1078
Syntax Idea: pISSN: 2684-6853 e-ISSN: 2684-883X
Vol. 2, No. 12, Desember 2020
PENGARUH TINGKAT PERTUMBUHAN PENJUALAN DAN PERPUTARAN
PIUTANG TERHADAP LIKUIDITAS PADA PERUSAHAAN KIMIA
Muhamad Dwi Aprian dan Dwi Indah Lestari
Universitas Jenderal Achmad Yani Cimahi Jawa Barat, Indonesia
Abstract
This study aims to explain the effect of growth sales rate and receivable turnover on
liquidity. The population in this study were all chemicals companies listed on the
Indonesia Stock Exchange in 2014-2018 as many as 13. Samples were obtained
using a purposive sampling technique with a total of 11 companies and observation
period of 5 years and then obtained 55 samples. The analytical method used in this
study is logistic regression analysis with SPSS Statistics 20 software. The results of
the research indicates that partially growth sales rate has significant and positive
effect on liquidity, another case of receivable turnover has no significant and
positive effect on liquidity. While simultaneously growth sales rate and receivable
turnover together has significant and positive effect on liquidity.
Keywords: growth sales rate; receivable turnover; liquidity
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh tingkat petumbuhan penjualan
dan perputaran piutang terhadap likuiditas. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh perusahaan kimia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2018
sebanyak 13. Sampel diperoleh menggunakan teknik purposive sampling dengan
jumlah sebanyak 11 perusahaan dan periode pengamatan selama 5 tahun sehingga
menghasilkan 55 sampel. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini
adalah analisis regresi logistic dengan alat bantu software SPSS Statistic 20. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial tingkat pertumbuhan penjualan
berpengaruh positif dan signifikan terhadap likuiditas, lain halnya dengan
perputaran piutang tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap likuiditas.
Sedangkan secara simultan tingkat pertumbuhan penjualan dan perputaran piutang
secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap likuiditas.
Kata kunci: tingkat pertumbuhan penjualan; perputaran piutang; likuiditas
Pendahuluan
Dalam menghadapi era industri 4.0 ini perkembangan di dunia bisnis semakin
ketat dan pesat, dimana suatu perusahaan dituntut untuk meningkatkan produktivitas,
menjaga kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan mendapatkan laba. Salah satu aktivitas
utama dalam rangka mendapatkan laba adalah penjualan, oleh karena itu perusahaan
harus mengelola aktivitas penjualan secara cermat dan dengan prosedur-prosedur
penjualan yang baik agar terjadi fluktuasi yang tinggi dan untuk menjaga kontinuitas
penjualan suatu perusahaan.
Pengaruh Tingkat Pertumbuhan Penjualan dan Perputaran Piutang terhadap Likuiditas
Syntax Idea, Vol. 2, No. 12, Desember 2020 1079
Selain mendapatkan laba, perusahaan juga harus menunjukkan kemampuan dalam
membayar utang jangka pendeknya, jika perusahaan mampu membayar kewajibannya,
maka perusahaan tersebut dapat dinyatakan sebagai perusahaan yang likuid. Perusahaan
dapat menggunakan tiga jenis rasio likuiditas yaitu rasio lancar, rasio cepat, dan rasio
kas sebagai media untuk membantu perusahaan dalam menilai kelancaran perusahaan
untuk memenuhi kewajiban lancarnya (Fauzia, 2015).
Menurut (Indrayenti & Natania, 2016) suatu perusahaan dapat dikatakan
mengalami pertumbuhan ke arah yang lebih baik jika terdapat pertumbuhan yang
konsisten dalam aktivitas utama operasinya. Pertumbuhan penjualan merupakan aspek
penting yang menjadi sorotan perusahaan. Sedangkan menurut (Saputri dkk., 2018)
perusahaan yang penjualannya tumbuh dengan baik dan dapat mengelola biaya dengan
efisien memiliki kemungkinan untuk memperoleh laba yang cukup tinggi sehingga
perusahaan memiliki kecukupan dana untuk membayar hutang yang terjadi.
Menurut (Rusdiyanto & Rahmi, 2019) penjualan yang dilakukan secara kredit
dimana pihak pembeli tidak perlu membayar semua tagihan pada saat terjadinya
transaksi akan menimbulkan piutang. Posisi piutang perusahaan dapat dinilai dengan
cara menghitung tingkat perputaran piutang. Perputaran piutang bagi suatu perusahaan
sangatlah penting untuk diketahui karena semakin tinggi perputaran piutang, maka
piutang yang dapat ditagih oleh perusahaan semakin banyak. Perputaran piutang akan
menunjukkan berapa kali piutang tersebut dapat tertagih kembali ke dalam kas
perusahaan.
Menurut (Gaol, 2015) penjualan secara kredit akan menguntungkan penjual
karena akan memperluas pasar. Semakin tinggi tingkat pertumbuhan penjualan produk,
maka likuiditas akan semakin tinggi dikarenakan penjualan mencakup kas dan piutang
yang termasuk kategori aktiva lancar yang merupakan komponen dalam menghitung
tingkat likuiditas, kelangsungan hidup suatu perusahaan dipengaruhi oleh banyak hal
antara lain likuiditas perusahaan itu sendiri, likuiditas mengacu pada kemampuan suatu
perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Likuiditas merupakan
kemampuan untuk memperoleh kas dengan menggunakan aset lancar yang dimiliki lalu
dihitung dengan rasio likuiditas. Semakin tinggi likuiditas perusahaan menunjukkan
bahwa semakin baik kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Menurut (Rusdiyanto & Rahmi, 2019) tingkat likuiditas sebuah perusahaan
biasanya dijadikan sebagai tolak ukur untuk pengambilan keputusan bagi pihak-pihak
yang berkaitan dengan perusahaan. Beberapa pihak yang biasanya terkait dengan
tingkat likuiditas suatu perusahaan yaitu pemegang saham, penyuplai bahan baku,
manajemen perusahaan, kreditur, konsumen, pemerintah, lembaga asuransi dan lembaga
keuangan. Suatu perusahaan dapat dikatakan mempunyai kinerja yang baik apabila
mempunyai tingkat likuiditas yang tinggi. Dan sebaliknya, suatu perusahaan dapat
dikatakan mempunyai kinerja yang buruk apabila mempunyai tingkat likuiditas yang
rendah. Berikut ini data yang menunjukkan tingkat pertumbuhan penjualan dan
likuiditas dengan rasio lancar pada perusahaan kimia yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia tahun 2014-2018:
Tabel 1 Perhitungan Tingkat Pertumbuhan Penjualan Dan Likuiditas
Kode
Tingkat Pertumbuhan Penjualan (%)
Likuiditas (kali)
Muhamad Dwi Aprian dan Dwi Indah Lestari
1080 Syntax Idea, Vol. 2, No 12, Desember 2020
Emiten
2014
2015
2016
2017
2014
2015
2016
2018
Agii
13,04
29,81
15,75
11,34
1,20
1,09
1,13
1,22
Ekad
25,77
0,94
6,98
13,18
2,33
3,57
4,89
5,05
Etwa
-17,08
-60,42
-38,60
-78,74
0,47
0,63
0,49
0,02
Inci
35,42
24,22
28,83
53,18
12,86
9,68
5,82
3,04
Mdki
20,12
7,12
11,70
8,28
1,41
1,42
2,12
7,02
Sumber: Data Penelitian 2020
Berdasarkan pada tabel 1 dapat dilihat bahwa tingkat pertumbuhan penjualan pada
empat perusahaan (Agii, Ekad, Inci, dan Mdki) menunjukkan nilai persentase yang
positif setiap tahunnya yang menjelaskan keempat perusahaan tersebut mengalami
peningkatan penjualan dari tahun 2014-2018, kemudian data likuiditas dari keempat
perusahaan tersebut yang diukur menggunakan rasio lancar menghasilkan nilai lebih
dari satu kali setiap tahunnya menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam
membayar utang jangka pendeknya dinilai baik.
Hasil berbeda didapatkan bahwa data tingkat pertumbuhan penjualan pada
perusahaan ETWA menunjukkan nilai persentase yang negatif setiap tahunnya ini
menjelaskan bahwa penjualan pada perusahaan tersebut mengalami penurunan dari
tahun 2014-2018, berbanding lurus dengan data likuiditas pada perusahaan tersebut
yang diukur menggunakan rasio lancar menghasilkan nilai kurang dari satu kali setiap
tahunnya ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam membayar utang
jangka pendeknya dinilai kurang baik.
Menurut (Latief, 2018) nilai proporsional likuiditas menggunakan rasio lancar ini
adalah memiliki aset lancar satu kali dari jumlah kewajiban lancarnya, apabila nilai
dibawah satu kali dari jumlah kewajiban lancarnya maka dianggap kurang aman
likuiditasnya dan dapat terganggu sewaktu-waktu, sedangkan jika terlalu tinggi maka
dapat menyebabkan efek negatif bagi investor karena kondisi tersebut mengindikasikan
banyaknya pos-pos aset lancar yang berlebih. Tidak ada ketentuan mutlak tentang
berapa tingkat rasio lancar yang dinilai baik atau yang seharusnya dipertahankan oleh
suatu perusahaan, agar kita bisa melihat angka rasio lancar yang baik maka harus
dibandingkan dengan rasio lancar dari perusahaan yang sejenis yang masih dalam sektor
yang sama dan periode yang sama.
Berdasarkan kondisi secara umum diatas dapat diambil kesimpulan sementara
bahwa tingkat pertumbuhan penjualan berpengaruh positif terhadap likuiditas pada
kelima perusahaan (AGII, EKAD, INCI, MDKI, dan ETWA), sehingga hal ini menjadi
fenomena dalam penelitian guna dilakukan pengujian apakah benar kenaikan dan
penurunan tingkat pertumbuhan penjualan tersebut dapat mempengaruhi likuiditas
perusahaan.
Selanjutnya berikut ini data yang menunjukkan perputaran piutang dan likuiditas
dengan rasio lancar pada perusahaan kimia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun
2014-2018:
Pengaruh Tingkat Pertumbuhan Penjualan dan Perputaran Piutang terhadap Likuiditas
Syntax Idea, Vol. 2, No. 12, Desember 2020 1081
Tabel 2
Perhitungan Perputaran Piutang dan Likuiditas
Kode
Emiten
Perputaran Piutang (kali)
Likuiditas (kali)
2014
2015
2016
2017
2018
2014
2015
2016
2017
2018
BRPT
16,39
16,34
18,82
13,41
12,58
1,40
1,11
1,34
1,72
1,75
ETWA
4,07
2,02
2,06
1,19
1,80
0,47
0,63
0,49
0,13
0,02
MDKI
15,04
14,62
24,39
22,39
22,25
1,41
1,42
2,12
4,45
7,02
TPIA
16,60
17,37
20,24
13,93
13,85
1,39
1,10
1,53
2,43
2,05
Sumber: Data Penelitian 2020
Berdasarkan pada tabel 2 dapat dilihat bahwa perputaran piutang pada tiga
perusahaan (BRPT, MDKI, dan TPIA) menunjukkan nilai diatas sepuluh kali setiap
tahunnya yang menjelaskan bahwa ketiga perusahaan tersebut mengalami perputaran
piutang yang cukup cepat di tahun 2014-2018. Karena menurut (Latief, 2018) nilai
perputaran piutang pada umumnya tidak lebih dari sepuluh kali perputaran dalam
setahun, selain itu rasio perputaran piutang juga harus dibandingkan dengan sektor
perusahaan lainnya yang sejenis dan pada periode waktu yang sama.
Sementara itu data likuiditas dari ketiga perusahaan tersebut tahun 2014-2018
yang diukur dengan rasio lancar menghasilkan nilai lebih dari satu kali setiap tahunnya
menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam membayar utang jangka pendeknya
dinilai baik.
Hasil berbeda ditunjukkan oleh ETWA yang menunjukkan data perputaran
piutang setiap tahunnya menunjukkan nilai dibawah sepuluh kali. Nilai ini merupakan
nilai terendah dibanding perusahaan lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa
perputaran piutang pada perusahaan tersebut dinilai kurang baik jika dibandingkan
dengan perusahaan lainnya, Sementara itu perhitungan likuiditas dengan menggunakan
rasio lancar menunjukkan nilai kurang dari satu kali di setiap tahunnya. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam membayar utang jangka pendeknya
dinilai kurang baik.
Berdasarkan kondisi secara umum diatas dapat diambil kesimpulan bahwa
perputaran piutang berpengaruh terhadap likuiditas pada keempat perusahaan (BRPT,
ETWA, MDKI, dan TPIA) sehingga hal ini juga menjadi fenomena dalam penelitian
guna dilakukan pengujian apakah perputaran piutang tersebut benar dapat
mempengaruhi likuiditas perusahaan.
Beberapa penelitian mengenai pengaruh tingkat pertumbuhan penjualan dan
perputaran piutang terhadap likuiditas suatu perusahaan telah dilakukan sebelumnya
dengan hasil yang bervariasi. Sebagai contoh hasil penelitian yang dilakukan oleh
(Rusdiyanto & Rahmi, 2019) menyatakan bahwa pertumbuhan penjualan dan
perputaran piutang tidak berpengaruh terhadap tingkat likuditas, sedangkan hasil
penelitian yang dilakukan oleh (Indrayenti & Natania, 2016) menunjukan bahwa
pertumbuhan penjualan dan perputaran piutang berpengaruh positif signifikan terhadap
likuiditas perusahaan.
Muhamad Dwi Aprian dan Dwi Indah Lestari
1082 Syntax Idea, Vol. 2, No 12, Desember 2020
Gambar 1
Model Penelitian
Sumber: Data Penelitian, 2020
Dari gambar 1 dapat dijelaskan bahwa penelitian ini menguji dua pengaruh
variabel independen yaitu Tingkat Pertumbuhan Penjualan (X
1
), dan Perputaran Piutang
(X
2
) terhadap variabel dependen yaitu Likuditas (Y). Hipotesis merupakan jawaban
sementara yang perlu diuji kebenarannya melalui uji statistik (Sugiyono, 2017).
Menurut (Mayangsari, 2010), perusahaan dengan tingkat pertumbuhan penjualan dan
laba yang tinggi memiliki kecenderungan penggunaan hutang sebagai sumber dana
eksternal yang lebih besar dibandingkan perusahaan dengan tingkat pertumbuhan
penjualan yang rendah. Hutang yang ditimbulkan merupakan salah satu kewajiban yang
harus dipenuhi untuk menjaga keberlangsungan perusahaan. Penjualan menghasilkan
kas atau piutang, sehingga semakin besar pertumbuhan penjualan maka semakin besar
pula aset lancar yang dapat digunakan untuk membiayai kewajiban perusahaan. Hasil
penelitian (Indrayenti & Natania, 2016) menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan
berpengaruh positif signifikan terhadap likuiditas perusahaan. Sedangkan penelitian
lainnya dari (Muharsyah dkk., 2013) menunjukkan bahwa secara simultan tingkat
pertumbuhan penjualan berpengaruh signifikan terhadap tingkat likuiditas perusahaan,
berdasarkan deskripsi tersebut dapat ditarik hipotesis:
H
1
: Tingkat pertumbuhan penjualan berpengaruh positif dan signifikan terhadap
likuiditas.
Selanjutnya perputaran piutang adalah rasio yang digunakan untuk mengukur
berapa lama penagihan piutang selama satu periode atau berapa kali dana yang
diinvestasikan dalam piutang ini berputar dalam satu periode. Menurut (Keown et al.,
2015), piutang merupakan aktiva lancar yang paling likuid setelah kas. Bagi sebagian
perusahaan, piutang merupakan pos yang penting karena merupakan bagian aktiva
lancar perusahaan yang jumlahnya cukup besar. Di dalam menelusuri likuiditas
perusahaan salah satu yang dipelajari adalah kemampuan perusahaan untuk mengubah
piutang usaha dalam periode tertentu dan dengan mengukur berapa kali piutang usaha
berputar dalam setahun atau disebut rasio perputaran piutang. Teori lainnya menurut
(Kasmir, 2018) yang menyatakan bahwa semakin tinggi rasio perputaran piutang
menunjukkan bahwa modal kerja yang diinvestasikan dalam piutang semakin rendah
dan tentu saja kondisi ini bagi perusahaan akan lebih baik. Hal ini berarti semakin tinggi
perputaran piutang maka semakin cepat tagihan yang masuk sehingga perusahaan dapat
mengkonversikan tagihan yang masuk menjadi kas. Kas ini dapat digunakan perusahaan
untuk membiayai kegiatan operasional dan membayar pengeluaran serta seluruh
kewajiban lainnya. Menurut (Tiong, 2017) perputaran piutang dianggap memiliki
hubungan relatif dengan syarat penjualan perusahaan. Perputaran piutang yang tinggi
Tingkat Pertumbuhan
Penjualan
(X
1
)
Likuiditas
(Y)
Perputaran Piutang
(X
2
)
Pengaruh Tingkat Pertumbuhan Penjualan dan Perputaran Piutang terhadap Likuiditas
Syntax Idea, Vol. 2, No. 12, Desember 2020 1083
dapat menyebabkan rasio lancar yang cukup rendah yang dapat diterima dari sudut
pandang likuiditas dan dapat menyebabkan pengembalian atas aktiva yang lebih tinggi.
Hasil penelitian (Indrayenti & Natania, 2016) menunjukkan bahwa perputaran
piutang berpengaruh positif signifikan terhadap likuiditas perusahaan. Peneliti lainnya
yaitu (Saputri dkk., 2018) menunjukkan bahwa perputaran piutang berpengaruh positif
terhadap tingkat likuiditas perusahaan. Selain itu penelitian lainnya dari (Muharsyah
dkk., 2013) menunjukkan bahwa secara simultan dan parsial tingkat perputaran piutang
berpengaruh signifikan terhadap tingkat likuiditas perusahaan, berdasarkan deskripsi
tersebut dapat ditarik hipotesis:
H
2
: Perputaran piutang berpengaruh positif dan signifikan terhadap likuiditas.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan model penelitian kuantitatif deskriptif,
dengan menggunakan rumusan masalah asosiatif yaitu suatu rumusan masalah
penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara 2 variabel atau lebih (Sugiyono,
2017). Pertimbangan menggunakan model penelitian kuantitatif deskriptif karena
variabel yang digunakan dalam penelitian ini baik variabel independen yaitu Tingkat
Pertumbuhan Penjualan (X
1
) dan Perputaran Piutang (X
2
) serta variabel dependen yaitu
Likuiditas (Y) merupakan data berupa angka-angka yang kemudian akan diolah
menggunakan alat bantu statistik.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan kimia yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2018, sedangkan total sampel yang diambil berjumlah
11 perusahaan kimia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2018 yang
dipilih dengan metode purposive sampling, dengan kriteria sebagai berikut:
1. Perusahaan kimia yang terdaftar di BEI pada tahun 2014-2018.
2. Perusahaan kimia yang tidak melakukan IPO pada periode tahun 2014-2018.
3. Perusahaan kimia yang mempublikasikan laporan keuangan akhir tahunnya secara
berturut-turut pada periode tahun 2014-2018.
Data yang diambil merupakan data sekunder berupa laporan keuangan tahunan
yang telat diaudit dan diterbitkan oleh masing-masing perusahaan lewat situs Bursa
Efek Indonesia yang dapat diakses di alamat https://www.idx.co.id. Adapun perumusan
dari regresi linear berganda dari penelitian ini sebagai berikut:
Y = α + β
1
X
1
+ β
2
X
2
+ e (1)
Dimana:
Y : Likuiditas
α : Konstanta, nilai Y apabila variabel X adalah nol
β
1
;
β
2
: Koefisien regresi variabel X
1
dan X
2
X
1
;
X
2
: Tingkat Pertumbuhan Penjualan dan Perputaran Piutang
e : Persentase kesalahan
Muhamad Dwi Aprian dan Dwi Indah Lestari
1084 Syntax Idea, Vol. 2, No 12, Desember 2020
Hasil dan Pembahasan
A. Uji Asumsi Klasik
Yang pertama uji normalitas, adapun hasil pengujian Kolmogorov-Smirnov
(K-S) setelah dilakukan Trimming Data menggunakan SPSS adalah sebagai berikut:
Tabel 3
Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov (K-S) Setelah Trimming (Outlier)
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N
48
Normal Parameters
a,b
Mean
-1,1385917
Std. Deviation
1,40737434
Most Extreme Differences
Absolute
,148
Positive
,148
Negative
-,069
Kolmogorov-Smirnov Z
1,026
Asymp. Sig. (2-tailed)
,243
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Sumber: Data Penelitian 2020
Berdasarkan tabel 3 setelah dilakukan Trimming Data, maka dapat
disimpulkan bahwa nilai signifikansi adalah 0,243 untuk keseluruhan variabel yang
diteliti, hal ini menunjukan nilai signifikansi 0,05 yang berarti data diatas sudah
berdistribusi normal dan dapat dilanjutkan ke pengujian selanjutnya. Selanjutnya uji
multikolinearitas, adapun hasil pengujiannya sebagai berikut:
Tabel 4
Hasil Uji Multikolinearitas
Coefficients
a
Model
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
1
Tingkat Pertumbuhan Penjualan
,949
1,054
Perputaran Piutang
,949
1,054
a. Dependent Variable: Likuiditas
Sumber: Data Penelitian 2020
Berdasarkan tabel 4, nilai VIF untuk kedua variabel independen menunjukkan
nilai 1,054 dan nilai tolerance menunjukkan nilai 0,949. Sehingga dapat diketahui
bahwa kedua variabel independen memiliki nilai VIF < 10 dan nilai tolerance > 0,1.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kedua variabel independen tidak ada
hubungan atau tidak ada masalah Multikolinearitas. Selanjutnya uji
heteroskedastisitas, adapun hasil pengujiannya adalah sebagai berikut:
Pengaruh Tingkat Pertumbuhan Penjualan dan Perputaran Piutang terhadap Likuiditas
Syntax Idea, Vol. 2, No. 12, Desember 2020 1085
Sumber: Data Penelitian, 2020
Gambar 2
Grafik Scatterplot
Berdasarkan gambar 2 grafik scatterplot menunjukkan titik-titik menyebar
secara acak, tidak membentuk pola tertentu yang jelas serta tersebar baik diatas
maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini berarti tidak terjadi
heteroskedastisitas pada model regresi. Selanjutnya uji autokorelasi, untuk
mendeteksi ada tidaknya masalah autokorelasi dilihat dari DW yang diperoleh
dengan melihat tabel Durbin-Watson berikut ini :
Tabel 5
Hasil Uji Autokorelasi Durbin-Watson
Sumber: Data Penelitian 2020
Berdasarkan tabel 5 yang menunjukkan bahwa nilai DW = 1,730. Apabila
dilihat dari tabel DW dengan hasil perbandingan pada tingkat signifikan 5%
diketahui DW dengan jumlah sampel (N) sebanyak 48 dan jumlah variabel
independen (k) sebanyak 2, maka dL sebesar 1,4500 dan dU sebesar 1,6231. Dan
tidak terjadi autokorelasi pada dU < dW < 4 dU. Dalam penelitian ini hasil yang
didapat adalah 1,6231 < 1,730 < 2,3769 sehingga dapat disimpulkan bahwa data
bebas dari autokorelasi.
Model Summary
b
Model
R
R Square
Adjusted R
Square
Std. Error of the
Estimate
Durbin-Watson
1
,464
a
,215
,180
1,42587
1,730
a. Predictors: (Constant), Perputaran Piutang, Tingkat Pertumbuhan Penjualan
b. Dependent Variable: Likuiditas
Muhamad Dwi Aprian dan Dwi Indah Lestari
1086 Syntax Idea, Vol. 2, No 12, Desember 2020
B. Uji Analisis Regresi Linear Berganda
Berikut ini adalah hasil pengujian dari analisis regresi linier berganda yang
dilakukan terhadap dua variabel independen dan satu variabel dependen:
Tabel 6
Hasil Uji Analisis Regresi Linear Berganda
Sumber: Data Penelitian 2020
Berikut persamaan regresi dari hasil uji analisis regresi linier berganda pada
tabel 6 diatas yaitu:
Y = 2,528 + 2,708
X1
+ -0,029
X2
+ e
Adapun penjelasan dari persamaan diatas adalah:
1. Dari hasil uji diatas, diperoleh nilai konstanta sebesar 2,528, yang menyatakan
bahwa ketika Tingkat Pertumbuhan Penjualan dan Perputaran Piutang nilainya
0, maka Likuiditas bernilai sebesar 2,528.
2. Nilai koefisien regresi Tingkat Pertumbuhan Penjualan adalah sebesar 2,708
yang artinya jika variabel independen lain nilainya tetap, dan Tingkat
Pertumbuhan Penjualan ditingkatkan 1% maka Likuiditas akan naik sebanyak
2,708%. Koefisien bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara Tingkat
Pertumbuhan Penjualan dengan Likuiditas, semakin tinggi Tingkat Pertumbuhan
Penjualan maka akan meningkatkan Likuiditas.
3. Nilai koefisien regresi Perputaran Piutang adalah sebesar -0,029 yang artinya
jika variabel independen lainnya tetap, dan Perputaran Piutang ditingkatkan 1%
maka Likuiditas akan naik sebanyak -0,029%. Koefisien bernilai negatif artinya
terdapat hubungan yang negatif antara Perputaran Piutang dengan Likuiditas,
semakin tinggi Perputaran Piutang maka akan menurunkan Likuiditas.
4. e adalah faktor lain selain variabel tingkat pertumbuhan penjualan, perputaran
piutang, dan yang mempengaruhi Y sebagai variabel terikat.
Coefficients
a
Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
t
Sig.
B
Std. Error
Beta
1
(Constant)
2,528
,391
6,473
,000
Tingkat Pertumbuhan
Penjualan
2,708
,771
,476
3,513
,001
Perputaran Piutang
-,029
,037
-,106
-,782
,438
a. Dependent Variable: Likuiditas
Pengaruh Tingkat Pertumbuhan Penjualan dan Perputaran Piutang terhadap Likuiditas
Syntax Idea, Vol. 2, No. 12, Desember 2020 1087
C. Uji Analisis Korelasi
Selanjutnya uji analisis korelasi, adapun hasil pengujiannya sebagai berikut:
Tabel 7 Hasil Uji Analisis Korelasi
Correlations
Tingkat
Pertumbuhan
Penjualan
Perputaran
Piutang
Likuiditas
Tingkat
Pertumbuhan
Penjualan
Pearson Correlation
1
,226
,452
**
Sig. (2-tailed)
,123
,001
N
48
48
48
Perputaran
Piutang
Pearson Correlation
,226
1
,001
Sig. (2-tailed)
,123
,992
N
48
48
48
Likuiditas
Pearson Correlation
,452
**
,001
1
Sig. (2-tailed)
,001
,992
N
48
48
48
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Sumber: Data Penelitian 2020
Berdasarkan tabel 7 menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi Tingkat
Pertumbuhan Penjualan dengan Likuiditas adalah r = 0,452 menunjukan bahwa
tingkat hubungan kedua variabel sedang, karena nilai r berada pada rentang 0,40 -
0,599. Nilai r menunjukan nilai positif artinya apabila terjadi peningkatan pada
Tingkat Pertumbuhan Penjualan, maka akan disertai dengan peningkatan nilai
Likuiditas.
Nilai koefisien korelasi Perputaran Piutang dengan Likuiditas adalah r =
0,001 menunjukan bahwa tingkat hubungan kedua variabel sangat rendah, karena
nilai r berada pada rentang 0,00 - 0,199. Nilai r menunjukan nilai positif artinya
apabila terjadi peningkatan pada Perputaran Piutang, maka akan disertai dengan
peningkatan nilai Likuiditas.
D. Uji Analisis Koefisien Determinasi
Selanjutnya uji analisis koefisien determinasi (uji r-Square) adapun hasil
pengujiannya terdapat pada tabel 5 dan perhitungan sebagai berikut:
KD = r
2
x 100%
KD = (0,464)
2
x 100%
KD = 21,52%
Berdasarkan tabel 5 dan hasil dari perhitungan diatas dapat diketahui bahwa
nilai dari analisis koefisien determinasi adalah sebesar 21,52% atau 22%. Nilai
analisis koefisien determinasi tersebut menandakan bahwa 22% Likuiditas
dipengaruhi oleh Tingkat Pertumbuhan Penjualan dan Perputaran Piutang.
Sedangkan 78% yaitu dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dilakukan
pengamatan oleh peneliti.
Selanjutnya pengujian hipotesis, pengujian yang dilakukan yaitu Uji t yang
dilakukan secara parsial dan Uji F yang dilakukan secara simultan. Nilai t tabel
untuk tingkat kekeliruan 5% dan tingkat kepercayaan 95% dari derajat kebebasan
Muhamad Dwi Aprian dan Dwi Indah Lestari
1088 Syntax Idea, Vol. 2, No 12, Desember 2020
(dk) = n-k-1 = 48-2-1 = 45 maka diperoleh t tabel sebesar 1,67943 dan F tabel
sebesar 3,20.
E. Uji t
Hasil uji statistik t secara parsial pada penelitian ini ditunjukan seperti pada
tabel 6. Berdasarkan tabel 6 dapat dilihat bahwa variabel Tingkat Pertumbuhan
Penjualan dengan nilai t
hitung
sebesar 3,513 > 1,67943 atau t
hitung
> t
tabel
dengan
tingkat signifikansinya 0,001 < 0,05. Dan saat uji korelasi pada tabel 7
menunjukkan nilai koefisien korelasi Tingkat Pertumbuhan Penjualan dengan
Likuiditas adalah r = 0,452 menunjukan bahwa tingkat hubungan kedua variabel
sedang, karena nilai r berada pada rentang 0,40 - 0,599.
Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa H
0
ditolak dan H
a
diterima, artinya
terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara Tingkat Pertumbuhan
Penjualan terhadap Likuiditas. Artinya setiap variabel Tingkat Pertumbuhan
Penjualan meningkat maka akan meningkatkan juga Likuiditas pada perusahaan
kimia yang terdaftar di BEI, dengan itu hipotesis pertama yang diajukan dalam
penelitian ini diterima. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Indrayenti &
Natania, 2016) yang menunjukkan bahwa Tingkat Pertumbuhan Penjualan
berpengaruh positif signifikan terhadap Likuiditas perusahaan.
Akan tetapi, hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang diteliti oleh
(Rusdiyanto & Rahmi, 2019) yang menunjukkan bahwa Tingkat Pertumbuhan
Penjualan tidak berpengaruh terhadap tingkat Likuditas, penelitian lainnya yang
dilakukan oleh (Fulbertus, 2018) menunjukkan bahwa Tingkat Pertumbuhan
Penjualan tidak berpengaruh signifikan terhadap Likuiditas dan memiliki arah yang
positif, penelitian lainnya oleh (Hadi, 2017) yang menunjukkan bahwa Tingkat
Pertumbuhan Penjualan tidak berpengaruh signifikan terhadap Likuiditas. Selain itu
penelitian lainnya oleh (Muharsyah dkk., 2013) menunjukkan bahwa secara parsial
Tingkat Pertumbuhan Penjualan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
Likuiditas dan penelitian yang dilakukan oleh (Agustia et al., 2019) juga
menunjukkan bahwa Tingkat Pertumbuhan Penjualan tidak memiliki pengaruh
terhadap Likuiditas pada PT. Unilever Indonesia Tbk.
Variabel selanjutnya yaitu Perputaran Piutang dengan nilai t
hitung
sebesar -
0,782 < 1,67943 atau t
hitung
< t
tabel
dengan tingkat signifikansinya 0,438 > 0,05. Dan
saat uji korelasi pada tabel 7 menunjukkan nilai koefisien korelasi Perputaran
Piutang dengan Likuiditas adalah r = 0,001 menunjukan bahwa tingkat hubungan
kedua variabel sangat rendah, karena nilai r berada pada rentang 0,00 - 0,199.
Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa H
0
diterima dan H
a
ditolak, artinya
tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara Perputaran Piutang
terhadap Likuiditas. Artinya setiap variabel Perputaran Piutang meningkat hal ini
hanya akan menurunkan nilai Likuiditas pada perusahaan kimia yang terdaftar di
BEI, dengan itu hipotesis alternatif kedua yang diajukan dalam penelitian ini
ditolak.
Pengaruh Tingkat Pertumbuhan Penjualan dan Perputaran Piutang terhadap Likuiditas
Syntax Idea, Vol. 2, No. 12, Desember 2020 1089
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Rusdiyanto & Rahmi, 2019)
yang menunjukkan bahwa Perputaran Piutang tidak berpengaruh terhadap tingkat
Likuiditas, penelitian lainnya oleh (Fulbertus, 2018) yang menunjukkan bahwa
Perputaran Piutang tidak berpengaruh signifikan terhadap Likuiditas dan memiliki
arah yang positif sedangkan penelitian lainnya oleh (Hadi, 2017) juga menunjukkan
bahwa Perputaran Piutang tidak berpengaruh signifikan terhadap Likuiditas. Selain
itu penelitian lainnya yang dilakukan (Gaol, 2015) juga menunjukkan bahwa
Perputaran Piutang tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Likuiditas
perusahaan, penelitian lainnya oleh (Agustia et al., 2019) yang menunjukkan bahwa
Perputaran Piutang tidak memiliki pengaruh terhadap Likuiditas pada PT. Unilever
Indonesia Tbk.
Akan tetapi, hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang diteliti oleh (Saputri
dkk., 2018) yang menunjukkan bahwa Perputaran Piutang berpengaruh positif dan
tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat Likuiditas perusahaan.
Penelitian lainnya dari (Indrayenti & Natania, 2016) juga menunjukkan bahwa
Perputaran Piutang berpengaruh positif signifikan terhadap Likuiditas perusahaan.
Serta penelitian lainnya (Muharsyah dkk., 2013) menunjukkan bahwa secara parsial
Perputaran Piutang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Likuiditas
perusahaan.
F. Uji F
Selanjutnya uji statistik F digunakan untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara bersama - sama.
Hasil uji statistik F secara simultan pada penelitian ini ditunjukan seperti pada tabel
berikut:
Tabel 8
Hasil Uji Statistik F
ANOVA
a
Model
Sum of Squares
df
Mean Square
F
Sig.
1
Regression
25,089
2
12,544
6,170
,004
b
Residual
91,489
45
2,033
Total
116,578
47
a. Dependent Variable: Likuiditas
b. Predictors: (Constant), Perputaran Piutang, Tingkat Pertumbuhan Penjualan
Sumber: Data Penelitian 2020
Berdasarkan hasil pengolahan data pada tabel 8 dapat dilihat bahwa nilai
F
hitung
sebesar 6,170 > 3,20 atau F
hitung
> F
tabel
dengan tingkat signifikansinya 0,004
< 0,05. Dan saat uji koefisien determinasi pada tabel 9 menunjukkan nilai koefisien
determinasi adalah sebesar 21,52% atau 22%. Nilai analisis koefisien determinasi
tersebut menandakan bahwa 22% Likuiditas dipengaruhi oleh Tingkat Pertumbuhan
Penjualan dan Perputaran Piutang. Sedangkan 78% yaitu dipengaruhi oleh variabel
lain.
Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa H
0
ditolak dan H
a
diterima, artinya
terdapat pengaruh yang positif dan signifikan secara simultan antara tingkat
Muhamad Dwi Aprian dan Dwi Indah Lestari
1090 Syntax Idea, Vol. 2, No 12, Desember 2020
pertumbuhan penjualan dan perputaran piutang terhadap likuiditas. Hal ini berarti
perusahaan memandang bahwa tingkat pertumbuhan penjualan dan perputaran
piutang penting dan perlu untuk dapat meningkatkan suatu likuiditas terutama pada
perusahaan kimia yang dijadikan sebagai objek dan sampel dalam penelitian ini.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian dari (Muharsyah dkk., 2013)
yang menunjukkan bahwa secara simultan Tingkat Pertumbuhan Penjualan dan
Perputaran Piutang berpengaruh signifikan terhadap tingkat Likuiditas perusahaan.
Kesimpulan
Tingkat Pertumbuhan Penjualan pada mayoritas perusahaan kimia mengalami
fluktuasi. Tetapi nilai rata-rata keseluruhan tingkat pertumbuhan penjualan yang
diperoleh kesebelas perusahaan kimia hanya bertumbuh sebesar 3,98 persen, hal ini
terjadi karena terdapat satu perusahaan (ETWA) yang mengalami penurunan penjualan
cukup signifikan setiap tahunnya.
Perputaran Piutang pada perusahaan kimia juga berfluktuasi, dengan nilai rata-rata
keseluruhan perputaran piutang yang diperoleh kesebelas perusahaan kimia sebesar 9,06
kali, nilai tersebut menunjukkan bahwa mayoritas perputaran piutang pada perusahaan
kimia dinilai baik.
Likuiditas pada mayoritas perusahaan kimia mengalami fluktuasi, dengan nilai
rata-rata keseluruhan likuiditas yang diperoleh kesebelas perusahaan kimia sebesar 3,51
kali, nilai tersebut menunjukkan bahwa mayoritas likuiditas pada perusahaan kimia
dinilai baik. Selanjutnya kepada pihak perusahaan perlu memperhatikan tingkat
pertumbuhan penjualannya karena tingkat pertumbuhan penjualan yang terjadi akan
sangat mempengaruhi likuiditas perusahaan. Bagi pihak investor harus lebih cermat
dalam menilai keadaan atau kondisi sesungguhnya perusahaan sebelum memutuskan
untuk menanamkan modal pada perusahaan tersebut. Bagi peneliti selanjutnya
diharapkan menambahkan variabel independen lainnya yang mampu menjelaskan
variabel dependen, lalu diharapkan menggunakan objek penelitian selain perusahaan
kimia, karena masih banyak jenis perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia,
lalu dalam pengukuran likuiditas dapat diukur menggunakan rasio lain selain rasio
lancar, seperti rasio cepat dan rasio kas, dan disarankan untuk menambah periode
pengamatan lebih dari 5 tahun, karena penelitian ini menggunakan sampel yang
tergolong kecil dan waktu penelitian yang terbatas.
Pengaruh Tingkat Pertumbuhan Penjualan dan Perputaran Piutang terhadap Likuiditas
Syntax Idea, Vol. 2, No. 12, Desember 2020 1091
BIBLIOGRAFI
Agustia, D., dkk. (2019). Effects of Sales, Receivables Turnover, and Cash Flow on
Liquidity. (2).
Fauzia, R. N. (2015). Bagaimanakah Cara Menilai Likuiditas Keuangan Suatu
Perusahaan dengan Menggunakan Rasio Likuditas. Diakses pada 7 Maret 2020
pukul19:31, dari https://www.kompasiana.com/raissanf/5641087efd22bd480aed93
af/bagaimanakah-cara-menilai-likuiditas-keuangan-suatu-perusahaan-dengan-
menggunakan-rasio-likuditas?page=all
Fulbertus, Y. L. (2018). Pengaruh Perputaran Persediaan, Pertumbuhan Penjualan dan
Perputaran Piutang terhadap Likuiditas Perusahaan. Journal of Chemical
Information and Modeling, 53(9), 16891699.
Gaol, R. L. (2015). Pengaruh Perputaran Persediaan, Perputaran Piutang dan
Pertumbuhan Penjualan terhadap Likuiditas pada Perusahaan Industri Barang
Konsumsi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Akuntansi, 1(2), 181202.
Hadi, T. S. (2017). Pengaruh Tingkat Pertumbuhan Penjualan, Perputaran Piutang, dan
Modal Kerja terhadap Likuiditas Perusahaan (Studi Pada Perusahaan Otomotif dan
Komponennya yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2010-2015).
Jurnal Akuntansi Universitas Muria Kudus.
Indrayenti, I., & Natania, S. (2016). Pengaruh Tingkat Pertumbuhan Penjualan dan
Perputaran Piutang terhadap Likuiditas Perusahaan pada Perusahaan Manufaktur
yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2014. Jurnal Akuntansi &
Keuangan, 7(2), 155-167.
Kasmir, K. (2018). Analisis Laporan Keuangan (Cetakan 11). Jakarta: RajaGrafindo
Persada.
Keown, A. J., et al. (2015). Manajemen Keuangan (Edisi 10). Indeks.
Latief, Z. (2018a). Rasio Likuiditas-Jenis, Pengertian, Contoh Soal, Rumus dan Analisis
Liquidity Ratios. Diakses pada 7 Maret 2020 pukul 19.44, dari
https://analis.co.id/rasio-likuiditas.html
Latief, Z. (2018b). Receivable Turnover-Contoh Soal & Rumus Rasio Perputaran
Piutang yang Baik Menurut Para Ahli Saham. Diakses pada 7 Maret 2020 pukul
19.49, dari https://analis.co.id/receivable-turnover.html
Mayangsari, S. (2010). Analisa Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan
Pendanaan Perusahaan. Media Riset Akuntansi, Auditing Dan Informasi, Vol. 1,
pp. 126.
Muharsyah, R., dkk. (2013). Pengaruh Tingkat Pertumbuhan Penjualan dan Perputaran
Muhamad Dwi Aprian dan Dwi Indah Lestari
1092 Syntax Idea, Vol. 2, No 12, Desember 2020
Piutang Terhadap Likuiditas Perusahaan pada Perusahaan Otomotif dan
Komponennya yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Akuntansi STIE
MDP, 19.
Rusdiyanto, R., & Rahmi, S. D. (2019). Pengaruh Penjualan, Perputaran Piutang, dan
Arus Kas terhadap Likuiditas pada PT Unilever Indonesia Tbk. Jurnal Fakultas
Ekonomi. 8(2), 175193.
Saputri, A. R., dkk. (2018). Analisis Perputaran Piutang dan Perputaran Kas terhadap
Tingkat Likuiditas Perusahaan dengan Tingkat Pertumbuhan Penjualan sebagai
Variabel Moderating. Journal Of Accounting, 3(13), 115.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: CV
Alfabeta.
Tiong, P. (2017). Pengaruh Perputaran Piutang terhadap Profitabilitas pada Perusahaan
PT Mitra Phinastika Mustika Tbk. Journal of Management & Business, 1(1), 122.