagai
media, dapat dikatakan sudah melebihi batas yang sewajarnya. Tindakan yang
dilakukan oleh remaja sekarang banyak yang menyimpang dari norma-norma
yang berlaku di masyarakat dan berurusan dengan hukum seperti adanya
permasalahan sosial diantaranya merokok, narkoba, free sex, pencurian dan lain-
lain (Unayah & Muslim sabarisman, 2015).
Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI 2007) yang dilansir
dari (http://ntb.bkkbn.go.id) menunjukkan jumlah remaja di Indonesia mencapai
30 % dari jumlah penduduk, jadi sekitar 1,2 juta jiwa. Namun kondisi remaja di
Indonesia saat ini dapat digambarkan sebagai berikut: pernikahan usia remaja,
remaja yang melakukan sex pra nikah dan Kehamilan tidak dinginkan, Aborsi 2,4
jt dan 700-800 ribu diantaranya adalah remaja, MMR 343/100.000 (17.000/th,
1417/bln, 47/hr perempuan meninggal) karena komplikasi kehamilan dan
persalinan. HIV/AIDS: 1283 kasus, diperkirakan 52.000 terinfeksi (fenomena
gunung es), 70% remaja.
Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan UI yang
menunjukkan hasil penelitiannya yaitu remaja yang melakukan penyalahgunaan
narkoba sebesar 1,5% dari populasi atau 3,2 juta orang, terdiri dari 69% kelompok
teratur pakai dan 31% kelompok pecandu dengan proporsi laki-laki sebesar 79%,
perempuan 21%. Kelompok teratur pakai terdiri dari penyalahguna ganja 71%,
shabu 50%, ekstasi 42% dan obat penenang 22%.Kelompok pecandu terdiri dari
penyalahguna ganja 75%, heroin / putaw 62%, shabu 57%, ekstasi 34% dan obat
penenang 25%.
Kenakalan remaja adalah suatu perilaku remaja melanggar status,
membahayakan diri sendiri, menimbulkankorban materi pada orang iain, dan
perilaku menimbulkan korban fisik pada orang lain. Perilaku melanggar status
merupakan perilaku dimana remaja suka melawan orang tua, membolos sekolah,
pergi dari rumah tanpa pamit. Perilaku membahayakan diri sendiri, antara lain
mengendarai kendaraan bermotor dengan kecepatan tinggi (bahkan tanpa helm),
menggunakan narkotika, menggunakan senjata, keluyuran malam, dan pelacuran
(Muawanah & Herlan, 2019).
b. Pendidikan karakter
Suatu usaha yang disengaja untuk membantu seorang untuk dapat
memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika inti disebut dengan
Pendidikan karakter dalam menanggulangi kenakalan remaja berdasarkan aspek “Knowledge,
Feeling dan Acting”
26 Syntax Idea, Vol. 3, No 1, Januari 2021
pendidikan karakter menurut (Lickona, 1996). Dari definisi tersebut, ketika kita
berpikir tentang jenis karakter yang kita kehendaki agar mereka mampu
memahami nilai-nilai tersebut, memperhatikan secara lebih mendalam mengenai
benarnya nilai-nilai itu, dan kemudian melakukan apa yang diyakininya itu,
mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pengertian yang
disampaikan Lickona di atas memperlihatkan adanya proses perkembangan yang
melibatkan pengetahuan (moral knowing), perasaan (moralfeeling), dan tindakan
(moral action), sekaligus juga memberikan dasar yang kuat untuk membangun
pendidikan.
Definisi di atas juga mengacu bahwa kita harus mengenalkan mereka,
membawa mereka para siswa dengan kegiatan-kegiatan yang akan
mengantarkan mereka berpikir kritis mengenai persoalan-persoalan ketika dan
moral; menginspirasi mereka untuk setia dan loyal dengan tindakan-tindakan
etika dan moral; dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk
mempraktikkan perilaku etika dan moral tersebut dalam kegiatan sehari-hari.
Untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan moral, ada enam tahap yang
harus dilalui yaitu moral action (tindakan moral), dalam pengertian yang luas
adalah akibat atau hasil dari moral knowing dan moral feeling. Kompetensi
(competence), keinginan (will), dan kebasaan (habit) merupakan tiga aspek dari
karakter. Sementara menurut (Megawangi, 2010), ada tiga tahap pembentukan
karakter yaitu: moral knowing adalah memahami dengan baik pada anak tentang
arti kebaikan, moral feeling adalah membangun kecintaan berperilaku baik pada
anak yang akan menjadi sumber energi anak untuk berperilaku baik, moral
action adalah bagaimana membuat pengetahuan moral menjadi tindakan nyata.
Moral action merupakan outcome dari dua tahap sebelumnya dan harus
dilakukan berulang-ulang agar menjadi moral behavior.
Ada beberapa alasan mengapa pendidikan karakter itu harus disampaikan
yaitu karena merupakan cara terbaik untuk menjamin anak-anak (siswa)
memiliki kepribadian yang baik dalam kehidupannya, kemudian sebagian siswa
tidak dapat membentuk karakter yang kuat bagi dirinya di tempat lain (Lickona,
1996).
c. Implementasi pendidikan karakter dalam menanggulangi kenakalan
remaja
Remaja merupakaan fase dimana individu masih berada dalam tahap
pertumbuhan dan perkembangan yang memiliki kepribadian labil dan sedang
mencari jati diri untuk membentuk karakternya sehingga itu menjadi karakter
yang tetap dalam dirinya. Pendidikan pada usia remaja menjadi momen yang
penting dalam menentukan karakter seseorang setelah dewasa (Kristiawan,
2016). Maraknya kenakalan remaja membuat dunia Pendidikan harus lebih
peduli dan memamhami apa yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya
kenakalan remaja, salah satu caranya adalah dengan menerapkan Pendidikan
karakter.
Alifiah Zahratul Aini, Devi Nurhani dan Muharrama Trifiriani
Syntax Idea, Vol. 3, No 1, Januari 2021 27
Pendidikan karakter dapat diandalkan sebagai cara mencegah terjadinya
kenakalan remaja, banyak penelitian yang dilakukan, seperti meneliti tentang
hubungan antara pelaksanaan pendidikan karakter dengan perilaku sosial
siswa. Institusi pendidikan diharapkan mampu mengoptimalkan
implementasi karakter upaya pendidikan di sekolah untuk meningkatkan
prestasi siswa dan meminimalkan perilaku menyimpang siswa (Nova et al.,
2014). Selanjutnya penelitian Fajri, dkk yang berjudul pendidikan karakter
memberikan pengaruh sebesar 29.7%. Pendidikan karakter berada pada
kategori baik dengan aspek yang
paling tinggi adalah aspek religius,
sedangkan pengembangan diri berada pada kategori baik dengan aspek yang
paling tinggi adalah aspek potensi moral (Fajri et al., 2020).
Pendidikan karakter
meliputi pertama moral knowledge, meumbuhkan
moral knowladge hal yang penting untuk diajarkan, Moral awarness
(kesadaran moral). Perspective-taking (pengambilan presfektif), Moral
reasoning (alasan moral), Decesion-making (pengambilan keputusan) dan
Self-knowledge. Moral knowledge bisa di bentik dengan menciptakan
kegiatan-kegiatan seperti mngarahkan anak agar menjadikan agama sebagai
pedoman berperilaku, dengan membuat kegiatan keagamaan dirumh maupun
disekolah, seperi muhadhoroh, membiasaka mendengarkan pengajian,
membaca al-qur’an, mengarahkan anak mengikuti kegiatan keagamaan
seperti rohis, di sekolah maupun di lingkungn tempat tinggal. Membiasakan
mengucapkan salam serta bersalaman kepada guru dan karkawan
dilingkungan sekolah, bersikap sopan santun, membiasakan diri untuk
membuang sampah pada tempatnya, membiasakan sifat antre, membiasakan
menghargai pendapat orang lain, dan membiasakan minta izin masuk/keluar
kelas atau ruangan, melaksanakan diskusi dalam memecahkan masalah di
lingkungan kelas, sekolah atau lingkungan keluarga, mengajarkan anak
tanggung jawab, mandiri, disiplin, dan jujur.
Nilai-nilai ini sangat penting agar anak kedepannya bisa disiplin, mandiri
dan bertanggung jawab apa yang dilakukannya. Kegiatan ini dapat diterapkan
di sekolah dan di rumah atau dilingkungan sekitar, sehingga menumbuhkan
moral knowledge pada diri remaja. Selanjutnya Moral Feeling (Perasaan
Moral); hal yang penting untuk diajarkan meliputi, Conscience (Kesadaran).
Self-esteem (penghargaan-diri), Empathy (empati), Loving the good, Self-
control, Humility (kerendahan hati). Bentuk kegiatan yang dapat di buat oleh
sekolah, keluarga maupun lingkungan sekitar dapat berupa mengajarkan
anak menghormati dan menghargai orang lain. etika dan sopan
santun.berbagi, kasih sayang terhadapt sesama, belajar membantu orang
yang membutuhkan (dapat dilakukan sebulan-sekali secara rutin),
menjenguk teman, saudara atau tetangga yang sakit atau sedang mengalami
musibah. Selanutnya moral action, hal yang penting untuk diajarkan meliputi
Kompetensi (Competence), kemauan (Will), kebiasaan (Habit).
Pendidikan karakter dalam menanggulangi kenakalan remaja berdasarkan aspek “Knowledge,
Feeling dan Acting”
28 Syntax Idea, Vol. 3, No 1, Januari 2021
Kegiatan yang dapar dilakukan sekolah maupun orang tua untuk
menumbuhkan moral action adalah menumbuhkan jiwa kreatif anak ,
percaya diri dengan banyak mengikuti kegiatan public speaking, lomba antar
sekolah, kegiatan menyanyi, menari yang akan memicu anak menjadi orang
yang percaya diri. Menumbukhan jiwa pekerja keras dengan mengajarkan
anak untuk belajar bagaimana mendapatkan yang iya inginkan, belajar
mengerjakan pekerjaan rumah secara andiri, megerjakan tugas secara
mandiri, mengerjakan latihan-latihan soal secara mandiri.
Kesimpulan
Enam tahap yang harus dilalui dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pendidikan
moral; moral awarness (kesadaran moral), knowing moral values (pengetahuan nilai-
nilai moral), perspective-taking, moral reasoning (alasan moral), decesion-making
(pengambilan keputusan), melf-knowledge, moral feeling (perasaan moral). Moral feling
meliputi; Conscience (kesadaran), self-esteem (penghargaan-diri), empathy (empati),
loving the good, self-control, humility (kerendahan hati), moral action (tindakan moral).
Moral action (tindakan moral) dalam pengertian yang luas adalah akibat atau hasil dari
moral knowing dan moral feeling. Tiga aspek dari karakter; kompetensi, (competence),
keinginan (will), dan kebiasaan (habit).
Dalam proses pendidikan karakter tersebut membutuhkan partisipasi dari berbagai
pihak, terutama sekolah dan keluarga. Tanpa adanya kerjasama yang baik antar sekolah
dan keluarga tpendidikan karakter pada anak tidak akan terwujud dengan baik.
BIBLIOGRAFI
Alamanda, M., Nugraha, A. C., Suryahudaya, E. G., & Kenawas, Y. (2019). Kesiapan
pemuda urban Indonesia dan dukungan pemerintah terhadap bonus demografi
Indonesia. Jurnal Perkotaan, 11(2), 151161.
BKKBN. (2019). BKKBN Hadapi Permasalahan Remaja Indonesia dengan GenRe
Educamp 2019.
Fajri, F., Hartono, R., & Hakim, L. (2020). Pengaruh Pendidikan Karakter Terhadap
Pengembangan Diri. 3(1), 3138.
Gunawan, I. (2013). Metode penelitian kualitatif. Jakarta: Bumi Aksara, 143.
INDONESIA, P. R. (2019). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun
2003 Tentang Badan Usaha Milik Negara.
Indriyani, A., Saefulloh, M., & Riono, S. B. (2020). Pengaruh Diklat Kependidikan dan
Kesejahteraan Guru terhadap Kualitas Guru di Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan
Jamblang Kabupaten Cirebon. Syntax Idea Vol. 2 No, 7
.
Alifiah Zahratul Aini, Devi Nurhani dan Muharrama Trifiriani
Syntax Idea, Vol. 3, No 1, Januari 2021 29
Jinkei, D. kehamilan rumah sakit. (2020). Sekolah Diliburkan Karena Pandemi, Tingkat
Kehamilan Siswi SMP dan SMA Meningkat di Negara Ini.
Khojin, N., Utami, S. N., & Syaifulloh, M. (2020). Pengaruh tingkat pendidikan
terhadap produktivitas kerja pembutik bawang di sub terminal agribisnis larangan.
Syntax, 2(5).
Kristiawan, M. (2016). Telaah Revolusi Mental Dan Pendidikan Karakter Dalam
Pembentukkan Sumber Daya Manusia Indonesia Yang Pandai Dan Berakhlak
Mulia. Tadib, 18(1), 13.
Lickona, T. (1996). Eleven principles of effective character education. Journal of Moral
Education, 25(1), 93100.
Megawangi, R. (2010). Pengembangan program pendidikan karakter di sekolah:
pengalaman sekolah karakter. Jakarta: Indonesia Heritage Foundation (IHF).
Muawanah, L., & Herlan, P. (2019). Kematangan Emosi, Konsep Diri dan Kenakalan
Remaja. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 16891699.
Nova, C., Jumaini, & Indriati, G. (2014). Hubungan Penerapan Pendidikan Karakter
Terhadap Perilaku Sosial Siswa. Journal Keperawatan, 1(No 2), 16.
Suparni. (2019). Pembentukan Karakter Peserta Didik Melalui Pembelajaran
Matematika. Jurnal Pendidikan Matematika, 4(1), 1318.
https://doi.org/10.21107/metalingua.v4i1.6123
Unayah, N., & Muslim sabarisman. (2015). Fenomena Kenakalan Remaja dan
Kriminalitas. 200, 121140.
Widodo, A. S., Hakim, L., Setyawan, H. Y., Sutopo, D. S., & Ridlo, M. (2020).
Pengembangan batik motif dayak dan eksplorasi fauna flora di kawasan Kutai
Barat Sebagai Embrio Taman Nasional Anggrek Hitam. Seminar Nasional Hasil
Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat (SNP2M), 491497.